Geronimo, Witing Trisno Jalaran Soko Kulino Ngrungokno

Jika kamu pikir ini adalah tentang seorang pejuang suku Indian Amerika, bukan itu maksudku. Juga bukan judul lagu maupun teriakan orang-orang yang melompat dari ketinggian. Geronimo yang kumaksud di sini adalah Geronimo FM. Radio yang mengudara di frekuensi 106.1 FM.

Sebelumnya kesan hedon selalu terlintas dalam benakku ketika melihat logo Geronimo di baliho konser atau festival. Sebelumnya aku juga tidak tahu bahwa radio ini berkantor di Jogja, di Jalan Gayam sana. Sebelumnya, aku mengira radio ini berada di Jakarta, tempat segala industri hiburan bermuara. Jadi, pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak sayang itu memang benar adanya.

Cobalah sekali-kali dengarkan radio ini. Nuansanya benar-benar Jogja. Bisa mulai dirasakan dari tagline-nya yang berbunyi love Jogja and you. Bagi yang sedang sendiri, beberapa jam sekali ada iklan layanan masyarakat jomblo yang sekedar menyapa dan mengingatkan makan. Ini yang kadang-kadang membuatku senewen *eh. Ada pula iklan-iklan nostalgia, tentang Jogja yang dulu banyak suara kring-kring sepeda dan langkah kaki kuda penarik delman. Setiap satu jam sekali disiarkan kondisi jalanan Jogja yang kebanyakan dinyatakan ramai lancar. Padahal menurutku, Jogja di bagian manapun sudah masuk taraf macet kecuali saat malam hari. Setiap satu jam sekali juga disiarkan info-info terkini seputar kabar lokal hingga internasional. Maka dijamin, pendengar tidak akan ketinggalan berita-berita terbaru. Acara-acaranya juga menghibur sekaligus mendidik. Sebut saja Kos-kosan Gayam, Klinik 24, hingga Sasisoma—Sana Sini Soal Agama—kajian rutin setiap hari Jumat.

Untuk urusan penyiar, Geronimo punya penyiar-penyiar yang seringkali membuat pendengarnya tertawa terpingkal-pingkal. Mereka konyol dan ramah. Terbukti dari banyolan mereka yang tidak pernah basi dan kesediaan mereka dalam membacakan hingga membalas pesan-pesan yang masuk ke nomor maupun akun sosial media Geronimo. Pernah suatu kali aku mengirim pesan yang menanyakan judul sebuah lagu. Kupikir mereka tidak akan meresponnya. Ternyata mereka justru membacakannya secara on air dan membalas pesanku! Mendadak aku bernostalgia ke zaman SMP dulu, ketika aku dan kawan-kawan saling bertukar sapa lewat radio.

Urusan lagu, Geronimo selalu me-rangking 40 lagu hits international dan 10 lagu hits Indonesia setiap seminggu sekali. Sejauh ini aku juga cukup menikmati setiap playlist Geronimo. Jenis lagunya bervariasi dan mereka sangat mengapresisi musik-musik indie. Terkait musik indie ini, aku adalah orang awam. Sebelum bertemu dengan Geronimo, aku tidak pernah mendengarkan musik indie. Hanya sekedar tahu 1-2 band indie, tanpa tahu lagu mereka. Tentu saja asing pada awalnya. Bahkan kadang, aku merasa lagu-lagu indie itu agak aneh.

Namun karena sering mendengarkan di radio, alam bawah sadarku menyimak lirik lagu mereka. Saat itu barulah aku menyadari bahwa musik indie memiliki genre musik serta lirik yang unik! Selain itu, liriknya seringkali mengandung makna yang dalam, filosofis. Lama-lama telingaku akrab dengan mereka dan aku suka.

Tidak hanya musik dan lirik, nama band indie ini pun unik. Efek Rumah Kaca dan Musikanan, agaknya sudah akrab kita dengar namanya. Sebut lagi ada Teman Sebangku, Korek Kayu, Jurnal Terbakar, Jalan Pulang. Nah, bisa jadi sebuah cerpen, kan?! Tentang band yang kusebut terakhir, Jalan Pulang, salah satu lagunya berjudul Mei. Sungguh, pada mulanya aku benar-benar merasa konyol mendengarkannya. Nada-nadanya pelan seakan penyanyinya tidak ikhlas bersuara. Liriknya hanya kudengar setengah-setengah sehingga aku tidak paham maksudnya.

