Mua

Sungguh, kesan pertamaku tentangnya sangat buruk. Niat berteman dengannya saja tidak terlintas dalam benakku. Selain penampilannya yang tabrak lari, ia juga berlebihan dalam bicara. Bukan hanya ‘lebih’ dalam arti lebay, tetapi juga ‘lebih’ dalam arti bahwa ia memang banyak sekali bicara. Masih ditambah pula dengan ekspresinya yang juga berlebihan.

Ia sama sekali tidak cocok berteman denganku. Demikian pikirku saat itu. Namun, semua berubah. Bukan karena negara api menyerang. Tetapi karena memang perubahan adalah sebuah keniscayaan. Bukankah satu-satunya hal yang tidak berubah di dunia ini adalah perubahan itu sendiri?!

Seiring berjalannya waktu, aku tahu sifat berlebihannya bukanlah sesuatu yang ia buat-buat. Sifat itulah yang menjadi ciri khasnya. Selamanya, sifat itu akan melekat pada dirinya. Banyak bicara, banyak cerita, banyak tertawa, dan bahagia. Selalu menyenangkan berbincang dengannya. Meskipun aku hanya menjadi pendengarnya saja.

Melalui banyak ceritanya, aku selalu menangkap hikmah. Hampir semua ceritanya memang terasa seperti sebuah keluhan pada awalnya. Namun, saat tiba di akhir cerita ia selalu mampu menyikapi masalahnya dengan bijak. Hal yang belum tentu bisa kulakukan ketika menghadapi setiap persoalan hidup.

Satu contoh misalnya, tentang pergaulannya dengan teman-teman kost. Pasalnya, beberapa dari teman-teman kost-nya ada yang sering sekali menitip beli ini itu. Mulai dari beli sarapan, makan malam, jus buah, es teh, dan sejumlah makanan lain. Satu dua kali, ia masih bisa terima. Tetapi berkali-kali ia menerima permintaan yang sama dari mereka.

Sebenarnya tidak masalah jika ia memiliki persediaan uang yang cukup hingga akhir bulan. Masalahnya—seperti  kebanyakan anak kost lainnya—tidak tentu isi dompetnya bertahan kuat hingga detik-detik penghabisan bulan. Menurut ceritanya, ia bahkan pernah mengorbankan sisa uangnya untuk memenuhi permintaan teman kost-nya. Sedang ia sendiri, kelaparan.

Bukannya ia tidak mau protes. Tetapi memang teman kost-nya terkadang tidak sadar diri. Terlebih, dalam lubuk hatinya, ia merasa bahwa segala apa yang ia terima pada hari-hari ini adalah buah dari tindakan-tindakannya di masa lalu.

Sebelum menjadi anak kost, ia tinggal bersama kakaknya di sebuah kontrakan. Ia tidak cukup berbakti kepada kakaknya. Dulu, ia tidak perlu pusing memikirkan menu makan apa pagi ini, siang ini, malam ini. Sebab, semua sudah diurus oleh kakaknya. Bahkan, tidak jarang ia mengomel pada kakaknya jika menu makan tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Namun, sang kakak tetap mengurusnya dengan baik tanpa banyak protes. Meski memang, perkelahian antara kakak-adik pasti pernah terjadi di antara mereka. Tetapi hal ini menjadi hal yang sangat wajar dalam hubungan keluarga macam itu.

Ia kemudian beranggapan bahwa perlakuan teman-teman kost yang kini ia terima, tidak lain adalah balasan Tuhan atas apa yang dulu ia lakukan pada kakaknya. Ia kini tahu apa yang dulu dirasakan oleh kakaknya. Bukan karma. Tetapi, semacam penebus dosa. Bukankah jika Tuhan sayang padamu, maka ia akan segera menghapuskan dosamu di dunia? Supaya kelak di akhirat, habis sudah dosa-dosa yang melekat padamu dan surga akhirnya bagimu.

Di atas semua itu, ia juga orang yang cerdas luar biasa. Tanpa belajar, nilainya sudah melebihi rata-rata. Ia fasih berbahasa Arab. Dan aku paling suka membaca teks terjemahannya. Begitu mengalir, begitu mudah dipahami. Seperti sedang membaca teks berbahasa Indonesia, bukan teks terjemahan. Bahkan, ia juga banyak membantuku dalam proses pengerjaan skripsi. Begitu pula dengan teman-teman yang lain, sebelum menghadap dosen pembimbing, meminta bimbingannya terlebih dahulu.

Namun, aku menyayangkan dirinya yang sering tidak memanfaatkan kelebihannya dengan baik. Jika mau, ia pasti sudah menjadi penerjemah ulung. Meski demikian, mengenalnya tetaplah menjadi sebuah hadiah yang indah dari Tuhan. Seperti kawan-kawanku yang lain yang kuceritakan pada cerita-cerita sebelumnya. Ia dan mereka adalah hadiah yang indah dari Tuhan. Nama pemberian orangtuanya singkat saja, Muasomah. Dulu aku memanggilnya dengan nama Soma. Kini, aku memanggilnya dengan nama Mua.

(hae)

Advertisements

2 thoughts on “Mua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s