Lia

Agak lupa bagaimana dulu aku berkenalan dengannya. Memang sama-sama kuliah di kampus yang sama, tetapi kami mempelajari hal yang berbeda. Seingatku, satu hal yang membuat kami dekat. Jepang!

Agaknya, inilah kami, para korban perang budaya antar negara. Identitas Indonesia kami tidak terlalu merasuk ke dalam jiwa. Jadilah kami tergila-gila pada dorama Jepang, pada sakura, pada musik-musik J-Pop. Ah, tak apa. Kami masih hafal Pancasila.

Kegemaran kami pada dunia literasi juga banyak turut andil dalam jalinan persahabatan ini. Kami semakin didekatkan lagi oleh lembaga keislaman di kampus. Rapat, rapat lagi, dan rapat lagi. Jadi, yang sebenarnya menyatukan kami adalah rapat. Sesekali, kami pergi bersama ke acara bookfair atau toko buku. Sekedar cuci mata dari penat ketika rapat.

Ternyata, agenda rapat jua lah yang membuat kami dijauhkan. Mungkin, aku saja yang tidak sanggup menerima kritikan. Mungkin, aku saja yang tidak sedia menerima nasihat. Mungkin, aku saja yang tidak profesional menjalankan amanah. Akulah yang menjauh darinya. Akulah yang lari dari kenyataan. Lalu tenggelam dalam gelap.

Butuh waktu lama bagiku, untuk memulai berdialog lagi dengannya. Sudah jelas aku tidak ingin bicara tentang lembaga dengannya. Aku pun tidak lagi segila dulu terhadap Jepang. Seakan tidak ada lagi bahan yang dapat kujadikan tema pembicaraan. Ketika itu, pembicaraan kami hanya sebatas saling sapa saja.

Suatu ketika aku sadar. Aku memang menjauhinya, tetapi ternyata aku sama sekali tidak membencinya. Ia masih selalu mengingatkanku. Ia masih rajin menasihatiku. Entah bagaimana, lama-lama aku terbiasa dengan nasihatnya. Nasihat yang selalu ditujukan tepat ke jantung. Memang benar kata pepatah, ala bisa karena biasa. Mungkin dulu, harusnya aku tidak lari. Sebab penderitaan akibat dicecar olehnya itu ternyata hanya sementara.

Dia adalah salah satu orang yang membuatku bertahan di jalan pena. Aku ingat, dulu pernah mendaftar sebuah komunitas penulis bersama dengannya. Namun, hanya aku yang beruntung terdaftar sebagai anggota komunitas penulis tersebut. Ironisnya, aku tak lebih giat menulis meskipun telah lama berkecimpung dalam komunitas penulis. Adapun dia, justru lebih giat menulis daripada aku.

Kehadirannya seperti dering alarm. Membangunkan siapapun dari keterlenaannya. Ia tidak akan sungkan untuk memberi saran dan kritik kepada kawan-kawannya yang berbuat salah. Jika engkau punya kawan semacam dia, syukurilah. Mungkin awalnya ia memang mengganggu. Tetapi seiring berjalan waktu, kau akan tahu bahwa ia sangat membantu. Bukankah memang demikian tugas sahabat?! Mengingatkan kala kita lupa dan salah. Ada masa aku malas menulis, malas membaca, malas berkarya. Lalu dia datang mengusir kemalasan itu. Bagiku, kawan seperti itu bernama Lia.

(hae)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s