originaltravel.co.uk

Hijrah

Sejak kecil, aku tidak asing dengan kata hijrah. Ada dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Aku memang bersekolah di SD berbasis Islam kala itu. Porsi pelajaran agama yang kudapat jauh lebih banyak daripada SD yang lain. Meskipun masih banyak kekurangan di sana-sini. Nanti akan kuceritakan tentang sekolahku ini, tetapi tidak sekarang.

Bagiku yang dulu masih lugu, hanya sebatas tahu bahwa hijrah merupakan peristiwa migrasi Rasulullah dan para sahabat. Sebatas kepindahan mereka dari Makkah ke Madinah. Sebab, kondisi di Makkah tidak lagi aman bagi kaum muslimin. Mereka disiksa oleh orang-orang kafir.

Aku tidak tahu bahwa perintah hijrah itu dirasa berat oleh para Sahabat, bahkan juga Rasulullah SAW. Meskipun bila mereka tetap berada di Makkah, kondisinya akan jauh lebih berat. Aku juga tidak tahu bahwa mereka harus berjuang keras mengatasi kerinduan pada kampung halaman. Bukan hal yang mudah meninggalkan kota yang menjadi tempat mereka bermain dan bertumbuh. Aku juga tidak tahu, mereka mengorbankan banyak hal demi mematuhi perintah hijrah itu termasuk harus kehilangan suaka dari kabilahnya.

Namun perintah tetaplah perintah. Seberat gunung pun, mereka tetap sedia pergi berhijrah. Sebab mereka sadar, hijrah harus dilakukan demi menyelamatkan akidah. Lalu aku, yang juga beridentitas sebagai muslim, membayangkan diri berada dalam posisi sulit seperti mereka kala itu. Aku bertanya pada diri sendiri. Bersediakah diri ini berhijrah demi selamatnya akidah?

Jika pengertian hijrah hanya berpindah tempat tinggal, tentu aku akan dengan mudah menjawab iya. Tetapi ini lain soal. Zaman sudah banyak berubah. Secara kasat mata, umat Islam dianggap aman tinggal di daerah mereka masing-masing. Meski pada beberapa negara masih mengalami diskriminasi. Namun secara tak kasat mata, engkau yakin sedang tidak disiksa?

Gempuran panah dan tombak memang sudah reda. Pun juga dengan peluru dan meriam. Akan tetapi, bukan berarti senjata-senjata itu punah. Mereka justru bertransformasi dalam bentuk lain. Bahkan, bisa jadi mereka membelah diri menjadi lebih banyak. Mereka lebih canggih dan lebih modern. Mereka menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman.

Pernahkah engkau berpikir bahwa salah satu bentuk transformasi itu adalah musik? Setiap hari, jutaan lagu diperdengarkan selama 24 jam di seluruh penjuru dunia. Mereka datang dari berbagai negara. Lalu mengetuk pintu-pintu gendang telinga seluruh penduduk bumi. Kemudian memperkenalkan diri sebagai kawan. Kata-katanya sangat manis. Wajahnya beraneka rupa, jazz, keroncong, pop, dangdut, rock, country, atau mix semua jenis. Medianya bisa apa saja, mulai dari radio hingga televisi.

Diam-diam, mereka yang mengaku kawan itu menikam dari belakang. Ibarat angin sepoi-sepoi di tengah terik panas matahari di musim kemarau, siapa yang tidak suka?! Mereka melenakan setiap jiwa manusia dari kewajiban utamanya.

Adapun aku, adalah salah satu jiwa yang terlena itu. Aku tidak asing dengan nama Miley Cyrus, Demi Lovato, Selena Gomez, Taylor Swift, Justin Timberlake, Sam Smith, Avril Lavigne, Pink, Rihanna, Beyonce, Ellie Goulding, Adele, Celine Dion, Lorde, Lady Gaga. Siapa lagi? Maroon 5, One Direction, One Republic, Secondhand Serenade, Imagine Dragons, 30 Seconds To Mars, David Guetta. Siapa lagi? CN Blue, IU, BoA, SNSD, Big Bang, Utada Hikaru, Yui. Siapa lagi? Sanam. Hei hei, stop! ini bukan tulisan tentang Music Award!

Aku hampir mengenal semua pelaku musik dunia. Tetapi memang tidak banyak pelaku musik lokal yang kuketahui. Sebab, telingaku mampu mendengar setiap diksi dalam lirik lagu lokal. Sebab, otakku mampu memahami setiap arti kata dalam lirik lagu lokal yang menggunakan bahasa ibu. Hal ini berbeda ketika aku mendengarkan lagu asing, aku hanya menikmati nadanya saja.

Aku hanya sedikit banyak tahu, tentang kisah dalam lagu asing tersebut. Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan lagu lokal, banyak tema cinta. Hanya saja, pemilihan diksinya lebih baik terutama pada judul. Lihat saja, To the End of The Earth. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang sudi mengikuti kekasihnya hingga dunia berakhir. Lihat juga, Pyramid. Lagu ini bercerita tentang sepasang kekasih yang hubungannya sekokoh piramida, tidak goyah oleh angin badai.

