99 Cahaya di Langit Eropa The Movie. 3 Jam Penuh Menelusuri Jejak Kejayaan Peradaban Islam di Benua Eropa

Bagi yang mengikuti beberapa postingan saya di sini, mungkin bisa dengan mudah menebak film apa yang menjadi favorit saya. Apalagi kalau bukan Alice in Wonderland, ha! Alasan konyolnya karena Alice—yang diperankan oleh Mia Wasikowska—digambarkan memiliki lingkar hitam di matanya, seperti saya. Tetapi tentu saja Mia Wasikowska jauh lebih cantik dari saya, lah! Alasan filosofisnya karena film ini menyimpan dua pesan magis bagi saya. Pertama, saya menemukan kunci jawaban atas pertanyaan paling sulit yang pernah saya hadapi.

“Untuk apa saya hidup di dunia ini?”

Kuncinya ada tiga, saya harus tahu dari mana saya berasal, sedang di mana saya berada, dan harus ke mana saya pergi. Kedua, film ini memberikan petunjuk arah pada saya yang sempat tersesat dalam perjalanan ke tempat tujuan. Petunjuknya satu, jadilah  berani a.k.a. be yourself , eh nyambung nggak sih?! Ah, sudahlah, begitu pokoknya.

Nah, berhubung saya sudah pernah menuliskan tentang Alice in Wonderland, maka saya memutuskan untuk membahas film favorit saya yang lain. Setelah mengobrak-abrik folder  film di dalam hardisk, akhirnya pilihan jatuh pada film anak negeri, 99 Cahaya di Langit Eropa. Saya tidak menyangka akhirnya memilih film yang diadaptasi dari buku Hanum Salsabiela dan Rangga Almahendra ini. Namun setelah menimbang-nimbang sambil menonton ulang, saya yakin bahwa saya tidak salah pilih.

Alasannya karena saya cinta Islam. Entah sejak kapan. Mungkin sejak ibu menyuruh saya menyapu mushola di sebelah rumah hampir setiap hari. Mungkin sejak ayah menyekolahkan saya di SD Islam. Mungkin sejak kakak memberikan buku-buku Islam pada saya. Yang jelas, berkat Islam saya merasa hidup saya lebih bermakna. Meskipun agaknya cinta saya masih perlu diuji karena ibadah masih bolong di sana sini.

Film 99 Cahaya di Langit Eropa ini mengajak saya ke Wina, Paris, Cordoba, dan Turki dalam waktu tiga jam untuk menelusuri jejak peradaban Islam. Oh ya, saya suka pelajaran sejarah! Lengkap sudah. Biasanya saya kecewa menonton film adaptasi buku yang mana buku itu sudah saya baca sebelumnya. Tetapi pengecualian bagi film ini. Sejak menit pertama film ini diputar, saya jatuh cinta. Musiknya khas Timur Tengah yang kemudian musik khas Eropa juga senantiasa mengiringi cerita di sepanjang film. Prolognya tentang ekspansi Dinasti Ottoman Turki ke benua Eropa yang disertai gambar peta. Oh ya, saya suka peta! Kemudian cerita berlanjut mengikuti hari-hari Hanum dan Rangga selama tinggal di Wina, Austria. Perkenalan Hanum dengan Fatma dan Marion yang membukakannya pintu menuju jejak peradaban Islam di Eropa serta pertemanan Rangga dengan Khan dan Stefan yang selalu diliputi isu SARA.

Secara ringkas, jejak peradaban Islam yang berhasil saya lacak dalam film ini ada tujuh.

1.    Bukit Kahlenberg

Photo credit: kahlenberg.wien

Bukit Kahlenberg via kahlenberg.wien

Bukit ini menjadi saksi kekalahan Dinasti Ottoman Turki yang mencoba berekspansi ke wilayah Eropa Barat. Kara Mustafa, panglima perang Dinasti Ottoman Turki, menyerbu kota Wina pada tahun 1683 dan mendapat serangan balik dari bukit Kahlenberg ini.

2.    Croissant dan Cappucino

Photo credit: Flickr

Croissant dan cappuccino via Flickr

Konon katanya roti ini dibuat sebagai simbol kekalahan Turki atas Wina yang mendapat bantuan gabungan dari Jerman dan Polandia. Bentuknya sengaja dibuat menyerupai bulan sabit seperti yang terdapat dalam bendera Turki. Setiap kali menggigit roti ini seakan mereka memakan orang-orang Turki. Adapun cappucino, konon asalnya dari biji-biji kopi Turki yang tertinggal di medan perang Kahlenberg. Biji-biji kopi ini diolah oleh orang Eropa sehingga menjadi cappucino yang enak seperti yang bisa kita rasakan sekarang.

3.    Gereja Baroque

Photo credit: travelklima.de

Karlskirche, gereja baroque di Wina via  travelklima.de

Ada cukup banyak gereja gaya baroque di Eropa. Gereja ini memiliki atap yang berbentuk seperti kubah masjid. Gaya ini disebut-sebut terinspirasi dari bentuk masjid-masjid yang ada di Turki.

4.    Lukisan Bunda Maria karya Ugolino de Neiro

Photo credit: wikimedia.org

Bunda Maria oleh Ugolino de Neiro via wikimedia.org

Lukisan ini tersimpan dengan aman di Museum Louvre. Bunda Maria yang menggendong seorang bayi dalam lukisan ini mengenakan penutup kepala yang berhiaskan tulisan Arab Kufic berbunyi, laa ilaha illa Allah. Kemungkinan besar, pelukisnya tidak tahu menahu apa arti kalimat tauhid tersebut. Ibarat orang Indonesia yang mengenakan baju bertuliskan bahasa Inggris tanpa tahu apa artinya. Seperti itulah orang-orang di Eropa saat itu. Pada abad 12, peradaban Islam memang berada di puncak keemasannya sehingga para bangsawan dan raja di Eropa kagum dengan kerajinan tangan orang-orang Timur Tengah. Permadani, keramik, kain sutra dari Timur Tengah yang berhias tulisan-tulisan Arab diimpor ke Eropa.

