semacamsitus.blogspot.com

Ada Pak Yasin di Madrasahku

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, madrasah artinya sekolah. Jika kata madrasah disambung dengan kata ibtidaiyyah artinya Sekolah Dasar. Madrasah Ibtidaiyyah (MI) dan Sekolah Dasar (SD) adalah sesuatu yang setara, sepadan. Namun masyarakat Indonesia terlanjur membedakan kedua frase tersebut. Keduanya menjadi berbeda karena muatan Islam di MI lebih kental daripada di SD.

Aku tidak tahu bagaimana dengan MI di daerah lain, tetapi MI di tempat kami sangat tidak populer di kalangan masyarakat. Sedikit sekali orang tua yang menitipkan anak-anaknya untuk belajar di sana. Kelas kami hanya berisi 25 orang. Itupun hampir selalu berkurang setiap tahun, baik karena tidak naik kelas, pindah sekolah, maupun drop-out. Terhitung, hanya tersisa 19 orang ketika kami melaksanakan Ujian Kelulusan SD yang dulu masih disebut EBTANAS.

Gedung madrasah kami tidak memiliki ruang kelas yang cukup untuk menampung seluruh murid, meskipun murid-muridnya tidak banyak. Alhasil, ketika duduk di bangku kelas 2 kami harus berbagi dengan murid-murid kelas 1. Murid-murid kelas 2 masuk pukul 09.00. Murid-murid kelas 1 masuk seperti biasa, pukul 07.30. Jangan tanya mengapa jam masuk madrasah kami bisa selambat itu. Nanti kalian akan tahu sendiri jawabannya.

Pengajar di madrasah kami tidak banyak. Jumlahnya hampir berbanding lurus dengan jumlah kelas kami, sekitar 5-6 guru. Hampir semua guru adalah perempuan. Hanya ada satu guru laki-laki di madrasah kami. Kami memanggilnya Pak Yasin. Gelar di belakangnya adalah B.A. Dulu, kami tidak tahu bahwa B.A. itu singkatan dari Bachelor of Arts (Sarjana Muda) dan justru membuat plesetannya menjadi Bahasa Arab. Itu karena spesialisasi beliau adalah pengajar Bahasa Arab.

Kami bertemu pak Yasin sebagai wali kelas ketika duduk di bangku kelas 4. Saat itu kami terpaksa menggunakan salah satu rumah warga sebagai ruang kelas, sama seperti kakak-kakak kelas kami sebelumnya. Rumah itu berada tepat di depan madrasah kami. Pemiliknya adalah sepasang suami istri berusia lanjut, sebut saja Kakek dan Nenek. Kami sering menerima omelan Nenek karena selalu membuat gaduh di kelas meskipun tahu bahwa Kakek sedang sakit.

Pak Yasin galak bukan main, setidaknya bagi kami yang masih suka bermain daripada belajar. Maka bagi kami yang baru saja naik ke kelas 4 dapat dipastikan menyimpan ketakutan yang sama setiap pagi. Takut jika tiba di madrasah sebelum pukul 7. Sebab, bagi Pak Yasin kegiatan belajar mengajar di madrasah harus dimulai tepat pukul 7.

Setiap pagi kami tidak pernah meninggalkan doa sebelum belajar. Bukan doa masing-masing dalam hati, tetapi doa bersama dengan bersuara. Kemudian dilanjutkan dengan membaca surat-surat pendek yang ada pada juz 30, hal ini sekaligus sebagai murojaah bagi kami. Tetapi, percayalah selepas lulus dari madrasah kebanyakan dari kami mendadak lupa dengan ayat-ayat yang kami hafal setiap pagi.

Ketika kami melakukan rutinitas pagi seperti itu, pak Yasin sibuk menggiring murid-murid lain masuk ke dalam kelas masing-masing. Pak Yasin memang selalu menjadi guru yang pertama datang di madrasah kami. Guru yang lain biasa datang pukul 7.30. Oleh karena itu, murid-murid bebas berkeliaran saat wali kelas mereka belum datang. Pemandangan itu membuat risih mata pak Yasin. Menertibkan semua murid pada pagi hari akhirnya menjadi rutinitas pak Yasin.

Meskipun galak, sebenarnya pak Yasin sangat sayang pada anak-anak didiknya. Ia tidak segan memberi imbalan bagi muridnya yang mendapat nilai terbaik di kelas. Ia juga sengaja menyiapkan sejumlah alat tulis di lacinya jika sewaktu-waktu ada murid yang membutuhkannya. Ia hanya akan galak kepada mereka yang tidak mau belajar dan mereka yang gemar menjahili murid lain. Sepanjang ingatanku, aku tidak pernah sial mendapat pukulan atau sejenisnya dari pak Yasin.

