Nanaguci

 

Awal bertemu dengannya, biasa saja. Tampak tidak ada yang menarik darinya, sehingga orang-orang tidak memujanya seperti Sang Dewi. Pun juga tampaknya tidak ada cacat yang berlebihan padanya, sehingga orang-orang tidak sibuk membicarakan aibnya. Tetapi justru itulah yang membuat orang lain tidak sungkan bicara dengannya. Ia tidak terlalu rendah sehingga tidak gampang diinjak. Ia tidak terlalu tinggi sehingga tidak sulit digapai.

Sungguh aku merasa tidak ada yang istimewa darinya. Tetapi, dari hari ke hari, justru semakin banyak kawan yang ia punya. Kamar kosnya tak pernah sepi oleh kunjungan. Ponselnya juga tak pernah sepi dari SMS. Bukan SMS kepanitiaan yang akan menghubungimu saat memerlukan tenaga bantuan dan melupakanmu saat acara usai. Tetapi SMS itu berasal dari kawan-kawan dan orangtuanya!

Aku juga tak pernah mendapatinya bermuka masam. Selalu tersenyum dan bahagia. Berbeda denganku yang selalu kecut menghadapi berbagai persoalan hidup. Ia adalah anak tunggal yang jauh dari kata manja. Ia adalah gadis baik-baik yang berasal dari keluarga baik-baik. Jika kau pikir di dunia ini hal seperti hanya ada di sinetron, salah! Orang seperti itu nyata ada.

Aku tidak tahu magnet apa yang membuat orang-orang suka berkawan dengannya. Aku sendiri pun tak tahu, mengapa aku berakhir akrab dengannya. Mungkin sebagian orang akan bilang, ia tipe orang yang nyaman diajak bicara. Mungkin sebagian orang akan berkata bahwa ia anak yang rajin, ia tidak pelit meminjamkan buku, ia tidak pelit memberikan kertas fotokopian, yang intinya ia mampu meningkatkan IPK-mu! Tetapi tidak. Menurutku lebih dari itu. Hanya saja ketika itu aku belum tahu apa yang menjadikannya ‘lebih’.

Ia memiliki mata kiri yang lebih sipit daripada mata kanannya. Aku baru menyadari hal itu setelah jauh mengenalnya, ketika berbilang tahun sudah berlalu. Padahal aku termasuk orang awal yang mengenal dirinya daripada kawan-kawan yang lain. Kami berdua adalah rekan satu kelompok pada masa ospek.

Cino! Begitu kata kawan-kawan. Mata yang sipit. Kulit yang putih. Identik dengan keturunan orang Cina. Bukan hanya itu, mereka juga suka menggodanya sebagai anak pungut. Sebabnya, ia memiliki golongan darah yang berbeda dengan kedua orangtuanya. Terlebih, menurut ceritanya ia lahir di Rumah Sakit, bukan di rumah Bidan. Seakan hal itu menguatkan hipotesis mereka bahwa ia memang orang Cina.

Namun, ia tak pernah marah meskipun digoda sedemikian rupa. Ia hanya tersenyum dan wajah putihnya bersemu merah. Sungguh, aku tidak pernah melihatnya marah atau sedih kecuali sesekali saja. Bisa dihitung jari kondisi-kondisi macam itu tampak di wajahnya. Kawan-kawan yang lain pun juga jarang mendapatinya marah atau sedih.

Lalu suatu hari aku berbincang dengan salah seorang kawan. Entah bagaimana mulanya, akhirnya pikiran kami bermuara pada satu kesimpulan bahwa siapapun yang mengenalnya akan merasa sebagai sahabat karibnya. Dulu aku pernah patah hati mengetahui fakta ini. Kupikir akulah satu-satunya orang yang dekat dengannya. Rupanya, kawan-kawan yang lain juga dekat dengannya. Sementara aku tidak begitu dekat dengan kawan-kawan yang lain. Terlebih ia suka mengajak kawan-kawannya main ke rumahnya di Purworejo sana. Aku pun pernah ke sana. Bahkan lebih dari satu kali.

Di antara kawan-kawan yang lain, ia memiliki banyak nama panggilan. Mulai dari Nanaguci. Lalu dipanggil Guguc yang diambil dari Nanaguci, kadang dipelesetkan menjadi Guguc Depan – Guguc Belakang yang diambil dari Gugus Depan Pramuka. Kemudian dipersingkat menjadi Guc. Masih berubah lagi menjadi Mimin yang entah didapat dari mana. Hingga akhirnya dipanggil En en dan menyisakan En saja, huruf awal namanya.

Nama pemberian orangtuanya adalah Destiana. Orang rumah biasa memanggilnya Nana. Kehadirannya mengingatkanku pada sosok Rasulullah SAW. Tidak, aku tidak hendak mengkultuskannya. Meskipun baik, manusia manapun tentu tidak dapat disandingkan dengan Nabi Akhir Zaman yang sempurna.

Aku hanya teringat dengan salah satu sifat Rasul yang agaknya setengah sifat itu dimiliki Nana. Rasul akrab dengan siapapun. Siapapun juga akrab dengan Rasul. Dulu, aku tidak mengerti makna sebuah kalimat dalam buku Sirah Nabawiyah yang menyebutkan bahwa setiap orang yang berada di dekat Rasul akan merasa menjadi sahabat karibnya. Kini, aku mengerti maksud kalimat itu. Sebab aku telah bertemu dan kenal baik dengan Nana.

(hae)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s