Seiring lagu Mei ini diputar setiap hari di Geronimo, aku terbiasa dengannya. Menikmati iramanya dan menyelami maknanya. Menurutku, lagu ini bukan sekedar lagu cinta. Lebih jauh lagi, agaknya lagu ini bercerita tentang salah satu korban kerusuhan Mei 1998. Begini analisisnya (berasa skripsi *eh). Mei itu sendiri adalah nama bulan terjadinya kerusuhan pada tahun 1998 itu. Lalu, nama Mei identik dengan orang-orang Tionghoa. Mei Mei kawan Upin dan Ipin, keturunan Tionghoa, kan?! Kerusuhan Mei 1998 menelan banyak korban dari suku ini.

Bisa jadi ini memang tokoh khayal, tetapi sangat mungkin bahwa orang-orang seperti Mei ini memang ada dan banyak jumlahnya. Mei menghilang di sekitar pertokoan dan kini orang-orang mulai lupa dengannya. Lupa dengan tragedi Mei 1998. Hanya ibunya yang masih mengenangnya dengan cara selalu memasak menu kesukaannya. Juga dia—entah kekasih, entah sahabatnya—yang kini merindunya.

Seperti lagu-lagu yang lain, aku juga akan mendengarkan Mei berulang kali sampai bosan *haha. Khilaf bahwa dulu pernah menertawakan lagu ini. Maka, pepatah Jawa yang menyebutkan bahwa witing trisno jalaran soko kulino itu benar adanya. Cinta bersemi karena sering bersama. Pada kasusku, witing trisno jalaran soko kulino ngrungokno, cinta bersemi karena sering mendengarkan. Jadi, berhati-hatilah jika sering-sering bersama dengan siapa atau apa saja. Mendengar suara, melihat rupa, atau bahkan membaca tulisan orang lain. Bisa-bisa cinta tumbuh di antara kalian. *eh

(hae)

Sumber gambar di sini

Advertisements

10 thoughts on “Geronimo, Witing Trisno Jalaran Soko Kulino Ngrungokno

  1. Jejak Parmantos says:

    Baca ini semacam nostalgia masa SMA-awal2 kuliah… dulu (sampai sekarang kayaknya) radio jadi tempat paling update lagu2 baru, soalnya kebanyakan band promosinya lewat radio. Radio yang paling sering saya puter dulu Retjo Buntung, unt update lagu Istakalista/Swaragama, kl buat leyeh2 siang hari sambil langgaman paling pas GCD FM hehe

  2. edo says:

    Klo untuk jakarta, geronimo mengudara di frekuensi brp ya mas? Hehehe soalnya denger cerita mas, ngebayangin radionya kayanya ayem bgt suasananya hehehe salam kenal btw 🙂

  3. Septalia A. Wibyaninggar says:

    Masa SMA-ku (mungkin juga sama sepertimu) juga lumayan lekat dengan radio. Apalagi beberapa saluran radio di Madiun memiliki program yg menyetel lagu-lagu Jepang. Haha. Pasti langsung ingat DCS FM. 🙂 Sering sekali mendadak jatuh hati kepada suatu lagu, namun tak tahu judul dan penyanyinya siapa. Walhasil, kirim SMS ke penyiarnya demi menanyakan lagu “easy listening” apa yg diputar barusan. Senang ketika SMS itu dibaca dan mengudara beserta jawabannya.
    Masa SMA awal lekat dengan radio, namun bukan radio HP. Radio tape biasa yg bisa diputar-putar button-nya untuk mengatur volume dan salurannya. Sekarang radio bahkan ada di HP, malah bisa didengarkan pakai headset. Semakin individualis, tak bisa didengarkan bersama-sama.
    Sometimes kita jadi rindu masa-masa seperti dulu. Belum ada sarana komunikasi seinstan dan semudah sekarang. Kirim salam lewat radio saja sudah mampu membuat bahagia. Sesederhana itu.
    Rasanya romantis juga kalau hujan-hujan di rumah, ditemani radio yang memutar lagu2 pop roman semacam Maudy Ayunda, sambil minum cokelat hangat. *apasihini wkwk. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s