mentalfloss.com

Cengkerama Kawanan Rabu Senja

Antara hari yang tujuh, terdapat satu yang selalu mereka tunggu. Pada hari itu mereka akan menuju ke sebuah tempat yang sama. Hari itu, pada jam yang sama, mereka akan berdatangan ke tempat tersebut dari berbagai penjuru mata angin. Terkadang ada yang mendahului beberapa detik. Terkadang ada yang tertinggal beberapa menit. Hari itu adalah hari Rabu.

Sebenarnya terdapat pilihan lain yaitu Senin dan Sabtu. Namun di antara ketiga hari yang ditawarkan, pilihan mereka jatuh pada hari Rabu. Pada awalnya, keadaan yang memaksa mereka memilihnya. Lama-kelamaan, kata terpaksa itu menghilang, menyisakan kerelaan dalam hati. Kemudian pertemuan hari Rabu itu menjadi sebuah kebiasaan yang sulit mereka tinggalkan.

Mereka biasa berkumpul pada waktu sore hari, ketika matahari merangkak turun ke kaki langit, ketika waktu ashar sudah berlalu, ketika hari menjelang maghrib. Saat itu langit berwarna merah kekuningan, disertai sedikit semburat awan. Mereka menyebutnya senja. Maka jadilah mereka Kawanan Rabu Senja.

Tempat mereka berkumpul adalah sebuah ruang publik di salah satu universitas di Yogyakarta. Sebutannya adalah balairung selatan. Ia disebut selatan karena letaknya memang ada di sebelah selatan sebuah gedung rektorat. Namun tidak diketahui pasti bagaimana sebutan balairung itu mereka sematkan kepadanya, sebab orang awam biasa menyebutnya dengan rektorat selatan. Hanya orang-orang tertentu saja yang paham bahwa balairung selatan adalah gedung rektorat selatan. Mungkin karena gedung rektorat itu merupakan balai tempat ‘raja kampus’ dihadap ‘rakyatnya’.

Terdapat beberapa spot nyaman di balairung selatan. Pinggiran gedung yang panjang dan lengang, selasar gedung yang berisi payung-payung teduh lengkap dengan kursi kayu, serta halaman luas yang dikelilingi pepohonan hijau dan sesekali tampak orang berlalu lalang di sana. Tempat yang akhir-akhir ini menjadi favorit mereka adalah selasar gedung, tempat yang berisi payung-payung teduh. Letaknya lebih tinggi dari halaman sehingga dari sana mereka dapat memandangi lalu lalang orang-orang di bawah, mulai dari yang asyik bermain sepatu roda, bersepeda, badminton, hingga segerombol mahasiswa atau pegawai yang melintas.

Gedung rektorat itu bersebelahan dengan perpustakaan universitas yang berdinding kaca. Maka dari posisi tersebut mereka juga dapat melihat rak-rak buku yang menjulang tinggi dan orang-orang yang selalu tampak sibuk dengan buku masing-masing. Lalu ditambah beberapa burung yang terbang dan hinggap pada pohon-pohon cemara yang ada di sana. Suasana seperti itulah yang melingkupi pertemuan mereka di balairung selatan.

Satu per satu mereka datang. Mengisi kursi-kursi kosong pada salah satu payung teduh. Ketika seluruh kursi—yang biasanya berjumlah sekitar 4 buah—telah terisi semua, mereka yang datang belakangan akan melirik payung teduh yang lain. Terkadang seperti pencuri yang siaga menuju mangsanya. Mereka akan sigap mengambil kursi di payung teduh yang lain jika kursi-kursi di sana bebas dari ‘pendudukan’ orang lain. Ketika kursi-kursi di payung teduh yang lain juga sudah tidak bersisa, maka mereka akan beramai-ramai duduk lesehan di bawah. Terdapat sebuah ruang lapang di antara payung-payung teduh itu. Mereka duduk melingkar di sana.

Salah seorang dari mereka—biasanya sesepuh—yang merupakan amir Kawanan Rabu Senja, biasa membuka pertemuan itu dengan sepatah dua patah kata dan doa. Kemudian mereka saling memberi kabar diri, sedikit basa-basi. Lalu saling berbagi informasi. Semua yang mereka bicarakan adalah seputar dunia literasi. Ada yang melaporkan perkembangan tulisan mereka, ada yang memberi informasi tentang lomba menulis, ada yang menceritakan ulang buku yang mereka baca atau film yang mereka tonton, ada yang memberitahukan jadwal agenda bookfair terdekat, ada pula yang mengabarkan acara-acara seni yang akan digelar dalam waktu dekat di kota mereka.

