Maruti

Aku lupa bagaimana awalnya kami saling mengenal. Sekuat apapun aku mencoba mengingat adegan jabat tangan kami yang pertama kali, selalu gagal. Aku hanya berhasil mengingat tempat dan kisaran waktunya saja. Saat itu di sebuah rumah di tepian pantai Parangtritis sekitar tahun 2009, tahun awal bagi kami mencecap bangku kuliah.

Ada banyak orang di rumah itu. Mereka semua adalah calon penulis masa depan. Mereka berasal dari berbagai kampus di Yogyakarta, dari berbagai profesi, dari berbagai usia. Namun, mereka memiliki bekal yang sama. Hobi menulis. Begitu pula denganku dan dirinya. Hobi inilah yang mendorong kami berdua mengumpulkan berkas pendaftaran, mendatangi sesi wawancara, lalu mengikuti training kepenulisan di rumah tepian pantai itu. Ketiga tahap itu merupakan bagian dari kegiatan Forum Lingkar Pena (FLP).

Kami tidak serta merta menjadi akrab pasca agenda training selama 2 hari 3 malam itu. Sebaliknya, kami tidak pernah bertemu lagi hingga kurang lebih satu tahun lamanya. Meskipun satu kampus, kami berada di jurusan yang berbeda jauh. Jauh secara jarak maupun makna. Hingga suatu ketika, sebuah amanah datang mempertemukan kami kembali. Ia ditunjuk sebagai ‘tukang catat’ dan aku ditunjuk sebagai ‘tukang palak’. Sama-sama ‘tukang’ di FLP Jogja. Amanah itu direncanakan berlangsung selama 2 tahun dimulai dari tahun 2010.

Itulah awal mula kami menjadi sahabat. Mulanya hanya pertemuan formalitas seperti rapat rutin atau mendatangi agenda besar organisasi kepenulisan itu. Setiap kali mendatangi agenda itu, aku hampir selalu semotor berdua dengannya. Aku di tanah rantau memang hanya punya modal helm jika hendak pergi ke mana-mana. Selain itu, ia adalah rekan seangkatanku. Bukan hanya seangkatan di kampus, tetapi juga di FLP Jogja, angkatan XI. Lagipula, saat itu sudah tidak banyak rekan seangkatan yang masih aktif mengikuti agenda-agenda FLP. Biasa, seleksi alam.

Dapat dikatakan, aku selalu bersama dengannya karena keadaan yang memaksa kami bersama. Semacam takdir yang menyenangkan. Belum lagi kebersamaan kami dalam klub Rabu. Kalau kau pikir klub ini penuh dengan hentakan musik, maka kau salah. Klub ini adalah tempat bagi setiap anggota FLP Jogja untuk saling mengkritisi karya masing-masing. Lain kesempatan, aku akan menceritakan tentang klub ini.

Belum cukup sampai di situ. Kami juga menjalani KKN di tempat dan waktu yang sama. Hanya beda dusun saja. Masih ditambah lagi dengan amanah berikutnya yang kembali mempersatukan kami. Amanah itu datang usai kami rampung dari amanah di FLP Jogja. Masih seputar dunia tulis-menulis, tetapi kali ini lebih khusus di bagian media. Lingkupnya pun lebih sempit, hanya sekitar kampus kami. Saat itu, kami masih tetap sering bertemu di klub Rabu.

Berkat banyaknya kondisi yang menyatukan kami itulah lama-lama kami terbiasa bersama. Bukan hanya agenda organisasi, melainkan juga agenda belajar. Tetapi tetap saja, belajar tentang kepenulisan. Tampaknya kami memang tidak bisa lepas dari jerat tali-temali kata, kalimat, dan paragraf.

Agenda belajar kami cukup unik. Diadakan setiap malam minggu dalam dua pekan sekali, berlangsung selama dua bulan. Belajar apa? Dunia cyber. Tentang seni bermain di media sosial dan semacamnya. Seni ini masih berkawan akrab dengan dunia tulis-menulis yaitu bagian media.

Persahabatan kami semakin kental sejak saat itu. Sepulang belajar, kadang kami berwisata kuliner. Darinya aku tahu rasa sate Padang. Juga mengenal mie ayam Mas Yudi yang terkenal di Jogja, saat itu aku merasa gagal menjadi pecinta mie sejati karena sebelumnya tidak tahu keberadaan warung mie ayam yang dikelola profesional itu.

Pernah suatu hari, kami iseng mencoba hidangan di kafe makanan Perancis. Ketika menerima bon pembayaran, ternyata uang kami tidak cukup. Itu sudah digabung-gabung uang kami berdua. Lalu aku ingat, masih ada sisa-sisa uang yang tersimpan di ATM. Akupun ijin mengambil uang. Selamat, kami tidak jadi mempermalukan diri di hadapan orang banyak.

Sepanjang waktu yang kami habiskan bersama, aku belajar banyak hal darinya. Sebenarnya kami berbeda di banyak hal, meskipun sama-sama suka menulis. Dia lebih condong pada tulisan nonfiksi. Adapun aku lebih condong pada tulisan fiksi. Ia berharap menjadi jurnalis. Aku berharap menjadi novelis. Tulisannya sarat dengan data. Tulisanku penuh dengan imajinasi. Dua kubu yang sangat berbeda. Tetapi mungkin karena itulah kami dipersatukan takdir. Supaya kami dapat saling melengkapi.

Ada satu hal yang membuatku senang bertemu dengan kawan yang usianya 3 tahun di bawahku ini. Setiap kali aku berjumpa dengannya, aku selalu teringat dengan Tuhan. Entah, aku juga tidak tahu bagaimana bisa seperti itu. Ketika bersamanya sebuah hadis selalu terngiang-ngiang di telingaku, “Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu teringat akan Allah, mendengar kata-katanya menambahkan ilmu agama, melihat gerak-geriknya teringat mati.”

