Eko Nurdianto

Di Antara 3 Masjid

Ini bukan tentang 3 masjid yang selalu dirindukan umat untuk sujud di sana. Mereka bukan masjid-masjid di tanah impian. Bukan Masjidil Haram, bukan Masjid Nabawi, juga bukan Masjidil Aqsha. Masjid-masjid ini sangat jauh letaknya dari masjid di Makkah, Madinah, dan Palestina itu. Namun besar kemungkinan, 3 masjid yang ini senantiasa dirindukan oleh mereka yang pernah tinggal di Yogyakarta. Aku salah satunya. Begini ceritanya.

Entah bagaimana denganmu, tetapi aku seringkali lupa untuk menyambut Ramadhan dengan hati gembira. Aku selalu takjub, melihat semangat yang kau dan mereka lontarkan ke segala penjuru arah mata angin. Seperti percikan kembang api yang menghiasi langit malam. Indah, warna-warni, meriah. Adapun aku, mungkin terakhir kalinya hati ini gegap gempita dengan kedatangan Ramadhan adalah bertahun-tahun lalu ketika masih menyandang status sebagai seorang bocah SD. Mungkin juga tidak.

Kemarin ketika aku masih seorang mahasiswa baru yang mendadak sibuk dengan acara Ramadhan di kampus, aku was-was mengamati pergerakan waktu yang semakin dekat membawa Ramadhan. Sementara segala persiapan acara kampus itu masih kurang di sana-sini. Sekarang ketika aku adalah seorang pekerja yang sehari-hari menjaga sebuah toko, aku kembali was-was menjelang Ramadhan tiba. Jam kerja usai hanya beberapa menit dari adzan Maghrib. Bagaimana dengan buka puasa? Bagaimana dengan shalat Maghrib? Isya? Tarawih? Bagaimana dengan tilawah Quran?

Namun kemudian pemahaman ini hadir. Seiring langkah kaki yang kupaksakan menuju ke 3 masjid ini pada bulan Ramadhan setiap kali waktu Isya tiba. Jika kau juga kadang merasa terpaksa melangkah ke masjid, kau tidak sendiri. Jadi, tetaplah berangkat. Mengutip salah satu judul majalah Tarbawi bertahun-tahun silam, terkadang kebaikan memang harus dipaksakan. Mari kita anggap sebuah keterpaksaan ini adalah bentuk perlawanan terhadap serangan setan dan nafsu dalam diri kita.

Saat mahasiswa, aku tinggal tak jauh dari kampus. Artinya, itu dekat dengan Masjid Kampus UGM, sesuatu yang baru kusadari setelah beberapa waktu tinggal di kota Yogyakarta. Inilah masjid pertama yang kumaksud. Bersama kawan-kawan satu atap, aku menunaikan shalat Isya dan Tarawih di masjid ini. Setelah mendaki tangga halaman masjid dan gerbang pengantin yang legendaris itu, kami mendaki tangga utama masjid menuju lantai dua, sebab lantai 1 diperuntukkan bagi jamaah laki-laki. Tempat favorit kami yaitu di sayap selatan. Anginnya jauh lebih sepoi-sepoi daripada di sayap utara. Pengisi khutbah tarawih di masjid ini selalu membuat jamaah merasa wah. Sebut saja ketua MPR misalnya. Mungkin suatu saat Presiden yang menyampaikan khutbah Tarawih di masjid ini. Biasanya, tarawih selesai sekitar pukul 9.

Menjelang hari-hari kelulusan, aku memutuskan pindah tempat tinggal. Kali ini dekat dengan Masjid Nurul Ashri, sesuatu yang juga baru kusadari setelah pindah rumah. Inilah masjid kedua yang kumaksud. Lagi, bersama kawan-kawan satu rumah, aku berjalan melewati gang Deresan. Imam Tarawih di masjid ini biasanya adalah santri tahfidz Quran yang asramanya memang berada di samping masjid. Tarawih di masjid ini biasanya juga selesai sekitar pukul 9.

Kini, aku adalah penduduk (?) Yogyakarta bagian selatan, jaraknya dengan wilayah Bantul hanya sepelemparan batu saja. Tanpa disengaja, tempat tinggalku saat ini dekat dengan Masjid Jogokariyan. Inilah masjid ketiga yang kumaksud. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, aku tak lagi berangkat ke masjid bersama kawan-kawan. Mereka kini telah bertebaran di belahan bumi yang lain. Tahukah kalian ini apa artinya? Langkahku semakin berat! Namun memang benar kata orang bijak. Buah dari keterpaksaan di jalan kebaikan rasanya manis. Setelah bergabung dengan jamaah lain di masjid, mendadak runtuh pula beban berat yang sebelumnya memborgol kaki. Perasaan semacam inilah yang tiap kali kudapat ketika tiba di masjid ini, juga di Masjid Kampus UGM dan Masjid Nurul Ashri. Semoga demikian halnya pula dengan masjid-masjid di seluruh penjuru dunia.

Menurutku, jika diibaratkan, Masjid Kampus UGM adalah pusat pemerintahan sebab ia dekat dengan kalangan negarawan, Masjid Nurul Ashri adalah lembaga pendidikan sebab ia dekat dengan para penghafal Quran, dan Masjid Jogokariyan adalah tempat tinggal warga sebab ia dekat dengan kehidupan kampung. Adapun aku, tersesat di antara 3 masjid ini.

Sebagai seorang yang sering khilaf, aku merasa beruntung tinggal di tempat-tempat yang berdekatan dengan masjid. Bertemu dengan banyak orang, menjumpai semangat saudara-saudara seiman yang meluap-luap, melihat wajah mereka yang basah oleh air wudhu, mendengar suara mereka yang melantunkan ayat-ayat al-Quran, semuanya bersatu padu menyalakan semangat. Rasa khawatir terhadap kedatangan Ramadhan yang semula menjangkitiku, perlahan pudar. Lalu hari-hari di bulan Ramadhan menjadi menyenangkan. Ramadhan adalah bulan paling sibuk di antara bulan-bulan yang lain. Ini adalah kesibukan di jalan kebaikan, yang jika aku dan kau menempuhnya maka keberkahan melimpahi kita.
_hae

#RamadhanMenulisAlaMelimovers-3
Jogokariyan, 09 Ramadhan 1437

Advertisements

7 thoughts on “Di Antara 3 Masjid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s