english.vietnamnet.vn

Kesuma Jatuh Tidak Jauh dari Tangkainya

Sebelum jauh bercerita, baiknya aku jelaskan dulu kepadamu bahwa kesuma dan tangkai yang kumaksud di sini adalah kesuma a.k.a. bunga dan tangkainya pohon jeruk, jeruk bali tepatnya. Sekedar wawasan, jeruk bali ini kalau di negerinya Ratu Elizabeth sana disebut dengan pomelo, tapi sayang, Sang Ratu agaknya kesulitan jika ingin memakan buah yang satu ini. Bagaimana tidak, pomelo ini memang buah khas di negara-negara Asia Tenggara, seperti negara kita ini. Indonesia! Nah, jika kau sedang ada waktu luang dan berlibur ke Magetan, maka mudah saja kau temui buah yang manis itu. Bisa pula kau beli dan bawa pulang untuk oleh-oleh. Oke, mari kita mulai kisah ini.

Beberapa puluh tahun yang lalu, tegak berdiri menjulang tinggi dua pohon jeruk berukuran besar di depan rumah kami. Usianya lebih tua dari usia kami. Kedua pohon ini tidak ada tiganya. Artinya, hanya kami yang memiliki pohon jeruk di depan rumah. Adapun tetangga-tetangga kami biasanya menanam pohon mangga di depan rumah mereka.

Pada setiap musimnya berbuah, pohon jeruk ini berbunga terlebih dahulu layaknya musim semi. Bunganya berwarna putih, berukuran kecil, dan tumbuh bergerombol. Jumlahnya sangat banyak, hampir memenuhi seluruh permukaan tangkai. Mereka mengundang para lebah datang. Saat bangun pagi, kami selalu mendengar suara dengungan lebah-lebah ini. Lalu aroma wanginya menguar ke udara yang kami hirup.

Kelopak, kadang bersama benang sari dan putik, bunga jeruk ini tidak akan bertahan lama di tangkai. Mereka jatuh berguguran ke tanah. Mendadak, di halaman rumah kami terhampar permadani putih. Setiap pagi, akulah yang diberi tanggung jawab oleh ibu untuk menyapu halaman. Sungguh, susah sekali membersihkan mereka. Bayangkan, benda-benda kecil di antara kerikil. Tetapi apa daya, tugas tetaplah tugas. Harus dikerjakan.

Jika masa berbunga sudah usai, mulailah bakal buah jeruk itu tampak. Awalnya hanya sebesar jeruk biasa yang sering kau temui di pasar itu. Semakin hari, buahnya semakin besar, sebesar bola sepak yang sering ditendang anak-anak lelaki di lapangan itu. Kalau sudah begini, orang-orang yang lalu lalang di depan rumah kami bisa dipastikan selalu mendongak ke atas demi mengamati buah pohon jeruk kami.

Berbeda dengan bunganya, buah jeruk kami jarang jatuh berguguran ke tanah. Kalaupun jatuh, nasibnya tidak jauh berbeda dengan bunga jeruk. Persis seperti pepatah kita, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pepatah ini digunakan untuk memberikan perumpamaan bagi sifat anak yang seringkali, bahkan bisa dipastikan, tidak jauh berbeda dengan sifat orang tuanya.

Berbicara tentang orang tua, ayah kami adalah bapak desa yang kolot. Cita-citanya menjadi seorang PNS dan atas berkah dari Tuhan Yang Maha Esa, cita-cita itu terkabul. Ia suka menyibukkan diri dengan tanaman. Ia mencangkul tanah, menanaminya, memanennya, mencabut atau menebangnya, lalu ganti dengan tanaman baru. Selalu begitu siklusnya. Ia juga suka menyimpan barang-barang rusak lalu mendaur ulang barang itu menjadi barang baru. Misalnya, jam rusak ia jadikan pigura. Televisi jadul, yang bukan menggunakan remote control untuk mengganti channel melainkan alat putar, ia jadikan pigura juga. Ia pampang foto-foto diklat PNS-nya di televisi jaman kompeni itu. Kursi rusak pun ia akali jadi rak kecil, ia gunakan kaki-kaki kursinya.

Berbeda denganku, saudaraku (yang cuma satu-satunya itu) mampu berdamai dengan bapak. Ia juga bisa mengerti hingga paham apa yang diperbincangkan oleh bapak. Adapun aku, jika berhadapan dengan bapak, seperti menghadapi alien yang baru mendarat dari planet antah berantah. Aku hampir selalu bertentangan dengan segala pendapatnya. Pada akhirnya, ia yang selalu mengalah dan menuruti kemauanku. Memang benar apa kata orang, orang tua tidak akan pernah menang melawan anaknya.

Seiring berjalannya waktu, aku menyadari satu hal. Hampir seluruh sifat-sifatku adalah juga sifat-sifat bapak. Demikian pula dengan saudaraku itu. Kami berdua memang anaknya bapak, mau bagaimana lagi. Cobalah kau tilik juga sifat-sifat orang tuamu dan kau bandingkan dengan sifatmu sendiri. Kau akan kaget melihat hasil penilikan itu. Nah, akulah permisalan si kesuma yang jatuh tak jauh dari tangkainya itu. Kugunakan istilah baru supaya indah saja. Perempuan identik dengan bunga, kan?!

Jika kupikir lamat-lamat, agaknya di dalam darah bapak desa yang kolot itu mengalir sedikit jiwa nyentrik di dalamnya. Masih ingat dengan pigura dari jam bekas dan televisi bekas tadi?! Darah itu pula yang mengalir di dalam diriku. Bedanya, tanpa sadar aku memelihara baik-baik  si jiwa nyentrik itu sehingga lama-lama cukup sinting jiwaku ini.

Ada ide-ide gila di dalam otakku dan aku memperjuangkannya. Saat mendengar ide-ide ini bapakku berkata, “Ojo koyo cebol nggayuh lintang!”. Akulah si pungguk yang merindukan bulan. Timbul belas kasihan dalam diri bapak desa yang kolot itu kepada anak perempuan yang malang ini. Namun bagaimana lagi, bukankah hidup ini memang perjuangan. Apalah artinya hidup jika kau tidak memiliki harapan. Kita semua akan mati dan menyatu dengan tanah pada akhirnya. Tetapi Tuhan telah berbaik hati memberikan kita pilihan, cara seperti apa yang kita inginkan untuk mati.

Orang-orang yang telah mengenal dan bertemu denganku pasti menganggapku sebagai pribadi yang kalem, anak baik-baik yang tidak banyak tingkah, macam anak-anak eksak yang suka meneliti itu. Namun mereka tidak pernah tahu bahwa jiwaku terdampar di pulau orang-orang ‘gila’ dan aku harus beradaptasi di sana. Dan memang itulah yang kupilih. Segala puji syukur bagi Tuhan Yang Maha Esa, telah menganugerahkan akal kepada manusia sehingga jiwa sintingku masih dikendalikan oleh akal sehat.

_hae

Advertisements

12 thoughts on “Kesuma Jatuh Tidak Jauh dari Tangkainya

  1. Jejak Parmantos says:

    Harum bunganya seperti harum melati ya mbak? saya pernah dibikin penasaran oleh bau harum melati (padahal melati tidak tumbuh di Turki), setelah dicari, eh ternyata berasal dari pohon jeruk… 😀

    Perumpamaanya anti-mainstream, keren! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s