Proposal Daisakusen. Cinta di Masa Lalu, Sekarang, dan Nanti

Prodai, drama I love the most! Selain genre fantasi, saya termasuk tipe orang yang suka film melo-drama. Proposal Daisakusen a.k.a. Prodai ini adalah drama Jepang, jadi sekalipun melo-drama di dalamnya kerap dibumbui tingkah konyol para pemainnya. Prodai ini film jadul, tahun 2007, namun gelar the favorit drama movie tetap saya serahkan pada film ini. Awalnya saya kira saya akan memilih drama Korea, tetapi setelah dipikir ulang, tidak tidak. Saya tetap lebih suka drama ini daripada drama yang lain. Sensasi menonton drama ini seperti sedang nostalgia.

Saya suka kisah Ken dan Rei yang jadi tokoh utamanya. Saya suka Yamapi dan Masami Nagasawa yang jadi pemeran utamanya. Saya suka persahabatan lima sekawan dalam drama ini—Ken, Rei, Mikio, Eri, dan Tsuru. Saya suka soundtrack filmnya—Ashita Hareru Kana—yang kini jadi semacam life soundtrack bagi saya, sebab tiap kali jenuh dengan lagu-lagu lain saya lari ke lagu ini, versi piano, untuk menjernihkannya dan berhasil. Saya suka pengambilan gambarnya, setiap ruang, meja, bangku, rumah, bangunan, pohon, bunga, jalanan, dan segala sesuatu yang ada di drama ini benar-benar Jepang. Ya iyalah! Oh iya, drama ini juga memenangkan banyak penghargaan film di Jepang sana.

Saya seperti melihat pantulan cermin diri saya sendiri saat menyaksikan Ken dan Rei yang tidak pandai menyampaikan perasaan, menutupi isi hati agar tidak tampak lemah. Kamu tahu, semacam perasaan canggung-aneh-konyol ketika bertemu gebetan atau mantan, seperti itu. Perasaan ingin terlihat tabah menahan marah atau rindu, padahal dalam hati teriak tak karuan. Harusnya, kan, kalau tidak sepakat ya bilang tidak sepakat, suka bilang suka, jelek bilang jelek, kesal bilang kesal, tapi bagi seorang introvert sungguh itu bukan perkara mudah. Persis seperti Ken dan Rei itu, yang saling suka tapi tidak pernah sekalipun mengatakannya dengan terang dan jelas.

Katanya, seorang lelaki tidak bisa melepaskan cinta pertamanya, sedang perempuan tidak bisa melepaskan cinta terakhirnya. Spirit inilah yang jadi bahasan utama dalam drama sebelas episode tersebut. Ken dan Rei adalah teman sejak kecil yang selalu berada di kelas yang sama dan bangku bersebelahan hingga mereka SMA. Saking dekatnya hubungan, mereka justru sungkan hendak bilang cinta. Sebagai seorang perempuan, tentu Rei menginginkan seorang lelaki yang kelak akan menikahinya. Maka ketika datang orang baru dalam kehidupan mereka, yaitu Tada-san, maka Rei menerima lamarannya, meninggalkan Ken yang patah hati tiada henti. Sampai-sampai di hari pernikahannya, Ken tetap menyesali kebodohannya yang tidak pernah berterus terang pada Rei.

Kemudian datang si peri gereja dalam tampilan bapak-bapak yang juga punya peran penting dalam drama ini. Peri ini mengizinkan Ken untuk bertualang ke masa lalu demi memperbaiki kesalahannya di belakang. Melalui slide foto pernikahan Rei, Ken kembali ke masa mudanya, ketika ia berada di bangku SMA hingga kuliah yang mana selalu ia lalui bersama Rei dan ketiga kawannya yang lain. Namun malang, sekuat apapun ia berlari—literally berlari—dari kenyataan, Ken tidak pernah bisa mengubah masa lalunya dan Rei tetap menikah dengan orang lain.

Ken semakin terpuruk ketika teringat bahwa ia pernah berjanji pada Rei akan mencurahkan seluruh jiwa raganya sepanjang hidup demi Rei. Ini lebay, maaf! Janji yang dulu waktu kecil begitu mudah ia ucapkan, ternyata tidak mampu ia tepati ketika dewasa. Perasaan yang dulu waktu kecil bisa dengan mudah ia ungkapkan, ternyata tidak mampu ia lantangkan ketika dewasa. Apalagi ketika ia mengetahui bahwa Rei mengaku tidak pernah menyesali segala keputusan dalam hidupnya, Ken merasa hina karena berlaku curang dengan memanipulasi masa lalunya melalui perjalanan waktu. Oleh karena itu Ken akhirnya punya keberanian untuk menghadapi kenyataan. Ia kembali ke pesta pernikahan Rei dan menyampaikan pidatonya yang mengharu biru.

Bagi saya, ada banyak pelajaran kehidupan dalam film ini. Seperti yang saya ceritakan barusan, bukan hanya tentang cinta melulu, tetapi juga tentang menghadapi rasa penyesalan dan menyuarakan pikiran. Saya pernah menyesali beberapa hal dalam hidup ini, namun hidup terus berjalan maka saya juga harus tetap berjalan. Lalu tentang keberanian mengambil resiko, bayangkan saja Ken itu memutuskan untuk menyatakan cintanya di hari pernikahan Rei. Resiko banget, kan. Singkatnya, sih, ini misi merebut istri orang! Namun motivasi yang melatarbelakanginya dikemas dengan sangat apik sehingga penonton—termasuk saya—jadi mendukung aksi Ken.

Saya juga suka kisah cinta masa kecil semacam kisahnya Ken dan Rei ini sebab mereka mengingatkan saya akan hari-hari yang lalu, ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar yang super bahagia bukan hanya karena si dia—siapa?—tetapi juga karena dikelilingi teman-teman sepermainan yang juga sama-sama super bahagia. Ingatan bahagia ini bisa membantu saya dalam menghadapi masa-masa yang berat di masa sekarang. Saya berharap kamu juga punya kenangan bahagia seperti ini dalam menjalani kerasnya hidup. Nah, jadi seperti cinta Ken pada Rei dan sebaliknya yang long-lasting itu, Proposal Daisakusen bagi saya adalah drama yang saya cintai di masa lalu, sekarang, dan nanti.

Henny

Advertisements

9 thoughts on “Proposal Daisakusen. Cinta di Masa Lalu, Sekarang, dan Nanti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s