Hari-hari kami berlalu seperti layaknya murid-murid SD lain. Belajar Matematika, IPA, IPS, PPKN, Kertakes, Penjaskes, Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, namun ditambah 5 pelajaran agama yang meliputi Quran Hadits, Aqidah Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam, Fiqih, dan Bahasa Arab. Lalu kami bermain di halaman madrasah ketika jam istirahat. Bermain gobak sodor, kejar-kejaran, bekel, ABC. Atau kami jajan di kantin yang letaknya di belakang gedung madrasah. Uang Rp 100,- bisa untuk membeli 2 permen, pengganjal kantuk di kelas. Uang Rp 500,- tentu lebih bisa membeli banyak makanan, sesuatu yang kini tidak bisa kita peroleh.

Kami berpisah dengan pak Yasin ketika naik ke kelas 5. Namun bertemu kembali dengan beliau ketika naik ke kelas 6. Madrasah kami melakukan rolling wali kelas karena ada seorang guru yang pindah tugas. Ternyata, pertemuan kami dengan pak Yasin di kelas 6 pun juga tidak berlangsung lama.

Saat itu tiba-tiba pak Yasin mengumpulkan kami di dalam kelas. Ia berbicara panjang lebar. Ia menjelaskan kepada kami bahwa tidak ada hal lain yang ia inginkan dari kami kecuali kami menjadi anak-anak yang pandai. Kemudian ia meminta maaf dan berterimakasih kepada kami. Juga berkata bahwa ia menyayangi kami.

Lalu kami sadar, itu adalah kata-kata perpisahan dari beliau. Belum genap 1 semester kami bersama, ia dipindah-tugaskan ke madrasah lain. Tanpa sadar, air mata kami menggenang di pelupuk mata. Sebagian justru telah membanjiri pipinya dengan air mata. Detik itu kami sadar, ternyata kami sangat menyayangi sosok yang galak itu.

Keesokan harinya, tidak lagi kami temui pak Yasin yang selalu datang dengan motor suara cempreng. Tidak lagi kami melihat pak Yasin yang berjalan terbungkuk-bungkuk menuju ruang kelas karena punggungnya memang patah. Tidak lagi kami dapati omelan panjangnya. Pak Yasin sudah pergi.

Kami tidak pernah mendengar kabarnya lagi semenjak lulus dari madrasah. Hingga sebuah kabar datang 2 tahun setelah kelulusan kami. Pak Yasin mengalami kecelakaan dan nyawanya tidak tertolong. Ia pulang ke rahmatullah. Entah bagaimana dengan yang lain, aku belum pernah datang berziarah ke makamnya sampai saat tulisan ini dibuat. Aku selalu merasa bersalah jika ingat dengan fakta ini.

Setiap kali ada sayembara penulisan kisah inspiratif, aku menceritakan kisah pak Yasin. Namun tidak ada satupun juri yang meloloskan naskahku. Mungkin bagi orang lain kisah pak Yasin biasa saja. Mungkin juga tidak bagi teman-temanku satu kelas dulu. Tetapi bagiku, pak Yasin selalu mengalirkan inspirasi ke dalam diriku.

Pak Yasin adalah salah satu dari sekian guru yang membantu kami menemukan jati diri. Kami—19 murid dari sebuah madrasah kecil di pelosok Jawa Timur—kini telah bertebaran di muka bumi dengan cara masing-masing. Sebagian sudah berkeluarga, sebagian mengabdi pada negara, sebagian menjadi perantau, sebagian bekerja di lain pulau, sebagian meneruskan jejak pak Yasin, dan sebagian lagi aku tidak tahu bagaimana kabar mereka. Aku mencoba mengingat lembar absensi kelas kami, tetapi gagal. Lalu aku coba mengingat letak rumah mereka yang saling berdekatan, berhasil. Kami adalah Putri, Bayu, Nana, Nining, Yono, Ruri, Luthfi, Alif, Triyono, Patmi, Yanti, Siti, Purwanto, Agus, Ujang, Fitri, Dewi, Mega, dan aku.

(hae)

Advertisements

5 thoughts on “Ada Pak Yasin di Madrasahku

  1. Nurul Fitri says:

    Henny keren jadi keinget masa-masa mi dulu, semoga p.Yasin ditempatkan disisiNYA dan kita semua bisa meneruskan perjuangan beliau di segala bidang

  2. Jejak Parmantos says:

    Inspiratif Mba bacanya, di kampung saya juga ada Madrasah lebih tepatnya setingkat MTS. Meski saya tidak sekolah di situ, tapi saya masih ingat ‘olokan’ orang2 dulu jika ada anak yang ‘terbuang’ karena tidak diterima di SMP negeri. Olokan itu adalah MTS = Sekolah Modin. Yakni Kaur Desa yang bertugas mimpin kalo ada yang meninggal, yasinan atau yg lain. Tapi statusnya terkesan lebih rendah dari ustadz atau imam. :(. Entah sekarang bagaimana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s