taringa.net

Masjid dan Pasar

Empat belas abad telah berlalu semenjak Rasulullah dijemput malaikat maut, pulang ke ribaan Tuhan. Matahari dan bulan yang kita lihat dari bumi memang tampak masih sama seperti matahari dan bulan yang dulu disaksikan Rasulullah. Keduanya datang dan pergi saling menggantikan. Namun tidak demikian halnya dengan manusia. Semua tak lagi sama.

Wajar. Satu-satunya hal di dunia ini yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri. Dunia ini berjalan dinamis. Maka hidup pada masa yang sangat jauh dari masa kehidupan Rasulullah seperti sekarang, kita tidak perlu heran jika pasar telah menjadi ‘masjid’ bagi sebagian besar umat manusia. Adapun masjid, semakin hari semakin sepi jamaah.

Dinamakan masjid karena ibadah salat yang dilakukan di tempat ini mengandung gerakan sujud. Masjid dalam bahasa Arab merupakan kata turunan dari kata sajada-sujuudan ( سجد – سجودا ), yang kemudian mengalami perubahan bentuk menjadi kata yang menunjukkan tempat—ditandai dengan huruf mim —sehingga masjid (مسجد ) diartikan menjadi tempat sujud.

Meskipun secara bahasa berarti tempat sujud, masjid tidak hanya berfungsi sebagai pusat peribadahan tetapi juga sebagai pusat pemerintahan. Rapat-rapat kenegaraan mulai dari hal yang menyangkut kesejahteraan umat hingga upaya pertahanan militer dilakukan di masjid. Demikianlah yang dicontohkan Rasulullah semasa hidupnya.

Alih-alih menjadikannya pusat pemerintahan, sebagai pusat peribadahan saja kini umat enggan. Mereka—tidak terkecuali orang yang menulis ini—lebih banyak disibukkan oleh urusan dunia. Ke mana lagi larinya kalau tidak ke pasar? Entah itu pasar modern yang megah maupun pasar tradisional yang tampak kumuh. Semua orang bekerja mati-matian agar dapat berbelanja di pasar, tempat beragam barang keperluan hidup dijual.

Ada kisah yang cukup menarik—alurnya datar saja sebenarnya. Suatu malam, seseorang pergi ke masjid di dekat rumahnya. Ia menunaikan salat isya berjamaah. Tidak banyak orang yang ia jumpai di sana, namun ia selalu menjumpai orang yang sama di sana. Kakek yang ini, nenek yang itu, dan beberapa tetangga-tetangganya yang telah sepuh—lanjut usia.

Pada hari yang lain di pagi hari, ia pergi ke pasar. Didapatinya ada banyak tetangga yang juga sedang menawar barang jualan di pasar. Tetangga yang pertama tinggal di depan rumahnya. Tetangga yang kedua tinggal di samping kanan rumahnya. Tetangga yang ketiga tinggal di samping kiri rumahnya. Tetangga yang keempat tinggal di belakang rumahnya. Ia pun bertukar sapa sebentar, basa-basi saling menyapa lalu melanjutkan kembali aktivitas masing-masing. Setelah itu, masih ada banyak lagi tetangga yang ia jumpai. Tidak usah kita sebut di sini.

Orang inipun insyaf, betapa mencengangkan fakta yang yang ia temui di lapangan. Ia lebih banyak bertemu tetangga-tetangganya di pasar daripada di masjid! Hanya dua hari dalam setahun ia dapat menemui seluruh tetangganya di masjid, yaitu saat hari raya. Tidak usah berdebat mereka muslim atau tidak, mereka sendiri mengakui bahwa mereka beragama Islam.

_hae

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s