Mukena dan Sarung Usang

Dulu, aku sering mendengar ibu mengomentari perilaku aneh kakak. Kebiasaan aneh ini selalu berulang setiap kakak pulang dari perantauan. Kakak selalu memakai sarung yang itu-itu saja ketika sholat. Padahal,ada banyak sarung lain yang jauh lebih bagus dan lebih baru daripada yang sering ia pakai. Saat itu aku pun tidak mengerti mengapa kakak selalu memakai sarung yang sama setiap kali sholat.

Usang, sudah jelas. Kotak-kotak, iya. Tidak ada ornamen lucu macam sarung anak-anak jaman sekarang, tentu. Sarungnya sangat standart. Warnanya hijau. Bentuknya tradisional, ya lurus-lurus begitu saja. Lagipula mana ada sarung bentuknya kelok-kelok?! Namun entah mengapa, kakak gemar sekali memakainya.

Hingga suatu hari, jauh dari rasa penasaranku waktu itu, aku menemukan jawabannya. Sudah sekian tahun berlalu, bahkan ibu sudah tiada. Saat itu sore hari. Kakak memakai sarung usangnya kembali. Kami duduk di kursi yang juga sama usangnya dengan sarung kakak. Aku tidak tahan untuk tidak berkomentar.

“Sarungnya kok dipakai? Itu kan sekarang jadi alas setrika!”

“Nah, lubang di sarung ini ulahmu ‘kan?!”

Aku tertawa lalu berkata, “Lubang kecil aja ribut. Nah itu sudah tahu sarungnya berlubang, kenapa masih dipakai?”

Bukannya menjawab pertanyaan yang kuutarakan, kakak malah tersenyum santai. Justru suara gemerisik daun pepohonan Jati di belakang rumah yang kudengar. Juga terdengar suara anak-anak yang bermain di halaman mushola samping rumah.

“Sarung ini sudah usang!”

Aku sudah tahu! Geramku dalam hati. Aku hanya memasang tampang datar. Enggan bertanya lagi.

“Dulu ibu yang membelikannya!”

Nyess. Macam tersiram air, hawa panas sore itu menghilang seketika saat aku mendengar kalimat yang diucapkan kakak. Kemudian aku teringat dengan mukena putih milikku. Mukena itu bertengger manis di atas gantungan di tempat sholat. Usianya mungkin sama tuanya dengan sarung kakak. Mukena itu juga sudah mulai usang.

Dulu, aku hanya memakainya saat hari raya saja. Kini aku sering menggunakannya untuk beribadah. Bukan hanya karena nyaman dipakai, tetapi karena mukena itu memiliki sejarah. Sama seperti sarung kakak, mukena itu juga dibeli oleh ibu.

Ketika mukena warna-warni bertebaran di pasar. Ketika mukena berbagai bentuk turut menjadi trend fashion. Ketika tali mukena putihku telah kedodoran. Ketika itu, aku tidak tergiur membeli mukena baru. Cukup satu mukena putih itu saja bagiku. Bukan berarti aku tidak punya mukena lain. Mukena yang lain biasanya hanya kugunakan saat bepergian  atau ketika mukena putih itu sedang dicuci.

Mendadak, aku tahu betul apa yang dirasakan kakak terhadap sarung usangnya. Sebab aku pun mengalaminya. Keduanya dibeli oleh orang yang sama. Keduanya mengajak kami bernostalgia dengan orang yang sama. Keduanya adalah sejarah. Benda usang dapat bernilai tinggi di mata seseorang jika benda itu memiliki sejarah. Terutama, jika benda itu berkaitan erat dengan ibumu. 😉

(hae)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s