Saudara Sedarah

Di negeri ini, ada ribuan bahkan mungkin jutaan orang yang memiliki nama sama dengannya. Biasanya, mereka adalah anak pertama di keluarganya. Begitu pula dengannnya. Ia adalah anak pertama di keluarga kami.

Saat kecil, aku tidak akrab dengannya. Aku cemburu karena menurutku ibu lebih sayang padanya. Memang, dalam banyak hal ia selalu mengalah padaku. Tetapi, entah kenapa aku tetap saja cemburu padanya. Lagipula, ia tak pernah mengajakku bicara atau bermain. Sungguh, aku tidak punya banyak memori tentangnya semasa kecil.

Aku hanya ingat, ia duduk di bangku kelas 3 SMA ketika aku duduk di bangku kelas 3 SD. Aku hanya ingat, ia pernah menungguiku lomba agustusan di depan mushola dekat rumah. Ketika itu aku mengikuti lomba ‘memilih kedelai hitam di antara kedelai hijau’. Selebihnya, aku amnesia.

Tahu-tahu, ia sudah pergi. Merantau ke ibukota. Pada hari kepergiannya, aku bermimpi aneh. Kulihat, ia pergi menggunakan ‘semacam pesawat’. Masih dengan baju rumahannya, ia terbang dari beranda rumah. Aku menatap nanar padanya. Ada perasaan sedih ketika melihat ia pergi, meskipun dalam keseharian aku benar-benar tidak akrab dengannya. Heran, aku masih saja ingat dengan mimpi itu hingga saat ini.

Saat itu aku tidak tahu bahwa kepergiannya adalah jembatan bagi jurang yang memisahkan tebing kami masing-masing. Awalnya, aku malas ketika ibu menyuruhku mengirim surat untuknya. Hei, surat! Benar, aku beruntung masih sempat merasakan sensasi berkirim surat. Sesuatu yang di era ini menjadi hal asing. Hampir semua orang di masa ini cukup menatap layar ponsel mereka saja untuk dapat berkomunikasi dengan rekan-rekannya.

Daripada kena marah, kuturuti saja perintah ibu. Aku menulis surat untuknya. Jika bingung dengan apa yang hendak kusampaikan padanya, biasanya ibu menyarankan ini dan itu untuk kutulis. Sebenarnya, kebanyakan isi suratku adalah sebuah perampokan. Aku meminta tas sekolah padanya. Juga jaket, buku, dan makanan. Oh, betapa jahatnya adik ini pada kakaknya.

Ia tak pernah protes dan menuruti semua permintaanku. Entah karena memang ia sayang padaku atau karena alasan yang sama denganku, tak mau dimarahi ibu. Aku curiga, alasan pertamalah yang benar. Sebab, aku tak pernah melihatnya dimarahi ibu. Hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Darinya, aku selalu mendapatkan banyak hal. Sepanjang yang aku ingat, ia selalu memberi ini dan itu kepadaku. Bahkan ketika tidak kuminta. Terutama buku. Ia sering pulang membawa segepok buku. Ada majalah, ada novel, ada kamus, ada pula cerita anak. Di antara semua jenis buku yang ia bawa, aku paling tertarik dengan novel-novelnya. Inilah cikal bakal tumbuhnya rasa cintaku pada dunia literasi. Aku tenggelam dalam genangan buku. Aku masuk ke dalam kisah-kisah imaji yang kukarang sendiri.

Hingga saat ini pun, ia masih saja memberikan banyak hal kepadaku. Melalui obrolan-obrolan ringan dengannya, aku menimba banyak pengetahuan. Bahkan, ia memberiku tiga keponakan! Kurang baik apa lagi dia?! Rumahku yang sepi penghuni, selalu berubah semarak ketika mereka bertiga datang.

Dia adalah kakak nomor satu di dunia. Dia adalah saudara sedarah satu-satunya yang kupunya. Lebih dari sekedar kakak, ia adalah guru, sekaligus sahabat bagiku. Ayah dan ibu memberinya nama Eko Nurdianto.

(hae)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s