Lagu-lagu semacam inilah yang setiap hari beredar di pasar musik dunia. Belum lagi, hentakan nadanya sangat berpotensi menghancurkan kelembutan hati manusia. Masih ditambah pula dengan penampilan penyanyinya yang sering menabrak etika moral. Sudah pakaiannya tidak lengkap, mereka jejingkrakan di atas panggung. Inilah mereka yang dipuja-puja anak muda.

Aku, sebagai jiwa yang terlena ini layaknya mereka para muda. Jika bukan karena sifat Rahim-Nya, niscaya aku akan selamanya berada dalam keterlenaan. Ia memberiku kesempatan berada dalam satu atap dengan orang-orang yang sangat berhati-hati mendengarkan musik. Seringnya, hanya murottal yang berputar dalam playlist mereka. Hijrah, kata itulah yang kemudian terlintas dalam diriku.

Sungguh, hijrah bukan perkara mudah. Seperti yang diungkapkan Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury (2002: 210), makna hijrah bukan sekedar mengorbankan segala kepentingan dan harta benda dan menyelamatkan diri semata, tetapi juga kesadaran bahwa di tengah jalan mungkin saja dirampok, bahkan mungkin pula akan direnggut nyawanya. Hijrah juga berarti perjalanan ke masa depan yang belum jelas, di samping kesulitan dan penderitaan yang akan dialami kemudian hari.

Musik sudah seperti sahabat karib bagiku. Ia yang selalu menemaniku ketika menulis. Ia pula yang meninabobokan diriku ketika susah tidur. Senang, sedih, kecewa, ia selalu bersama denganku. Sepertinya, aku tidak mampu berpisah dengannya barang sekejap. Lantas bagaimana jika aku meninggalkannya?!

Maka biarkanlah aku tuliskan di sini. Saripati dari fatwa kontemporer Dr. Yusuf Qardhawi (2005) tentang hukum mendengarkan nyanyian. Asal segala sesuatu adalah halal selama tidak ada nash shahih yang mengharamkannya. Tidak ditemukan dalil-dalil shahih yang mengharamkan nyanyian. Akan tetapi, dalam mengakhiri fatwanya Dr. Yusuf Qardhawi mengungkapkan beberapa ikatan (syarat) yang harus di jaga.

  1. Tema atau isi nyanyian harus sesuai dengan ajaran dan adab Islam.
    Nyanyian tentang cinta, misalnya. Seringkali liriknya berkisah tentang seseorang yang sangat cinta terhadap makhluk hingga ia bersedia mati demi yang ia cintai tersebut. Jutaan manusia yang sedang kasmaran, mungkin akan mendayu-dayu ketika mendengar nyanyian semacam ini. Betapa ia mencintai seseorang, lupa waktu, lupa makan. Ia melupakan Dzat Yang Maha Sempurna, Dzat yang menciptakan cinta. Dialah Allah SWT. Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita, bahwa sebenar-benarnya cinta adalah mereka yang mencintai atas dasar kecintaan mereka kepada Allah semata. Dan masih banyak lagi tema-tema yang tidak sesuai ajaran dan adab Islam.
  2. Penampilan penyanyi juga harus dipertimbangkan.
    Bisa jadi, lirik lagu memang baik. Akan tetapi tingkah polah penyanyinya macam cacing kepanasan. Dapat dipastikan pendengar atau penontonnya juga ikut merasa panas. Tidak hanya di telinga, tetapi juga di mata, hati, di mana-mana. Dan kini sering kita dapati, mereka yang bergoyang tidak karuan ketika berada di atas panggung.
  3. Tidak berlebih-lebihan dalam mendengar musik.
    Agama Islam mengharamkan berlebih-lebihan (israf) dalam ibadah. Apalagi pada hal-hal mubah seperti mendengarkan musik. Sebab, sikap yang berlebih-lebihan akan melalaikan manusia dari pekerjaannya, kewajibannya.

Setidaknya, ketiga syarat ini kita penuhi dalam mendengarkan musik. Ada banyak musik positif (mupos) yang dapat kita dengarkan. Kalau engkau mengira musik positif cuma nasyid, itu salah. Ada banyak lagu-lagu pop yang liriknya baik, jika engkau jeli mencari. Jikalau tidak ada lirik yang baik, masih ada musik instrumental. Jika bosan, masih ada kumpulan murottal. Inilah seni terindah di dunia, membaca Al-Quran.

Semoga aku, engkau, kita, selamat dari gempuran panah, tombak, peluru dan meriam kesenangan. Sungguh, hidup pada abad ini sulit dibedakan antara kesenangan ataukah penyiksaan. Bisa jadi, buaian kesenangan itu sebenarnya adalah penyiksaan secara halus dan perlahan.

(hae)


 

1 Mubarakfury, Syaikh Shafiyyurahman. 2002. Sejarah Hidup Muhammad; Sirah Nabawiyah. Jakarta: Rabbani Press.
2 Qardhawi, Yusuf. 2005. “Fatwa-Fatwa Kontemporer”.
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/Nanyian1.html/Diakses pada Rabu, 31 Desember 2014 jam 08.47

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s