5.    Jubah Raja Wina

Photo credit: trc-leiden.nl

Roger II of Sicily Mantle via trc-leiden.nl

Kejadian yang sama dengan lukisan Bunda Maria di Museum Louvre menimpa pada jubah Roger II of Sicily. Raja ini dikabarkan menyukai budaya Arab. Ia memesan jubah dari seorang muslim Arab untuk dikenakan pada hari pengangkatannya menjadi Raja. Terdapat kalimat tauhid dalam jubah bordirnya. Sekarang jubah ini tersimpan rapi di Museum Harta Kerajaan, Istana Hofbur di Wina, Austria.

6.    Voie Triomphale

Photo credit: imageshack.com

Voie Triomphale imageshack.com

Terdapat garis imajiner a.k.a. Axe Historique yang tepat membelah kota Paris dalam satu garis lurus. Garis ini lurus menghubungkan Grand Arche de La Défense—Arc de Triomphe de l’Étoile—Koridor Jalan Champs-Élysées—Obelisk Luxor—Arc de Triomphe du Carrousel—dan Piramida Louvre yang sedikit bergeser ke utara. Napoleon Bonaparte adalah orang yang berada dibalik terciptanya garis imajiner yang juga dikenal dengan nama Voie Triomphale ini, jalan menuju kemenangan. Pada awalnya ia hanya memerintahkan untuk membangun dua monumen besar yang mengapit jalan Champs-Élysées setelah berhasil menaklukkan Mesir. Monumen itu berbentuk pintu gerbang sebagai simbol kemenangan dan pembebasan. Barulah kemudian tahun-tahun setelahnya satu per satu muncul bangunan tambahan di sepanjang garis lurus tersebut. Uniknya, jika kita terus menarik lurus garis imajiner ini hingga ke luar negara Perancis dan menembus benua lain, lurus terus ke arah tenggara sesuai arah patung Quadriga dan malaikat di atas Arc de Triomphe du Carrousel, maka akan kita dapati bangunan paling impresif sedunia, Ka’bah di Mekkah. Inilah mengapa lantas muncul kontroversi bahwa Napoleon Bonaparte menjadi mualaf setelah menaklukkan Mesir.

7.    La Mezquita

Photo credit: Minube

La Mezquita via Minube

Bangunan yang ini adalah peninggalan Dinasti Umayyah di Andalusia, Spanyol kini. La Mezquita yang dulu adalah Masjid Cordoba, sekarang berubah menjadi gereja sejak Dinasti Umayyah runtuh akibat serangan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Sebelum gelar city of light disandang oleh Perancis, Cordoba inilah yang dulu dikenal dengan gelar tersebut. Kota ini membuka jalan bagi kemajuan Eropa saat ini.

Selain itu, jejak peradaban Islam di Eropa yang tertulis dalam buku namun hanya sekilas dibahas di film ini adalah piring-piring hias bertuliskan bahasa Arab yang tersimpan di Museum Louvre dan Al-Hamra di Granada.

Dan terakhir, saya dibawa ke Turki! Istanbul, Bolu, Alacati, cities of my dream! Saya jadi ingat, buku 99 Cahaya di Langit Eropa lah yang membuat saya tergila-gila dengan Turki. Rasa-rasanya di sanalah asal nenek moyang saya. Ya, siapa tahu, kan?! Sejarah nusantara tidak lepas dari peran orang Arab dan Turki. Mungkin buyutnya buyut buyut buyut saya adalah seorang Turki yang dulu tinggal di Indonesia pada masa kerajaan Aceh. Mungkin inilah mengapa saya sedikit memiliki wajah Timur Tengah, ha! Pikiran konyol dan agak kepedean, abaikan.

Photo credit: Instagram Mim Kahve

Photo credit: Instagram Mim Kahve

Film ini, seperti bukunya, berhasil menambah kecintaan saya kepada Islam, kepada Allah. Bagaimanapun hebatnya orang-orang di luar sana berusaha menceraikan saya dari Islam, saya bertekad untuk tidak melepaskan ikatan ini. Kita sama tahu bagaimana kondisi negeri kita saat ini yang kacau balau dengan segala intrik politik, berita palsu, komentar pedas di berbagai lini massa, saling tuding-menuding siapa yang salah, dan juga pelemahan umat Islam. Jangan pergi, saudaraku seiman. Jangan pergi dari jalan Islam. Setiap kali ragu membayangi pikiranmu, gali kembali tentang ajaran agama ini. Saya bisa memberimu rekomendasi buku bagus jika kamu mau, agar kamu kembali yakin. Dan mari bersama-sama membela agama ini. Juga tolong ingatkan saya jika suatu hari saya melenceng dari jalan ini.

Salam ‘Alaikum,
Henny

Advertisements

8 thoughts on “99 Cahaya di Langit Eropa The Movie. 3 Jam Penuh Menelusuri Jejak Kejayaan Peradaban Islam di Benua Eropa

  1. cerired says:

    hhaha aq blm baca novelnya, tp suka ama filmnya ahah,, bagus filmnya, tp aku nntonnya pas keduanya lgsg keluar. kelemahan film ni konfliknya adax di akhir aj, bingung bagi konflikx kayakx
    emg kelemahan novel klo dibagi 2 part filmnya kdu pinter bagi konfliknya biar g kcewa kl nnton yg pertama aj ato kedua aj gra2 ad konflik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s