www.mccullagh.org

Anak-Anak Petani

Seringkali mereka yang sedang makan bersamaku merasa takjub. Mereka biasanya terpana melihat piringku tidak menyisakan sebutirpun nasi di permukaannya. Sebagian dari mereka secara sepihak menyimpulkan bahwa aku sedang mengamalkan sunnah. Kenyataannya, aku justru sering tidak sadar telah mengamalkan sunnah tersebut, sunnah tentang mencari berkah makanan hingga ke butir nasi terakhir.
Nasi adalah makanan pokok orang Indonesia, tetapi petani di Indonesia tidak pernah benar-benar menjadi orang kaya di negeri tempat padi tumbuh dengan subur. Di antara sekian juta jiwa penduduk Indonesia yang berprofesi sebagai petani, ayahku adalah salah satunya. Maka, dapat kupastikan bahwa keluarga kami bukan keluarga kaya. Kami adalah rakyat jelata, penduduk yang berada dalam deretan kaum miskin negeri ini.
Petak sawah yang dimiliki ayah tidaklah seberapa. Oleh karena itu, ia menjadi buruh tani agar mampu menghidupi kami sekeluarga. Ia mengerjakan sawah milik orang lain. Sepanjang yang mampu kuingat, ia tidak hanya mengerjakan sawah yang ditanami padi tetapi juga mengerjakan sawah tebu.
Ayah tidak pernah libur. Saat pagi setelah subuh, aku selalu melihatnya berangkat ke sawah. Ia ada di rumah kira-kira menjelang matahari tepat berada di atas kepala. Ia masih akan kembali ke sawah lagi hingga matahari hampir condong ke barat. Ia selalu berangkat dan pulang pada jam yang sama setiap hari meskipun tidak ada jam di pergelangan tangannya. Aku curiga ada jam matahari di sawah, namun aku tidak pernah menemui benda itu di sana.
Ayah selalu sibuk bekerja, tetapi kondisi ekonomi keluarga kami tidak mengalami perbaikan. Aku tahu karena uang jajanku tidak kunjung bertambah dari hari ke hari. Recehku selalu menjadi yang paling sedikit daripada teman-teman yang lain. Ups, tidak tidak! Masih ada tanah di bawah tanah, sama seperti masih ada langit di atas langit. Tetapi bagiku es krim dan cokelat adalah barang mahal dan pantang dibeli. Mungkin itu sebabnya aku tidak tergila-gila pada es krim dan cokelat seperti kebanyakan perempuan.
Kemiskinan kami pernah berada dalam taraf yang sangat parah. Saat itu menjelang hari raya, aku tidak ingat lagi tahun tepatnya. Seperti yang kita tahu, selalu ada perbedaan penentuan hari raya di negeri kita. Pada waktu itu, ibu bahkan berharap hari raya yang ditetapkan pemerintah jatuh pada hari lusa. Alasannya tak lain tak bukan, karena ia merasa kurang persiapan ekonomi untuk menyambut hari raya jika jatuh pada hari esok. Entah, waktu itu pengeluaran macam apa yang ingin ia lakukan, aku sudah tidak ingat lagi. Mungkin berbagi makanan dengan para tetangga, seperti yang biasa ia lakukan pada lebaran tahun-tahun yang lalu.
Kondisi semacam inilah yang membuatku di masa dulu sering kelaparan. Terkadang, meskipun ada banyak nasi, tetapi aku benci setengah mati dengan sayur dan lauk yang dimasak ibu. Tidak ada pilihan makanan lain, biasanya aku makan dengan bibir maju lima senti. Kesal bukan main, tetapi tidak bisa mengelak. Masih ditambah lagi fakta perjuangan ayah sebagai petani. Sungguh tidak bijak, jika aku tidak makan. Maka kuhabiskan hingga tandas semua nasi, sayur, dan lauk dalam piringku.
Tentu butuh waktu lama untuk mampu menjalankan kebiasaan ini. Sebelum paham, aku sering membuang makananku. Memberikannya kepada para ayam lebih tepatnya. Entah sejak kapan, akhirnya aku menanamkan pemikiran ini ke dalam otakku. Bahwa aku tidak boleh menyisakan sebutirpun nasi di atas piring. Tiba-tiba sudah menjadi kebiasaan, hingga sekarang.
Wahai anak-anak petani, aku tahu kalian juga merasakan apa yang kurasakan. Kalaupun tidak, kalian mungkin oknum. Jika orang tuamu adalah petani, apapun—bisa jadi petani melon, bawang, sawi, kol, dan lain-lain—kau akan tahu perjalanan panjang sepiring makanan terhidang di meja makan. Kemudian kau bertekad untuk tidak menyia-nyiakan perjuangan itu dengan cara memakannya hingga habis. Kau pasti akan sangat menyesal jika ada sebutir nasi yang harus berakhir di tempat sampah atau di kandang ayam. Begitulah.
Masih sepanjang yang aku ingat, masa-masa sulit dahulu justru menjadi masa-masa paling bahagia dalam hidupku. Sawah padi yang dikerjakan ayah letaknya hanya beberapa meter dari rumah. Biasanya, sepulang sekolah, aku menunggui sawah dari ulah burung-burung pemakan biji-bijian. Bersama kawan, kami berteduh dalam gubuk bambu beratap jerami. Aku bersama anak-anak lain mengikuti para tetua turun ke sawah saat acara syukuran sebelum panen. Syukuran ini berupa ritual kecil yang di kampung kami disebut methil. Mungkin karena pada ritual ini terdapat kegiatan memotong (methil) beberapa batang tanaman padi. Menurut adat Jawa, ritual ini berhubungan dengan Dewi Sri, peri tanaman padi. Keesokan harinya, aku dan kawan-kawan bermain di bawah naungan selembar jarik (kain batik) yang dibentangkan di antara dua pohon ketika orang-orang dewasa memanen padi.
Sawah tebu yang dikerjakan ayah letaknya lebih jauh, ada di dusun lain. Saat itu belum marak kendaraan bermotor. Jika tidak berjalan kaki, ayah menuju ke sana dengan naik sepeda. Akupun hanya sesekali mengikuti ayah ke sana. Meskipun demikian, bermain di antara pohon tebu juga tidak kalah seru. Beberapa kali ayah memberikan sebatang tebu untuk kami—anak-anak petani—hisap sari manisnya. Lalu saat pulang dari sawah tebu, kami berjalan dalam gaya tak beraturan ketika melewati turunan.
Wahai anak-anak petani, aku tahu kalian juga merasakan apa yang kurasakan. Jika tidak, kalian mungkin oknum. Jika kau tumbuh daerah pedesaan, kau memang tidak bisa merasakan mewah dan hingar-bingarnya kota besar. Namun kau merasakan kebebasan sebagai anak-anak yang tiada henti bereksplorasi. Dan saat dewasa, kau akan begitu rindu luar biasa pada sawah, sungai, pepohonan yang dulu sering menjadi tempat bermainmu. Kau akan rindu pada masa-masa itu. Aku tahu, karena akupun begitu.

(hae)

Advertisements

2 thoughts on “Anak-Anak Petani

  1. Jejak Parmantos says:

    Wah-wah yang nungguin burung itu pernah saya lakukan juga dulu waktu kecil. Dan bener sekali mba, kenangan tentang sawah memang kenangan terindah. Sampe2 saya pengin ngolah sawah sendiri suatu saat nanti, meskipun kuliah ngga ada hubungannya sama sekali dengan persawahan…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s