Topik literasi dan seni selalu menjadi tema besar mereka. Tidak perlu heran, karena memang takdir mempersatukan mereka melalui kecintaan mereka pada dunia literasi dan seni. Mereka semua adalah orang-orang yang memiliki kecenderungan terhadap aktivitas baca-tulis, baik fiksi maupun non fiksi. Mereka juga tidak mengabaikan karib kerabatnya baca-tulis yaitu teater. Sesekali mereka juga mendeklamasikan puisi.

Usai menyampaikan kabar yang mereka bawa masing-masing, obrolan berlanjut. Pada suatu kesempatan, mereka mendapat pengetahuan baru tentang penulisan skenario. Pada kesempatan yang lain mereka berbagi pendapat tentang sebuah karya milik orang lain yang ada pada sebuah koran atau buku. Namun yang paling utama dari pertemuan rutin mereka adalah bedah karya.

Setiap mereka wajib membawa karya masing-masing. Bukan karya lama, tetapi karya terbaru. Tidak harus berupa tulisan yang sudah matang, bahkan tulisan yang masih proses pembuatan pun boleh dibawa. Sebab, inti pertemuan Rabu Senja adalah evaluasi karya masing-masing pribadi. Hal ini demi perkembangan kemampuan menulis mereka agar tulisan mereka kelak menjadi renyah dibaca.

Sesi bedah karya ini sudah mirip seperti pembantaian. Mereka sendiri mengakuinya. Ketika seseorang mengucapkan kata-kata bedah karya, yang ada di dalam benak mereka adalah ajang pembantaian. Kritik-kritik pedas sering melayang di dalam lingkaran mereka. Namun di situlah letak magnetnya pertemuan Rabu Senja. Meskipun sering memalukan ketika dibantai, mereka selalu dapat menertawakan diri sendiri.

Penulis-penulis yang junior, biasanya hanya melontarkan kesalahan teknis yang terdapat pada sebuah karya. Penulis-penulis yang senior, biasanya membantai karya hingga ke akarnya. Selain karena ilmunya lebih banyak, para senior juga lebih lama bergelut dengan berbagai macam karya sehingga insting mereka lebih kuat. Meski demikian, tidak ada senioritas di sana. Semuanya merasa seperti sedang bercengkerama dengan keluarga. Hangat dan menyenangkan.

Personil kawanan Rabu Senja selalu berganti setiap periode. Selalu ada yang datang dan pergi. Mereka yang datang biasanya adalah darah muda yang baru saja bergabung dalam komunitas menulis mereka. Adapun mereka yang pergi bukan karena tidak tahan dibantai. Mereka yang pergi biasanya adalah mahasiswa yang sudah menyelesaikan studinya dan melanjutkan hidup di kota lain.

Tanpa terasa, semburat merah di langit semakin pudar. Artinya mereka harus segera pulang. Jika terlalu asyik bercengkerama, biasanya mereka dapat mendengar sayup-sayup suara adzan di kejauhan. Pertemuan Rabu Senja diakhiri. Sang amir pula yang biasanya memberikan sepatah dua patah kata penutupan dan doa.

Mereka pulang dengan membawa semangat baru. Selama seminggu penuh berkutat dengan dunia kuliah atau kerja, mereka seperti kehabisan baterai yang dapat menggerakkan tangan mereka untuk menulis. Melalui pertemuan Rabu Senja itu mereka seperti mengecas baterai yang hampir habis itu.

Matahari terbit dan tenggelam setiap hari. Bumi terus berputar baik mereka dalam keadaan malas maupun rajin. Kehidupan berlanjut. Seiring berjalannya waktu, beberapa di antara mereka bertahan untuk melanjutkan perjuangan yang mereka sebut dengan dakwah pena. Tetapi juga tidak jarang yang memilih berjuang di luar jalan pena.

Namun mereka senantiasa ingat bahwa dalam kehidupan ini mereka pernah duduk melingkar, bercengkerama bersama para pejuang pena. Mereka kemudian sadar bahwa ajang pembantaian itu adalah latihan pertama mereka sebelum benar-benar turun ke medan juang. Sebab, di medan juang yang nyata sangat mungkin terjadi pembantaian yang lebih kejam. Ada banyak orang-orang yang tidak menyukai cara mereka dalam menulis. Ada banyak orang-orang yang tidak mengerti tentang apa yang mereka perjuangkan. Maka pertemuan Rabu Senja adalah ibarat kawah candradimuka. Adapun mereka yang sedang digodok adalah penulis Forum Lingkar Pena Wilayah Yogyakarta.

(hae)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s