Sebaik-baik sahabat adalah yang apabila kamu melihat wajahnya maka kamu akan teringat Allah. Teringat Allah. Teringat Allah. Kalimat inilah yang selalu kuingat ketika aku bersitatap dengannya. Keren, aku merasa keren dapat menemui orang yang ciri-cirinya disebutkan pada sebuah hadits. Padahal sebelumnya aku merasa absurd dengan hadits itu. Benarkah? Selalu begitu aku bertanya-tanya. Ternyata benar.

Tentang hadis itu aku lupa di mana mendapatkannya. Searching di mesin pencari—simbah Google—tidak kutemukan dengan jelas siapa periwayatnya. Hanya samar-samar, sepertinya itu riwayat Hakim.

Aku semakin bahagia pernah mengenal seseorang seperti dirinya. Saat itu adalah hari-hari terakhir aku berada di kota kenangan. Kontrak rumah sudah habis, studi di kampus juga sudah tunai, saatnya pulang ke kampung halaman dan menyusun kembali rencana masa depan. Mengetahui kabar tentang hal itu, ia menyiapkan kejutan.

Bertepatan dengan bulan Ramadhan, kami berencana buka puasa bersama. Seperti biasa, kami semotor berdua. Ia datang ke rumahku, menunggu agak lama di depan rumah. Sepertinya saat itu aku tidak siap-siap lebih awal, penyakit. Tetapi ia tidak marah, membuatku merasa bersalah.

Tidak kusangka, ia membawaku ke toko buku. Surga dunia. Beberapa kali, aku sering menghabiskan waktu sendirian di toko buku itu. Membaca buku di tempat, hanya membawa sebuah majalah ke kasir. Di sana, ternyata sudah ada satu orang kawan lagi yang menunggu. Aku semakin merasa bersalah. Aku memang sudah berjanji untuk bertemu dengan kedua sahabatku sore itu.

Permainan dimulai. Mereka berdua memberiku waktu 30 menit untuk memilih buku. “Pilih buku seharga tidak lebih dari Rp 60.000,-!” demikian kata mereka berdua. “Kalau dalam waktu 30 menit tidak juga kau dapatkan buku itu, uang hangus!” kata mereka lagi. Tidak lupa mereka menyindirku, kalau saja aku tidak datang terlambat harusnya aku punya waktu satu jam. Aku hanya tertawa kecut menanggapi perkataan mereka. Maka, jadilah permainan ini seperti reality show di televisi.

Aku mulai bergerilya. Menyambangi satu per satu rak buku. Membaca setiap judul buku. Meneliti semua harga buku. Agak lama. Otakku memang selalu penuh pertimbangan. Setelah ke sana ke mari, akhirnya pilihanku jatuh pada dua buku. Satu novelet berisi tiga cerita tentang kisah cinta. Satu novel komedi yang di dalamnya terdapat tiket pendaftaran lomba. Aku berniat mengikuti lomba itu.

Selesai dari toko buku, barulah kami bertiga sibuk berpikir hendak ke mana membatalkan puasa. Waktu sudah mepet sekali dengan maghrib. Pilihan yang murah meriah dan mudah dijangkau dari tempat kami berada yaitu ke masjid! Kami menjadi bagian PPT, Para Pencari Takjil. Tidak lama kemudian, kami berbuka puasa bersama puluhan orang di masjid itu lalu shalat maghrib berjamaah. Dan akhirnya, berpisah. Saling mendoakan satu sama lain dan berharap dapat bertemu kembali di lain waktu.

Sedih. Mengetahui fakta bahwa hari-hari ke depan tak lagi kujumpai wajahnya. Wajah yang mengingatkanku pada Tuhan. Bagaimanapun, aku harus pulang. Maka hari-hari di kampung dimulai. Aku melanjutkan misi ‘ikut lomba’. Aku bertekad untuk menyelesaikan sebuah novel dalam batas waktu yang semakin menipis, satu hingga dua bulan.

Setiap kali malas mendera, aku akan mengingat wajahnya. Setiap kali pikiran menyerah datang, aku akan kembali mengingat wajahnya. Dia yang memberiku kekuatan untuk menyelesaikan apa yang telah kumulai. Dia yang memberiku hadiah buku itu. Aku tidak ingin menyiakan-nyiakan apa yang ia berikan.

Akupun akhirnya berhasil menyelesaikan sebuah novel. Berhasil mengirimkannya. Dan berhasil mencuri hati para juri. Pada hari pengumuman lomba, dialah yang gencar menyebarkan kabar gembira itu kepada dunia. Mungkin dia melakukan hal itu karena dorongan naluri jurnalisnya, selalu ingin mengabarkan fakta. Dia memang sahabat yang baik. Sahabat juara satu di dunia. Dia adalah sahabatku seperjuangan di jalan pena, Maruti Asmaul Husna Subagio.

(hae)

Advertisements

5 thoughts on “Maruti

  1. Maruti Asmaul Husna Subagio says:

    duh, novelis satu ini selalu cerdas merangkai bunga2 kata. bikin orang GR, hehe. A bunch of thanks, my BFF… Semoga Allah selalu menguatkan langkah kita mencapai cita2. *peluk cium buat Henny*

    • Henny Alifah says:

      Maap kalo bikin ge-er, ehehe. Semoga tulisan ini tidak melemahkan iman sebagaimana pujian melemahkan amal. Tujuan tulisan ini supaya kita semakin semangat berkarya. Semoga Allah selalu menguatkan langkah kita mencapai cita-cita. *balik peluk cium buat Uti*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s