Menyusuli Alice yang Menembus Dinding Kaca

Bagi saya, selain menenggelamkan diri dalam buku, masuk ke dalam dunia film juga merupakan aktivitas yang ampuh untuk memperbaiki suasana hati. Pertama, saya akan benar-benar keluar dari dunia yang sekarang sedang saya huni dan alami untuk kemudian menjelajahi dunia lain yang ada di alam imajiner. Kedua, ada pesan-pesan moral yang bisa saya petik kapanpun, sepanjang alur cerita. Ketiga, tanpa diduga ide bisa tiba-tiba datang menghampiri saya di tengah-tengah keasyikan menikmati adegan demi adegan.

Saat menonton sebuah film, saya meletakkan berbagai masalah yang membebani hati dan pikiran. Meskipun memang hanya sejenak, durasi film paling banter hanya sampai tiga setengah jam. Setelah itu, pikiran jadi segar dan bukan tidak mungkin saya justru menemukan solusi dari masalah yang saya hadapi dari sebuah film. Saya pun bisa menyelesaikan masalah dengan tenang.

Tentang salah satu film yang berhasil membuat saya kembali mendapatkan energi yaitu Alice in Wonderland: Through The Looking Glass. Oleh karenanya, saya sepakat dengan artikel di Trivia yang berjudul 15 Daftar Film yang Wajib Kamu Tonton di 2016 ini.

Film ini merupakan sekuel dari film Alice in Wonderland yang rilis tahun 2010 silam. Kedua film ini diangkat dari sebuah karya sastra anak klasik yang ditulis oleh Lewiss Carol dengan judul yang sama. Jujur, saya menonton film terlebih dahulu daripada membaca bukunya. Saya tidak bermaksud judge a book by it’s movie ataupun sebaliknya karena kedua hal ini memang berbeda dan saya menyukai keduanya. Namun, perlu saya tulis di sini bahwa sebenarnya kisah Alice pada buku pertama dan kedua Alice in Wonderland sudah terangkum dalam film pertama. Adapun film kedua, bisa dibilang merupakan kisah improvisasi dari perjalanan Alice yang penuh imajinasi.

Ulasan tentang film pertama sudah pernah saya tulis dan bisa dibaca di sini. Sekarang, mari bersama saya menyusuli Alice yang menembus dinding kaca. Tidak akan lama. Hanya beberapa paragraf saja.

Ia sedang kebingungan. Kapal ayahnya yang selama 3 tahun belakangan menjadi kendaraan bagi petualangannya kini hendak diambil alih oleh orang yang dulu dijodohkan dengannya. Hatinya semakin terluka saat mengetahui bahwa orang yang membuat hal itu terjadi, tak lain dan tak bukan adalah ibunya sendiri. Kegelisahan Alice terlontar dalam sebuah pertanyaan.

Alice : “Sign over the Wonder and give up on the impossible. Then who will I be?”
Absolem : “You’re Alice, of course!”

Saya tertohok dengan dialog antara Alice dan Absolem tersebut. Itulah pertanyaan yang hari-hari ini sering menghinggapi kepala saya. Saya khawatir terhadap banyak hal. Saya takut dengan berbagai macam kemungkinan masa depan. Saya was-was dengan pendapat banyak orang tentang saya. Semua ini karena rencana-rencana hidup yang sudah saya susun sedemikian rupa, ternyata tidak berjalan sesuai dengan kenyataan. Gagal total! Lalu, hendak jadi apa saya setelah ini?

Dialog Alice dan Absolem ini akhirnya membangunkan saya dari segala bentuk keterpurukan. Bahwa yang perlu saya lakukan hanyalah menjadi diri saya sendiri. Melakukan hal-hal yang saya sukai. Mewujudkan mimpi-mimpi yang saya miliki. Itulah jalan yang kelak akan menuntun saya pada cita-cita mulia manusia, memberi manfaat sebanyak mungkin kepada orang lain dan mati dalam keadaan husnul khatimah.

Tidak bisa tidak, saya kembali jatuh cinta pada kisah Alice di negeri ajaibnya. Secara singkat, film Alice in Wonderland : Through The Looking Glass mengajak para penonton untuk mengikuti perjalanan Alice yang kembali ke Negeri Ajaib. Jika sebelumnya ia memasuki Negeri Ajaib melalui lubang kelinci, kini ia masuk melalui dinding kaca. Di Negeri Ajaib, Alice melakukan misi penyelamatan terhadap Mad Hatter yang tengah sakit. Misi penyelamatan itu membuatnya harus menempuh perjalanan kembali ke masa lalu. Secara sinematografi, jelas tak perlu diragukan lagi kualitasnya. Meskipun banyak orang bilang film ini agak di luar ekspektasi, bagi saya film ini memang pantas bahkan wajib untuk ditonton.

_hae

P.S.
sumber gambar ada di sini.

Advertisements

2 thoughts on “Menyusuli Alice yang Menembus Dinding Kaca

    • Henny Alifah says:

      Ahaha, gunduuuuul
      Iya, Tweedledee dan Tweedledum juga semua tokoh di film sebelumnya muncul lagi di film kedua
      Kalo menurut orang dewasa, bisa jadi bakal mikir alur ceritanya biasa aja Masih bisa digali harusnya, mungkin karena kejar tayang jadi segitu doang, wkwkwk
      Tapi kalo untuk ditonton anak-anak, film ini udah bagus banget kok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s