Tersesat Bersama Alice di Negeri Ajaib

Bertemu kelinci putih berbaju rompi yang memegang jam weker di tangan kanan. Masuk ke dalam lubang kelinci yang kedalamannya hampir mencapai pusat bumi. Berhadapan dengan banyak pintu keluar, tetapi hanya terdapat satu kunci. Mencoba kunci itu pada semua pintu, ternyata yang cocok adalah pintu yang paling tidak mungkin dilalui. Terlalu kecil. Meminum cairan pengecil. Kunci tertinggal di atas meja. Terlalu tinggi untuk digapai. Memakan roti pembesar. Mengambil kunci lagi. Meminum cairan pengecil lagi. Semua dilakukan agar dapat melewati pintu keluar. Kau tahu ke mana pintu itu menuju?

Wonderland.

Inilah Negeri Ajaib yang ditemukan (atau diciptakan?) Alice. Terima kasih kepada Johnny Depp, Anne Hathaway, dan Mia Wasikowska, yang berkat mereka aku berjumpa dengan Alice dan masuk ke Negeri Ajaib. Sudah tidak terhitung lagi, berapa kali aku menonton film Disney yang satu ini, Alice in Wonderland. Sebuah film fiksi fantasi besutan Tim Burton yang berangkat dari buku Alice’s Andventures in Wonderland dan Through The Looking Glass karya Lewis Caroll. Adapun versi bukunya, aku baru saja hendak membacanya.

Aku jatuh cinta. Kepada kisah semacam ini. Aku jatuh cinta. Selalu. Maka aku mengikuti petualangan Alice dan tersesat bersamanya di Negeri Ajaib. Semua bermula pada menit ke 02:38. Sebuah percakapan antara ayah dengan anak perempuannya yang berusia sekitar 7 tahun.

“Apa menurut Ayah aku sudah gila?”

“Itu yang Ayah takutkan. Kau sudah gila, sinting, kehilangan akal sehat. Tapi akan Ayah ceritakan sebuah rahasia. Semua orang-orang hebat begitu.”

Anak perempuan mana yang tidak tersentuh dengan perkataan ayah semacam ini?!

Sering terlintas dalam pikiranku, mungkin sejengkal lagi aku akan berubah menjadi gila. Bukan karena aku seperti Alice yang sering bertemu dengan makhluk-makhluk aneh dalam mimpinya. Sebenarnya, aku memang bertemu mereka, tetapi dalam tanda kutip. Makhluk-makhluk aneh dalam tanda kutip ini hampir selalu datang di setiap mimpiku. Sejak bertemu dengan mereka, agaknya pikiranku mulai tidak beres. Maka bagi diriku, percakapan antara Alice dengan ayahnya itu menjadi seperti oase di tengah panasnya padang pasir. Bahwa tidak apa-apa menjadi ‘gila’.

13 tahun kemudian, pada menit ke 03:35. Anak perempuan itu telah berusia sekitar 19 tahun. Ia kehilangan ayahnya dan kini bercakap-cakap dengan ibunya.

“Kau mimpi buruk lagi?”

“Cuma satu mimpi. Dan mimpi itu selalu sama. Bahkan aku tak bisa ingat kapan mulai bermimpi itu. Menurut ibu itu normal? Bukankah kebanyakan orang bermimpi hal yang berbeda-beda?”

Sama seperti Alice, agaknya aku telah memimpikan makhluk-makhluk aneh dalam tanda kutip ini sejak aku masih kecil. Juga sama tidak tahunya kapan semua mimpi ini bermula. Mungkin dimulai saat dulu aku maraton menonton kartun setiap hari Minggu. Mungkin dimulai saat aku membaca dongeng-dongeng di buku matapelajaran Bahasa Indonesia. Mungkin dimulai saat dulu aku mendengarkan siaran radio setiap sore hari. Mungkin dimulai saat dulu aku kehilangan orang-orang yang kusayangi satu per satu. Bisa jadi makhluk-makhluk aneh dalam tanda kutip ini kuciptakan sebagai pengganti dari mereka semua yang telah hilang. Setelah menggali ingatan sedikit demi sedikit, sama seperti Alice, mimpi ini tidak berubah sejak pertama kali kuciptakan. Bentuknya memang berbeda, tetapi intinya sama. Sama-sama aneh.

