Ninda

Ketika semua orang pergi satu per satu. Ketika semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ketika tak ada lagi yang tersisa kecuali dirimu. Diam-diam ada satu orang yang selalu peduli padamu.

Meskipun jaraknya denganmu begitu jauh. Meskipun dia tidak berada dalam ruang yang sama denganmu. Meskipun waktu yang dia dan kau lalui juga berbeda. Namun hatinya bertaut padamu.

Dia tidak ada ikatan keluarga denganmu. Darah yang mengalir di nadinya tidak seperti darah yang mengalir di nadimu. Ia juga bukan kekasih hatimu. Hatimu tidak akan berdebar-debar jika berada di dekatnya. Namun kau selalu merasa nyaman jika sedang bersama dirinya.

Kau dapat menceritakan seluruh kisahmu kepadanya. Kau dapat melakukan apapun dengannya. Kau dapat menghabiskan waktumu seharian dengannya. Bersamanya, kau tidak lagi merasa sendiri, maupun kesepian.

Dia adalah sepotong jiwa yang mengaku bernama sahabat. Dia mengenalmu dan engkau pun mengenalnya. Mungkin dia memang datang paling akhir di antara teman-temanmu yang lain. Tetapi dia tidak pernah meninggalkanmu. Bahkan di saat kau tidak lagi berada dalam satu ruang dan waktu dengannya, jiwanya tetap menemanimu melalui pilinan doa-doanya.

Bagiku, sahabat itu bergelar Ninda. Tidak ada orang lain yang menggantikan tempatnya semenjak pertama kami bertemu delapan tahun yang lalu. Memang sahabat tidak selayaknya kau geser-geser tempatnya. Namun, engkau seharusnya memperbesar ruang untuk mereka.

Ninda ini tidak istimewa, bagi kebanyakan orang. Dia tidak menjadi bintang kelas. Dia tidak memenangkan perlombaan apapun. Dia tidak populer di kalangan kaum adam. Dia tidak, ah sudahlah. Namun, dia yang ‘sedang-sedang saja’ ini adalah orang yang istimewa bagiku.

Sama halnya dengan hubungan yang lain, sahabat tidak memerlukan kriteria apapun. Kau tidak perlu orang yang ber-IQ tinggi atau orang yang populer untuk menjadi sahabatmu. Cukup satu hal saja. Orang itu mau menyalakan kembali sinarmu ketika meredup. Dalam kasus yang kualami, Ninda adalah orang yang memenuhi satu kriteria sederhana itu.

Lebih dari sekedar sahabat, dia juga saudara. Agama kami mengajarkan bahwa sesama pemeluknya adalah bersaudara. Inilah yang kami sebut dengan saudara seiman. Kami meyakini satu Tuhan yang sama. Kami meyakini Rasul-Rasul yang sama, mulai dari Adam hingga Muhammad. Kami membaca kitab yang sama. Kami menuju rumah yang sama, rumah surga. Agama kami, agama Islam. (hae)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s