intellihub.com

Gelas Pecah dan Lomba Lari

Pagi itu semuanya tampak berjalan seperti biasa. Ayam masih berkokok. Matahari masih terbit dari timur. Air masih mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Singkat kata, semua masih berjalan sesuai orbit masing-masing.

Maka seperti biasa pula aku menjalankan rutinitas. Rencananya, aku akan menghadap layar monitor. Lalu bertemu barisan kata-kata, merangkainya menjadi satu kesatuan. Kemudian, mengintip dunia dari balik jendela.

Bekalku satu, koneksi internet. Istilah kerennya lebih dikenal dengan kata globalisasi. Kata ini menakjubkan. Ia mampu menembus tembok batas pemisah antar negara. Melalui jendela kecilku, aku dapat menyapa kawan-kawanku di manapun mereka berada. Aku juga dapat menyerap ilmu apapun dari sana.

Namun entah bagaimana, belum genap membuka layar monitor, tanganku menyenggol badan gelas yang berdiri di atas meja. Aku lupa semalam meletakkan gelas di sana. Sontak dua benda keras beradu. Segera, suara pecah terdengar. Gelasku jatuh tersungkur di lantai. Ia kini menjadi serpihan beling tak beraturan.

Sedih, iya. Itu salah satu gelas kesayanganku. Kudapat saat masih berjuang di kota kenangan. Sedikit banyak, gelas itu membersamaiku dalam berjuang menuntaskan pendidikan tinggi. Biasa saja sebenarnya, hanya mug bening. Benar kata orang, nilai sebuah benda tidak terletak pada penampilan luarnya namun apa yang tersimpan di dalamnya.

Segera kubersihkan lantai dari serpih-serpih kaca. Pedih, jelas. Lebih dari itu pikiranku dirasuki firasat buruk. Mungkin karena terlalu banyak menonton drama, aku seperti sedang berada dalam adegan ‘tokoh-utama-terkena-musibah’. Bukan, bukan tokoh aku utamanya. Tetapi rasanya seperti aku adalah ibu si tokoh utama.

Selang beberapa waktu kemudian, aku melanjutkan aktivitasku kembali. Berusaha mengusir pikiran-pikiran buruk yang melintas di kepala. Kemudian menjalankan rencana-rencana yang sebelumnya telah kususun. Merapikan kata dalam rangkaian baris berbaris. Sesekali menengok akun jejaring sosial, di sana terdapat beberapa data yang aku perlukan.

Lalu, ping!

Sebuah notifikasi muncul. Suara seperti inilah yang membuatku tidak membuka akun jejaring sosial saat fokus menulis. Mungkin karena takdir, hari itu aku mau tidak mau harus membuka akun karena membutuhkan data. Berkat dorongan rasa penasaran, aku melongok kotak pemberitahuan. Seseorang mengirimiku sebuah tautan. Satu detik laman berputar tanda loading. Sebuah ucapan selamat dan sebuah tautan laman pengumuman muncul di sana.

Apakah aku sedang berada di alam mimpi? Benarkah namaku yang tertera di sana? Aku bersegera membuka tautan tersebut. Informasi itu harus dibuktikan kebenarannya. Siapa tahu cuma hoax. Akhir-akhir ini marak berita hoax.

Benar! Informasi itu benar! Namaku ada di sana, di baris pertama. Sulit menggambarkan bagaimana perasaanku saat itu. Senang, iya. Takut, juga. Setengah tidak percaya dan tanganku berkeringat dingin.

Kemudian aku teringat hari-hari di belakang. Hari ketika tercetus sebuah tekad yang bulat untuk menulis novel. Tanpa sengaja, ide muncul melalui obrolan ringan dengan keluarga. Berlanjut dengan proses menulis yang hampir mirip kerja rodi, sebab ‘tanggal mati’ semakin dekat.

Satu bulan. Aku hanya memiliki waktu satu bulan untuk menulis sebanyak 150 halaman. Belum lagi masalah kelancaran menulis yang masih tersendat-sendat. Baru pada dua minggu terakhir dari batas ‘tanggal mati’, aku menulis dengan lancar. Tepatnya, aku memaksa diri untuk menulis.

Entah inspirasi datang atau tidak, aku setia menunggunya di depan layar monitor. Seringkali ia datang ketika aku sedang berada di tengah-tengah belantara tulisan. Ia seperti muncul dari balik pohon besar lalu menuntunku masuk lebih jauh ke dalam hutan dan mencari jalan keluarnya.

Ajaib, aku mampu menulis 10 halaman dalam sehari. Pernah, 20 halaman dalam sehari. Namun telat, kebiasaan seperti ini telat kuterapkan. Aku tidak dapat memenuhi tenggat akhir pengiriman naskah. Masih kurang beberapa halaman dan buntu. Saat itu, aku berharap akan ada keajaiban lagi.

Harapanku terwujud! Tidak seperti ‘tenggat mati’-nya Sang Pemilik Nyawa, ‘tenggat mati’ pengiriman naskah novel diperpanjang satu bulan lagi. Sejenak, aku dapat bernafas lega.

Tidak selang berapa lama setelah itu, datang amanah baru. Surat permohonan kerjaku berbalas. Aku resmi menjadi guru magang di sebuah Sekolah Dasar. Saat itu, aku juga rutin mengisi konten website milik seorang sahabat. Lengkap sudah, waktu luangku hilang.

Otomatis penulisan novel itu berhenti di tengah jalan. Selain karena buntu, juga karena tidak banyak kesempatan yang kumiliki untuk menulis. Berangkat pagi, pulang sore. Malam, kugunakan untuk memandu anak-anak tetangga mengerjakan PR, lanjut dengan mengisi konten website.

