Dewi

Ia tidak suka difoto. Di tengah maraknya orang berfoto selfie, ia justru sangat berhati-hati dalam mengambil gambar diri. Bisa dikatakan, hampir tidak pernah.

Dulu, aku sebal sekali tiap mendengar alasannya terlambat masuk kelas. Adik rewel, tidak mau berangkat sekolah, tidak mau mandi. Alasan yang sangat kuno, bukan?! Aku saja tidak percaya ia berkata jujur saat itu.

Namun, 4-5 tahun kemudian, aku tahu, ia tidak pernah berbohong dengan perkataannya. Adiknya yang masih duduk di bangku SD memang mudah sekali kehilangan mood sekolah.  Semua itu karena kehidupan keluarganya tidak terlalu berjalan dengan baik. Aku tidak tahu detailnya. Kalaupun tahu, aku tidak akan mengatakannya di sini.

Ia menjadi orang pertama yang tahu jika ada kawan yang tertimpa musibah. Ia menjadi orang pertama yang tahu jika ada kawan yang hendak menikah. Ia menjadi orang pertama yang tahu jika ada kawan yang hendak naik umrah. Ia selalu menjadi orang pertama yang tahu dalam banyak hal.

Beberapa orang menganggap sikapnya itu sebagai sebuah ‘keingintahuan yang tidak pada tempatnya’ atau yang kita kenal dengan ‘kepo’. Menurutku, hal itu tidak lain adalah bentuk perhatiannya kepada kawan. Ia begitu menyayangi semua kawannya, sehingga ia selalu ingin tahu apa yang sedang dikerjakan dan dirasakan oleh kawan-kawannya.

Rasa ingin tahunya itu bisa jadi adalah usahanya agar  ia dapat membantu kawannya yang sedang kesusahan. Ia tidak berat memberikan bantuan kepada kawannya. Entah itu berupa uang, tenaga, atau dukungan moral. Maka tidak perlu kaget, jika tiba-tiba ia datang ke kamar kosmu lalu membawa sekotak hadiah. Isinya bisa apa saja, yang jelas tidak akan terduga olehmu.

Bukan berarti dia berasal dari keluarga kaya raya. Melainkan hatinya lah yang kaya sehingga ia murah saja mengulurkan pertolongan kepada siapapun yang membutuhkan. Ia bahkan gemar berjualan untuk menambah penghasilan.

Hanya satu hal yang agak menggangguku. Dia pergi tanpa pamit. Hanya sepatah kata yang mengungkapkan bahwa ia tengah berada dalam perjalanan menuju tanah rantau. Entah apa yang membuatnya bersembunyi. Ia seperti ingin menghilang, menjauh dari kami yang dulu selalu bersama. Adakah aku berbuat salah? Adakah kami berbuat salah? Kepergiannya menyisakan banyak tanda tanya.

Aku ingat ia pernah mengajukan permohonan doa. Sesungguhnya, tanpa diminta pun kawan-kawannya telah melakukannya. Aku pun memiliki banyak nama yang selalu kusebut dalam doa. Nama-nama yang tidak akan aku sebut di sini. Cukup Allah saja yang tahu.

Percayalah. Orang-orang yang menyayangimu akan mendoakanmu. Bukan karena engkau memintanya. Sebab ia menginginkan kebaikanmu. Sebab, ia tahu doa yang ia panjatkan untukmu secara diam-diam akan berbalik padanya juga. Seperti peribahasa, sekali dayung, dua pulau terlampaui. Percayalah, kawan-kawanmu benar-benar mendoakanmu tanpa kau minta. Bukan hanya doa untuk kebaikan di dunia, tetapi juga di akhirat. Percayalah.

Akupun percaya bahwa dia juga mendoakanku. Terlalu percaya diri? Biarkan! Bukan hanya aku, aku juga percaya ia juga mendoakan kawan-kawannya yang lain. Dia adalah orang yang kupanggil Dewi.

(hae)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s