Subuh

Malam itu gelap telah memeluk semua pohon dan bangunan di desa kami. Namun senja belum benar-benar meninggalkan penduduk. Jejaknya berupa segaris merah di ufuk barat masih terlihat. Pertanda waktu maghrib belum habis.

Dua bocah duduk di kursi kayu yang berada di balik meja panjang. Aku menemani mereka mengerjakan PR. Matematika bab bilangan pangkat dua dan tiga, lewat. Bahasa Indonesia bab kata depan, lewat. Kini, Bahasa Inggris bab waktu, PR milik seorang bocah kelas 7.

Bocah itu gemar bercerita. Cerita-cerita kecil seputar teman-temannya, guru-gurunya, maupun pengalamannya bermain di sungai. Tentu saja aku suka mendengarkan ceritanya, namun hal ini kerap membuatnya teralihkan dari PR yang sedang ia kerjakan.

Akhirnya bocah itu sampai pada soal terakhir ketika adzan Isya berkumandang. Bukan soal yang sulit. Ia hanya perlu menuliskan aktivitas hariannya sesuai urutan waktu. Meski demikian, bukan berarti ia tidak perlu berpikir.

“Setelah bangun tidur, apa saja yang kamu lakukan? Bisa mandi, sarapan, bersih-bersih rumah!” Aku memancing pikirannya.

“Salat subuh!”

Oh, Tuhan!

Jawaban spontan bocah itu membuatku terpana beberapa saat. Tidak seperti dirinya, aku sama sekali tidak berpikir tentang salat. Baiklah, PR berlanjut.

“Salat dhuhur tidak?” tanyaku padanya ketika sampai pada jam makan siang.

Dengan malu-malu ia menjawab sambil tertawa, “Tidak.”

Aku mengikuti tawanya. Lebar.

(hae)

Sumber gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s