Tidak Suka Cerita Cinderella

Entah ini jenis iri dan dengki nomor berapa. Tetapi yang aku tahu, sama seperti jenis-jenis iri dan dengki yang lain, ia dapat membakar amalan-amalan baik yang telah kita kumpulkan dengan susah payah. Lantas mengapa aku tetap memelihara rasa iri dan dengki di dalam hati? Tunggu! Siapa bilang rasa ini disebut iri dan dengki? Mari kita sebut saja rasa ini dengan cemburu. Kalau kau mau, kau juga bisa menyebutnya sebagai patah hati.

Mengetahui bahwa teman karibmu—yang paling karib di antara karib-karib yang lain—akan segera genap jiwanya, genap agamanya, ternyata cukup menyesakkan dada. Hati yang sisi kanan berulang kali berujar, “Bergembiralah, kawanmu telah menemukan separuh jiwanya yang selama ini ia cari-cari setengah mati. Tidak lama lagi genap pula agamanya. Lengkap sudah hidupnya”. Hati yang sisi kiri pun menyahut, “Untuk apa kau bergembira? Hari-hari yang akan datang kelak kau jalani dalam kesendirian yang lebih sunyi dari sekarang”. Tidak berhenti sampai di situ saja, hati yang sisi kiri terus saja memprovokasi, “Ia bahagia di atas penderitaan orang lain, kan?”

Tidak!

Enyahlah kau setan jahat!

Ini seperti perjalanan panjang yang tidak kelihatan di mana ujungnya. Setiap kita berjalan bersama rombongan masing-masing. Bersama rombongan ini kita semua sedang mencari. Apapun. Berupa kedamaian hati, jiwa, dan raga. Namun, rombongan ini memang bersifat hanya sementara. Sebab terbentuknya rombongan ini sama sekali tidak terencana dan memang tidak direncanakan untuk selamanya. Kita menjadi anggota rombongan karena kita sama-sama sedang mencari. Daripada sendiri, lebih baik mencari bersama-sama. Itu saja. Meskipun apa yang dicari tidaklah sama.

Itulah mengapa, pada akhirnya satu per satu anggota rombongan ini melepaskan diri di tengah perjalanan. Bukan berarti mereka berhenti berjalan. Hanya saja, mereka telah menemukan apa yang mereka cari. Bisa jadi seorang pangeran, seorang putri, sekarung emas, atau bahkan sepotong hati yang hilang. Oleh karena itu mereka tidak perlu lagi berada dalam rombongan yang hanya sementara ini. Semakin lama semakin menipis jumlah anggotanya.

Demikianlah kemudian hal semacam ini akhirnya datang kepadaku. Pada suatu pagi, seorang kawan mengabarkan berita gembira bahwa ia telah menemukan apa yang ia cari. Tepatnya, mungkin, yang ia tunggu. Setelah khatam pelajaran membacanya, datang seorang pangeran mengajaknya pergi berdua saja. Berjanji menjalani hidup susah dan senang bersama-sama.

Inilah kisah cinta yang paling tidak aku suka. Seorang wanita dengan kehidupan mengenaskan lalu berubah menjadi putri dalam semalam dan bertemu pangeran tampan di istana raja. Keduanya menikah setelah melalui insiden sepatu kaca lalu mereka hidup bahagia selamanya. Kau tentu lebih tahu kisah selengkapnya. Betapa tampak mudah dan indah, dunia di negeri dongeng.

Apakah seorang pria hanya menikahi wanita cantik? Apakah seorang wanita hanya menikahi pria kaya? Jadi, wanita bersolek agar dapat menikah dengan pria kaya? Jadi, pria bekerja keras menjadi kaya agar dapat menikah dengan wanita cantik? Lantas bagaimana dengan wanita dengan tampang biasa dan pria berharta tidak seberapa? Padahal syarat bahagia tidak harus cantik, tampan, dan kaya, kan?!

Kawanku tidak hidup seperti Cinderella, tentu saja. Kehidupannya tidak pula mengenaskan seperti Cinderella yang diperbudak oleh saudara dan ibu tirinya. Ia juga tidak tanpa usaha dalam menanti pangerannya datang. Ia pasti juga ingin membangun peradaban agung bersama sang pangeran itu. Hanya saja, kenapa aku berpikir seakan hidupnya hanya untuk menanti pangeran datang layaknya Cinderella?

Mungkin aku hanya patah hati. Satu lagi kawan karibku akan pergi. Rasanya seperti ditinggalkan lagi. Satu lagi anggota rombongan berkurang. Rasanya semakin luas ruang kosong dalam diri. Satu per satu memang semuanya akan pergi. Hanya saja, setiap ada yang pergi selalu terasa ngilu di dalam hati. Sebab, aku tak akan lagi menjadi prioritas dalam hidup mereka. Kehidupan kami akan menjadi berbeda.

Mungkin aku hanya cemburu. Kepada mereka yang telah menemukan apa yang mereka cari selama ini. Sedang aku masih saja mencari. Bukan hanya separuh jiwa yang entah ada di mana, tetapi juga sepotong hati yang hilang. Adakah? Adakah yang bersedia membantuku mencari sepotong hati itu? Jika wanita, akan kubawa ke rumah sebagai saudara layaknya saudara kandung. Jika pria, akan kubawa ke penghulu. Mari tertawa!

 

_hae

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s