Setiap Hari Adalah Senin. Setiap Hari Adalah Minggu

Bagaimana mungkin? Padahal dalam satu pekan ada hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Tetapi ini sungguh menimpa diri saya. Mungkin inilah yang disebut dengan elastisitas waktu.

Ketika semua hari terasa seperti hari Senin. Berangkat pagi pulang malam. Tangan, kaki, dan pikiran tidak berhenti bekerja. Ini saya alami ketika bekerja di toko benang dan peralatan rajut. Sedikit-sedikit, saya turut merasakan apa yang dirasakan oleh para wirausahawan muda yang diwakili oleh atasan saya, sang pemilik toko. Tidak hanya harus kuat secara fisik karena harus siap sedia restock barang dagangan sambil melayani pelanggan, tetapi juga harus kuat secara psikis dan otak karena harus menghadapi pelanggan bawel sekaligus memikirkan cara memutar uang.

Bagi sang pemilik toko, setiap hari adalah Senin dan setiap hari adalah Minggu. Bisa bekerja sepanjang waktu namun hati tetap gembira melakukan setiap pekerjaan. Pada awalnya saya juga demikian. Saya menikmati bertemu dengan banyak orang yang beragam karakternya. Saya pun bisa meningkatkan kemampuan merajut di sela-sela pekerjaan. Dan kadang-kadang masih ngobrol pekerjaan di luar jam buka toko.
Namun seiring berjalannya waktu, ada sisi lain yang berkali-kali mengetuk pintu hati saya. Sesuatu yang dulu sering saya lakukan tetapi kini cukup sering saya tinggalkan. Membaca dan menulis. Dua hal itulah yang membuat hari-hari saya terasa seperti hari Senin selalu. Saya bekerja 6 hari dalam satu pekan, namun entah mengapa rasa-rasanya kalender saya tidak punya hari Minggu.

Saya tetap menikmati bekerja di toko, berbagi ilmu merajut dengan banyak orang, membantu orang-orang menemukan benang dan alat rajut yang mereka butuhkan, dan membuat benda-benda rajutan. Kalau diibaratkan, mungkin saya ini berada pada hari Jumat tetapi tidak pernah sampai pada hari Sabtu dan Minggu. Sedikit lagi menyentuh ruang istirahat, tetapi hanya sampai di depan pintu. Tidak pernah benar-benar masuk ke dalamnya.

Hal ini berbeda ketika sekitar satu tahun yang lalu saya menjalani pekerjaan sebagai penulis media online. Sebenarnya pekerjaan itu juga menyediakan sedikit ruang untuk beristirahat. Tetapi saya masih memiliki banyak waktu untuk membaca, bercengkerama dengan para guru kehidupan. Saya merasa hari-hari saya ketika itu layaknya hari Minggu selalu.

Pada akhirnya saya sadar, bahwa pekerjaan memang menuntut 24 jam waktu kita setiap hari, sepanjang tahun. Itulah mengapa banyak orang yang memberi nasihat untuk memilih pekerjaan yang sesuai dengan minat. Sebab seluruh waktu yang kita miliki akan tercurah kepada pekerjaan tersebut.

Tidak ada satupun pekerjaan di dunia yang boleh diremehkan. Tidak ada satupun cita-cita manusia yang boleh ditertawakan. Asalkan tujuannya satu. Pekerjaan itu menuntun kepada-Nya. Di persimpangan jalan, saya memilih kembali masuk ke dalam rimba kata. Ini dunia kreatif yang tidak semua akal dan hati orang tua menerimanya. Maka, saya berharap saya mampu menjelaskan ranah kreatif ini kepada Bapak. Sudah.

_hae

Sumber foto ilustrasi ada di sini ya

Advertisements

5 thoughts on “Setiap Hari Adalah Senin. Setiap Hari Adalah Minggu

  1. Leli says:

    Halo mbaaaaa.. aku habis baca blognya mas parmantos yang di atas, dia review bukunya mba henny 😀

    Boleh mesen jg? aku penasaran

    Hmm iyaa tidak ada pekerjaan yang bisa di remehkan, karna intinya kerja itu ibadah ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s