Antara Aku, Ibu, dan Benang

Ibuku adalah seorang penjahit. Ruang kerjanya ada di bagian paling depan rumah kami, berbagi dengan ruang tamu. Di ruang kerja ibu terdapat sebuah mesin jahit Butterfly. Kau tahu? Itu adalah mesin jahit yang punya dua roda untuk menggerakkannya. Satu di bagian kepala, ukurannya kecil. Satu lagi di bagian kaki, ukurannya seperti roda sepeda. Tanganku sering gatal ingin memainkan roda yang di bagian kepala. Ibu akan buru-buru menghentikanku jika tanganku mulai mendekatinya.

Sebuah meja kayu berukuran panjang diletakkan melintang berlawanan arah dengan mesin jahit. Ada sebuah keranjang warna biru di atasnya. Keranjang itu berisi kain perca. Dulu, keranjang itu adalah sebuah ayunan bagiku. Adapun sisa ruang panjang di atas meja kayu itu ibu gunakan sebagai alas untuk membuat pola-pola pakaian yang hendak ia jahit. Alat yang ia gunakan untuk membuat pola adalah sebuah meteran, kapur, dan penggaris. Penggaris yang ibu gunakan bentuknya unik, seperti gitar. Aku sering menjadikannya sebagai mainan juga, pura-pura main gitar.

Bisa kau bayangkan? Meteran tergantung di leher, sebuah kapur di tangan kanan, dan penggaris di tangan kiri. Usai pola pakaian dibuat, gunting siap mengambil alih. Pola-pola yang telah menjadi potongan-potongan kain, siap dijahit. Selanjutnya ibu akan duduk di balik mesin jahit. Tangan kanannya mulai memutar roda di kepala mesin. Tangan kirinya memegangi kain di bawah jarum yang terpasang di mesin. Sedang kakinya bersiap mengayuh pedal mesin. Lalu suara mesin terdengar di seluruh ruang rumah kami, bahkan bunyinya sampai ke rumah tetangga.

Jam kerjanya dimulai saat aku telah berangkat sekolah. Belanja, memasak, mencuci, menyapu, dan pekerjaan sejenisnya, ia lakukan di sela-sela aktivitas menjahit. Ibu baru akan mengakhiri pekerjaannya ketika malam telah larut, ketika aku telah melayang di dunia mimpi. Dan ibu selalu menjadi orang yang membangunkanku di pagi hari.

Sebagai anak dari seorang penjahit, pakaian-pakaianku banyak yang terbuat dari kain perca. Ibu jahit sedemikian rupa kain-kain sisa dari pelanggannya menjadi sebuah baju baru yang tidak bisa kutemui di pasar manapun. Pernah suatu waktu, aku memiliki rok yang ia namakan rok payung. Bentuknya memang seperti payung, hanya saja minus kerangka. Suatu kali, blues yang sudah terlalu pendek untuk kupakai, ia ubah menjadi sepasang baju berupa hem lengan pendek dan celana sepanjang betis. Rasanya seperti menjadi kelinci percobaan. Meski demikian, aku selalu menyukai baju apapun yang ibu buat.

Ibuku tidak pernah melibatkanku dalam pekerjaannya kecuali dalam satu hal: membeli benang. Saat masih duduk di bangku SD, aku menempuh jarak sepanjang kurang lebih satu kilometer dengan menggunakan sepeda. Ketika melewati jarak yang terbentang antara rumah dan sekolah itu aku melewati sebuah pasar. Di pasar itulah toko yang menjual perlengkapan jahit berada. Setiap kali ibu kehabisan benang, maka aku yang bertugas untuk membelinya. Aku akan mampir toko dalam perjalanan pulang. Penjual di toko itu tentu hafal dengan wajahku karena aku sering berkunjung ke sana. Ia bahkan tahu siapa ibuku. Begitulah kehidupan di desa. Seorang warga dapat mengenal seluruh penduduk desa berikut pekerjaan mereka masing-masing.

Pekerjaan semacam ini berlanjut hingga aku duduk di bangku SMP. Aku memang tidak lagi bersepeda ke sekolah. Terlalu jauh, sepuluh kali lipat jarak rumahku dengan sekolah SD-ku. Saat itu aku menggunakan jasa angkutan umum. Tempat semacam halte yang di sana aku biasa menunggu angkutan umum, tepat berada di depan toko yang menjual peralatan jahit. Seperti biasa, ketika ibu kehabisan benang maka aku yang akan membelikannya. Namun penjual yang ini tidak mengenaliku dan ibuku tentu saja, kami tinggal di kecamatan yang berbeda.

Barulah semua pekerjaan semacam ini berakhir ketika ibu pergi. Tidak ada lagi kegiatan membeli benang usai pulang sekolah. Kalender berulang kali diganti. Musim kemarau dan penghujan datang silih berganti. Aku sudah jauh meninggalkan seragam merah-putih, biru-putih, dan abu-putih. Mesin jahit Butterfly ibu sudah tidak ada di rumah. Meteran dan kapur juga sudah tidak ada. Kain perca, jarum, dan benang juga tidak ada. Keranjang dan penggaris mungkin disimpan ayah di gudang bambu belakang rumah. Bahkan rumah kami sudah berubah. Hanya ada mesin obras yang entah mengapa ayah masih meletakkannya di rumah kami yang bagian depan. Mungkin karena gudang ayah tidak cukup untuk memuatnya.

Kemudian aku bertemu seorang kawan. Ia merajut dengan menggunakan dua jarum yang dalam dunia rajut dikenal dengan nama breien. Aku penasaran. Sebelumnya aku hanya tahu rajut dengan menggunakan satu jarum yang disebut hakpen. Aku mempelajarinya semasa SMP, pada waktu pelajaran tata busana. Di kemudian hari akhirnya aku tahu, ada dua jenis rajut. Crochet dan knitting. Adapun perajutnya disebut dengan crocheter dan knitter. Dulu yang kupelajari adalah crochet dan kini aku lebih banyak menggeluti dunia knitting, rajut dua jarum.

Satu hal yang tak bisa dipisahkan dari seorang perajut yaitu benang. Saat merajut, aku seperti kembali ke masa lalu. Menemui ibu yang berada di balik mesin jahitnya. Aku tidak bermaksud untuk hidup di masa lalu. Hanya saja, akan menyenangkan jika aku dapat menghidupkan kenangan masa lampau. Semacam nostalgia.

Aku berpikir. Mungkin aku akan berakhir seperti ibu juga. Hanya sampai pada kepala empat. Mereka bilang, penyakit orang tua dapat menurun kepada anaknya. Ibuku sering duduk ketika bekerja, aku pun juga. Ibuku sering tidur larut malam, aku pun juga. Sayang, aku susah sekali bangun pagi.

Rasanya seperti Putri Tidur yang setengah mati dijauhkan dari mesin pemintal namun pada akhirnya takdir membawanya ke sana juga. Bedanya, bukan tertidur, aku justru hidup bersama jarum dan benang. Satu lagi, aku belum bertemu pangeran dari negeri seberang. Tetapi bukankah aku tidak suka cerita Cinderella? Tetapi Putri Tidur berbeda dengan Cinderella, kan? Ah, sudahlah. Aku terlalu banyak hidup dalam belantara dunia fiksi.

Selamat Hari Ibu!

_hae

Advertisements

One thought on “Antara Aku, Ibu, dan Benang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s