Kenang-kenangan dari Festival Kanca

Ini festival yang saya ikuti bulan Maret lalu. Festival yang menjadi tempat bertemunya para penggemar, pencipta, dan pelaku konten kreatif. Sempat maju mundur di awal, antara berangkat atau tidak karena pertimbangan satu dan lain hal. Tapi saya senang akhirnya saya memilih berangkat. Seperti biasa, saya ke sana naik bus yang melaju secepat aksi kebut-kebutan di film Fast and Furious.

Tiba di terminal Giwangan, saya melanjutkan perjalanan ke lokasi festival menggunakan bus Trans Jogja. Turun di halte dekat jokteng wetan lalu naik becak menuju Greenhost Boutique Hotel, tempat berlangsungnya festival Kanca. Tentang tempat ini, sebelumnya saya sering mendengarnya dari kawan-kawan di Poyeng. Saya selalu penasaran saat mereka menyebut tempat ini, tak disangka akhirnya bisa ke sana dalam rangka menuntut ilmu.

ini sisi ikonik Greenhost, hasil jepretan Sis Ceri

Bagi saya, festival ini memang seperti sekolah. Non formal, tentu saja. Sebagai peserta, saya bertemu banyak influencer yang mumpuni di bidangnya masing-masing. Saya mengikuti kelasnya Alexander Thian atau yang lebih dikenal dengan koh Amrazing, blogger sekaligus influencer yang aktif di Twitter dan Instagram. Ia bercerita banyak tentang creative content. Salah satu yang saya catat bunyinya,

Your sincerity counts, it matters a lot

Maksudnya bahwa setiap konten yang kita unggah di jejaring sosial hendaknya melibatkan ketulusan hati di dalamnya. Jadi nggak cuma ngejar like, share, dan gratisan.

Berikutnya, saya mengikuti kelas yang diisi oleh editor in chief cewekbanget.id kak Trinzi (tapi sekarang kakak yang tinggi semampai ini sudah pindah tim, meskipun masih satu atap dengan Kompas Gramedia). Ia menyampaikan tips konten viral, misalnya materi kesukaan Gen Z adalah hal-hal yang berkaitan dengan K-Pop/drama/movie, selebriti, dan perempuan tangguh. Kelas ini diakhiri dengan workshop menulis dan ta da! Saya senang bisa membawa pulang backpack merah marun karena konten yang saya tulis dalam workshop tersebut.

Kemudian saya masuk ke kelas privatnya ibu Maggie Tiojakin. Sebelum masuk kelas ini, saya sempat galau luar biasa bersama Sis Ceri, rekan saya. Pasalnya hanya peserta khusus saja yang boleh mengikuti kelas ini yaitu lima belas orang yang telah mendaftar jauh-jauh hari. Sementara nama kami tidak masuk dalam daftar tersebut. Namun mbak Prima, dalang dibalik keikutsertaan kami di festival ini, meyakinkan bahwa masih ada kursi kosong bagi kami. Lagipula cuaca sedang hujan dan kami tidak bisa pulang. Maka daripada bengong sia-sia, jadilah kami masuk ke kelas tersebut. Salah satu pesan ibu Maggie Tiojakin yang saya catat berbunyi

Look beyond the obvious

Pada titik ini akhirnya saya mengerti apa yang dimaksud dengan melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, different angle bahasa kerennya. Sulit menjelaskannya, hanya bisa dirasakan. Ha! Bilang aja kehabisan kata, dih! Look different angle ini merupakan hal penting dalam proses kreatif menulis dan juga pekerjaan kreatif lainya. Pokoknya selalu lihat sisi lain dari suatu masalah gitu aja lah ya.

Keesokan harinya, saya mengikuti kelas kak Windy Ariestanty dan saya terpukau. Terpesona dengan gaya tuturnya yang mengalir lancar dan menyentuh emosi pendengar. Secara umum yang disampaikan Kak Windy hampir sama dengan ibu Maggie Tiojakin, bedanya Kak Windy ini praktis memberikan contoh-contoh storytelling dengan menceritakan kisah-kisah pribadinya. Jika ingin tahu seperti apa contohnya, cobalah buka akun Instagram iwashere dan baca caption-nya. Saya juga terkesan dengan Kak Windy yang menghentikan penyampaian materinya ketika terdengar adzan dhuhur, di sekitar Greenhost memang ada banyak masjid. Mungkin motif utamanya adalah suaranya akan bersaing dengan suara adzan jika ia terus bicara, tentu ini akan mengganggu peserta, kan? Tapi saya juga senang karena ini sejalan dengan sunah, bahwa kita dianjurkan diam mendengarkan adzan yang berkumandang.

Selanjutnya, saya bertemu Aan Mansyur! Dulu saya sering baca puisinya di koran Kompas, pernah langganan patungan sama teman-teman kontrakan. Sebenarnya nggak banyak ngerti arti puisinya, sih, tapi selang beberapa tahun kemudian saya baca buku kumpulan puisinya yang digarap bareng fotografer dan salah satu bait puisinya nempel di otak saya. Bunyinya,

Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta aku melihat nasib manusia. Terkutuk hidup di bumi bersama jangkauan lengan mereka yang pendek dan kemauan mereka yang panjang.

Penggalan bait ini ada di buku kumpulan puisi Tidak Ada New York Hari Ini, itu lho yang di film AADC 2 jadi puisinya Rangga. Pada sesi bersama Aan Mansyur ini saya baru tahu, ternyata proses syuting film AADC 2 menunggu selesainya buku ini. Konon, awalnya tidak ada skenario tentang Rangga yang jadi penulis atau penyair, baru lah terinspirasi demikian setelah buku ini rampung. Anggapan saya sebelumnya, buku ini baru lahir setelah ada AADC 2, eh ternyata justru sebaliknya.

Total ada belasan kelas dan sesi dalam festival ini yang beberapa di antaranya dilaksanakan secara bersamaan namun di ruang yang berbeda. Kelas-kelas yang saya ikuti ini hanya sebagian dari kelas keseluruhan tersebut, tetapi semoga bisa menggambarkan betapa menyenangkan festival ini. Kabar baiknya, festival ini akan diadakan lagi, tapi mungkin di kota dan gedung yang berbeda. Yang jelas, bertemu dengan pelaku kreatif seperti dalam festival Kanca ini selalu menyenangkan dan membuat kita terinspirasi.

Henny

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s