Bacalah! (Sebuah Provokasi)

Judul                       : Bacalah!
Penulis                   : Suherman, M.Si.
Penerbit                  : MQS Publishing
Jumlah halaman : 154
Kategori                  : Non-Fiksi
Tahun Terbit         : 2010
Harga                      : Rp 30.000,-

bacalah suherman MSi

Terhitung sudah dua kali aku membaca buku ini. Kalimat pengantar buku ini menarik. Iqra! Read! Lesen! Lire! Letto! Yomu! Ilg-gi! Chitat’! adalah kata yang dalam bahasa Indonesia diucapkan dengan kata Bacalah! Demikian bunyinya.

Selanjutnya, provokasi dimulai. Dikatakan bahwa perintah pertama dari agama Islam adalah perintah membaca. Provokasi berlanjut dengan pengungkapan fakta. Bahwa perintah ini dijalani dengan baik oleh setiap umat Muslim pada masa-masa awal kemunculannya, sehingga mengantarkan umat Islam pada masa penuh kejayaan. Namun, perintah ini semakin ditinggalkan oleh penganutnya di masa sekarang, sehingga kata kebodohan, keterpurukan, kemiskinan, dan keterbelakangan sering disematkan pada negara-negara Islam.

Masih ada banyak lagi provokasi-provokasi yang dilontarkan penulis dalam buku terbitan MQS Publishing ini. Termasuk, beliau menyertakan tulisan-tulisan para tokoh pendidikan dan kebudayaan negeri ini. Sebut saja Taufik Ismail, siapa yang tidak mengenal sastrawan yang satu ini. Lewat artikelnya tentang tragedi nol buku, Taufik Ismail menyadarkan pembacanya betapa negeri ini telah jauh meninggalkan budaya peradaban tinggi yaitu budaya membaca.

Penulis buku ini juga memberikan provokasi melalui sajian profil para mahaguru peradaban. Nama-nama seperti Karl Marx, Imam Khomeini, Mahatma Gandhi, Hassan al-Banna, Barrack Obama, Mohammad Hatta, dan Tan Malaka ditegaskan sebagai orang-orang yang memiliki antusias tinggi dalam hal membaca. Kebiasaan membaca telah menjadikan mereka orang-orang besar yang akan selalu dikenang jaman. Terlepas dari apapun ideologi mereka, mereka adalah para ulama dan cendekiawan pembangun peradaban.

Demi memprovokasi pembacanya untuk gemar membaca, penulis melengkapi tulisannya dengan beberapa cara meningkatkan minat baca. Penulis buku ini–saya juga–berharap semangat para mahaguru yang konsisten membaca setiap hari tidak berhenti seiring kepergian mereka ke alam baka. Siapapun dan di manapun kita berada, semoga tidak meninggalkan tradisi para mahaguru. Sebuah tradisi yang mencerminkan peradaban tinggi, tradisi membaca. Maka, Bacalah!
(hae)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s