Mengikuti Alice berpetualang di Negeri Ajaib membuatku merasa tidak sendirian. Lagipula, petualangannya memang seru untuk diikuti. Dapat kau bayangkan? Hewan-hewan dapat berbicara (kiamat sudah dekat?!). Hewan-hewan dapat mengerti perkataan manusia. Burung doo doo dan burung jub jub. Kelinci ribut. Landak pemalu. Keluarga anjing penurut. Kuda licik. Ulat bulu berwarna biru yang menghisap shisha. Tikus gesit yang pandai bermain pedang. Kucing besar yang suka tersenyum dan dapat menghilang sesuka hati. Pasukan prajurit kartu merah. Pasukan prajurit bidak catur berwarna putih. Monster semacam Bandersnatch dan Jabberwocky. Ratu Putih. Ratu Merah. Si kembar Tweedledum & Tweedledee. Juga, Mad Hatter.

Aku jatuh cinta pada kisah Alice. Sebab ia tidak lupa dengan kehidupan nyata yang ia punya. Ia tidak hidup di dalam dunia imajinasi, dunia maya. Akan tetapi ia menghidupkan imajinasinya. Ia ingat untuk bangun dari mimpi dan menjadikan mimpi itu sebagai kenyataan.

Bagiku, petualangan Alice di Negeri Ajaib adalah sebuah perjalanan mencari jati diri. Siapa dirinya. Apa yang ingin ia lakukan di masa depan. Di akhir cerita, ia berhasil menemukan jawaban dari kedua pertanyaan tersebut. Pada menit ke 60:20:20, Alice bercakap-cakap dengan Absolem si ulat bulu berwarna biru.

“Jangan pergi. Aku butuh bantuanmu. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan”

“Aku tidak bisa menolongmu jika kau tidak tahu siapa dirimu, gadis bodoh.”

“Aku tidak bodoh. Namaku Alice. Aku tinggal di London. Ibuku bernama Helen. Dan kakakku bernama Margaret. Ayahku Charles Kingsleigh. Dia punya pandangan ke depan yang terbentang setengah dari dunia ini, dan tak ada yang bisa menghentikannya. Aku puterinya, Aku Alice Kingsleigh.”

“Alice, akhirnya.”

Akhirnya ia tahu dari mana ia berasal, sedang di mana ia berada, dan harus ke mana ia pergi. Oleh karena itulah ia memutuskan untuk kembali ke kehidupan nyatanya. Meski demikian, ia tidak lantas melupakan seluruh kehidupan di Negeri Ajaib, berikut penghuninya. Pada menit ke 60:35:15, Mad Hatter menawarinya sebuah ide gila.

“Kau bisa tinggal.”

“Ide yang bagus. Ide yang gila, edan, dan sinting. Tapi aku tak bisa. Ada pertanyaan yang harus kujawab, hal yang harus kulakukan. Aku akan kembali sebelum kau menyadarinya.”

“Kau takkan ingat aku lagi.”

“Tentu aku akan ingat. Bagaimana aku bisa lupa?”

Demikianlah. Hidup akan terasa hambar tanpa adanya imajinasi, fantasi, mimpi, seni, dan sejenisnya. Namun kita tidak bisa terus-terusan hidup dalam dunia yang semu, dunia maya. Secukupnya saja. Dan tetap menghidupkan imajinasi itu di dalam diri.

Adapun aku? Siapa aku? Apa yang ingin kulakukan di masa depan?

Aku sudah tahu. Sungguh, aku sudah tahu. Inilah pertama kalinya dalam hidupku aku tahu apa yang harus kulakukan. Tetapi aku tidak akan menceritakannya di sini, tentu saja. Agak sulit melakukannya. Benar-benar sulit. Meski demikian, kau tidak akan pernah benar-benar tahu sampai kau mencobanya, kan?!

_hae

Advertisements

2 thoughts on “Tersesat Bersama Alice di Negeri Ajaib

  1. Sekar says:

    ada yang beranggapan, memetakan pembaca itu mudah sekali, apalagi kalau buku kesukaannya adalah fantasi. Misalnya, ia ingin sebentar saja keluar dari realita yang menghimpit. meski nggak semuanya begitu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s