Tanpa terasa, waktu berjalan hampir satu bulan. Novelku sama sekali tidak ada perkembangan. Menjelang dua hari dari ‘tenggat mati’, aku memaksa diri untuk menyelesaikan apa yang sudah kumulai. Sisa-sisa waktu malam, kuisi dengan menulis. Tidak cukup, waktu berjalan cepat sekali hingga melelapkanku tanpa sadar. Tidak hilang akal, esoknya aku berbekal muka tembok ke sekolah. Aku meminta ijin kepada wali kelas untuk menulis di tengah pelajaran yang sedang berlangsung.

Tentu saja, murid-murid penasaran. Saat istirahat, mereka sibuk mengerubungiku. Mereka bertanya apa yang sedang kulakukan di bawah kolong meja. Mereka ingin tahu apa yang sedang kutulis. Bahkan ada anak yang duduk lama di sampingku, menunggu kata apa yang selanjutnya kutulis.

Dua hari itu aku curi-curi waktu di sekolah, mengambil kesempatan untuk menulis. Ternyata, tetap masih kurang. Tidak kehabisan akal, aku bernegosiasi dengan panitia. Satu hari. Aku minta tambahan waktu satu hari saja. Aku benar-benar ingin memasukkan namaku ke dalam daftar peserta lomba itu.

Kekuatan itu muncul dari kedua orang sahabatku di kota kenangan. Keduanya dikenal banyak orang dengan nama Maruti dan Kaulina. Akan kuceritakan tentang mereka di lain kesempatan. Mereka berdua telah membelikanku buku berisi formulir pendaftaran lomba. Mereka berdua telah memberiku tiket masuk. Aku tidak ingin menyia-nyiakan apa yang telah mereka berikan kepadaku. Apapun yang terjadi, aku harus masuk! Demikian tekadku.

Kabar gembira. Panitia merestui permintaanku. Aku bersegera merampungkan bab terakhir dan mengirimnya keesokan hari. Kenyataannya, aku baru berhasil mengirimnya dua hari setelah ‘tenggat mati’, dengan paket kilat khusus. Kalau bukan karena dorongan kekuatan tiket dari kedua sahabatku itu, mungkin aku sudah menyerah.

Kekuatan lain juga kudapat dari saudaraku satu-satunya. Kami berbeda tetapi berbagi hidung yang sama, kata orang. Dialah yang berjasa mencetak file naskah novel yang sudah kutulis. Juga memperbanyak naskah itu serta mencetak file-file lain yang dibutuhkan untuk pendaftaran.

Dialah kakak yang memberiku saran untuk meluncur ke kotanya. Dari sana, ia mengantarku ke kantor pengiriman barang yang tidak jauh dari rumahnya. Maklum, aku belum mengetahui seluk beluk kotaku sendiri karena lama di kota kenangan. Aku tidak tahu di mana letak kantor pengiriman barang yang beroperasi hingga sore. Sungguh, kalau bukan karena saudaraku ini, mungkin aku batal mengirim naskah.

Empat hari setelah hari pengiriman, sebuah pesan masuk di ponselku. Pemberitahuan bahwa naskahku sudah tiba dengan selamat di kantor panitia. Tentu aku harus bersyukur, naskahku tetap diterima walaupun telat sehari dua hari.

Ping! Ping!

Beberapa notifikasi muncul lagi di kotak pemberitahuan. Kesadaranku kembali. Usai mengingat perjuangan hari-hari yang lalu, tanganku masih berkeringat dingin. Ingatan tentang gelas pecah juga masih hangat dalam kepalaku.

Ternyata, tidak semua gelas yang pecah membawa pertanda yang buruk. Bisa jadi, ia adalah peringatan agar kita tidak terlena dengan hal-hal baik yang kita dapatkan. Supaya kita tidak lupa bahwa segala yang baik itu datangnya dari Sang Maha Pemberi Rezeki.

Tidak ada celah bagi siapapun untuk menyombongkan diri jika ia ingat bahwa sumber rezekinya bukan semata karena kerja kerasnya, melainkan ada campur tangan Tuhan di sana. Kusebut hal-hal baik ini dengan hadiah dari Allah. Gelar juara yang disematkan pada seseorang merupakan harga yang Allah berikan setelah lelah perjuangan berhasil ia lampaui.

Hari-hari ini aku tahu, bahwa di antara rekan-rekanku banyak yang berniat mengikuti lomba novel tersebut. Namun karena satu dan lain hal, mereka urung mendaftarkan diri. Hal ini mengingatkanku pada sebuah perumpamaan tentang siapa saja yang berhak masuk surga.

Ibarat lomba lari. Semua orang yang ingin mendapatkan gelar juara lomba lari harus mendaftarkan dirinya ke panitia lomba lari. Jika tidak, meskipun ia berlari kencang hingga mencapai finis paling awal niscaya ia tidak akan diakui sebagai pemenang lomba lari. Sebab, ia tidak terdaftar sebagai peserta lomba lari.

Demikian halnya dengan penghuni surga. Mereka harus melakukan registrasi terlebih dahulu sebelum berlari di pacuan menuju surga. Meskipun seseorang melakukan banyak kebaikan di dunia, ia tidak berhak masuk surga jika tidak memiliki tiket registrasi. Tiket registrasi itu berupa dua kalimat syahadat, menjadi muslim.

Kini aku paham dengan perumpaan lomba lari yang kudapat sejak bertahun lalu itu. Berkat keikutsertaanku dalam sebuah perlombaan novel ini. Segenap rasa terima kasih kulimpahkan pada orang-orang yang telah memberiku kekuatan. Dan di atas segalanya, aku harus bersyukur kepada Sang Pencipta Kekuatan, Dia Yang Maha Esa.

(hae)

Advertisements

2 thoughts on “Gelas Pecah dan Lomba Lari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s