Wiwit

Lama tidak menulis tentang girls squad. Jadi begini, saat kuliah dulu saya punya semacam geng yang anggotanya mencapai belasan perempuan dan setelah melalui kurun waktu tertentu akhirnya kami dipanggil Keluarga Guci. Ceritanya agak rumit buat diceritakan di sini. Kalau mau tahu mungkin saya bisa cerita saat nanti kita ketemuan langsung. Nah, kapan?

Beberapa dari mereka sudah pernah saya ceritakan di sini, sini, dan sini. Sesuai judul, kali ini saya akan bercerita tentang Wiwit. Agaknya teman saya asal Klaten ini yang paling sering membuat saya baper, kalau tidak mau disebut iri.

Dia generasi pertama di angkatan kami yang lulus kuliah. Dia lalu bekerja sebagai editor, yang mana adalah pekerjaan impian saya saat kuliah. Sempat berhenti untuk menempuh studi S2 di UI dan lagi-lagi kemampuannya sebagai editor memang tidak perlu diragukan lagi. Ia kini menjadi editor di sebuah penerbit mayor. Saat kuliah dulu, saya tidak pernah melihat tanda-tanda kegemarannya pada buku. Mungkin saya memang bukan teman yang baik sampai-sampai tidak tahu apa yang ia sukai, bagaimana kehidupannya di masa lalu, rencana dan impiannya di masa depan, dan beragam masalah yang harus ia lalui setiap hari.

Nah, sampai di sini sudah paham baper macam apa yang saya maksud? Saya bahkan pernah semacam meminta pekerjaan darinya. Hina, hina, deh. Salah sendiri tidak menjaga pertemanan dengan baik, selalu berdalih risih mau mengganggu dia yang ada jauh di ibu kota sana. Sekalinya mengganggu, eh ganggu banget.

Lagi, ada baper jenis lain. Beberapa hari yang lalu, ia baru saja melangsungkan pernikahannya. Saya sedikit-sedikit tahu bagaimana lika-liku perjalanannya dalam menemukan jodoh. Sedikit banget sih. Kan ketahuan lagi bukan teman yang baik!

Saat kuliah, dia pernah dijanjikan menikah oleh seorang lelaki tetapi rupanya janji itu tidak ditepati dan lelaki itu justru menikah dengan perempuan lain. Konyolnya, orang-orang dalam jalinan cinta segitiga ini saya kenal semuanya.

Lalu muncul di pikiran saya, bahwa Wiwit memang pantas mendapatkan jodoh yang jauh lebih baik dari lelaki tersebut. Meskipun bertubuh mungil, Wiwit memiliki jiwa yang besar. Bagaimana tidak? Bahasa gampangnya begini, dia itu ditinggal nikah sama mantan, Sis, mantan! Tetapi ia justru semakin kuat dan kuat, bukan layu. Sudah menyandang alumni UGM, alumni UI, jadi editor top, sholihah pula. Oke, bisa dibilang Wiwit ini adalah eksekutif muda yang syar’i.

Saya yakin perjuangannya untuk menata hatinya yang pernah terluka itu tidak mudah. Hingga akhirnya beberapa tahun kemudian barulah ia mau membuka hatinya pada lelaki yang jadi suaminya kini. Meskipun saya tidak kenal, tetapi menurut saya, Wiwit memang sangat pantas bersanding dengannya. Bisa dibilang lelaki itu juga seorang eksekutif muda yang syar’i. Dan dengar-dengar, lelaki itu tidak sepenuhnya asing baginya. Sebut saja teman SMA.

Nah, ini nih, yang membuat saya baper. Teman lama, sodara-sodara, teman lama! Sebab saya juga merindukan teman lama, berharap menjadi baru tapi tak kunjung ada titik temu. Eh, apakah saya mulai melantur?

Baik mari segera sudahi saja. Yang jelas, dari Wiwit ini saya belajar untuk senantiasa menjadi kuat dan lebih kuat meskipun patah entah berapa kali, untuk tetap tumbuh meskipun dalam kondisi yang sulit. Seperti tanaman yang bahkan jika terhalang kerasnya aspal ia tetap tumbuh. Dan tidak lupa, selamat untuk Wiwit atas pernikahannya dan segala capaiannya. Semoga senantiasa dilimpahi keberkahan dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Wiwit, jika kamu membaca ini, saya minta maaf atas segala bentuk gangguan chatting dan nananina yang saya timbulkan selama ini. Saya minta maaf tidak menjadi teman yang baik. Maaf, saya tidak ada bersama kamu ketika kamu sedang sedih.

Katanya mau disudahi?

Sebentar, satu lagi. Wiwit ini adalah salah satu orang yang—entah dia sadar atau tidak—mendorong saya untuk menulis. Pernah suatu waktu saat masih kuliah, saya lama tidak menulis dan kurang lebih dia berkata begini, nulis lagi lah, noy. Sejak saat itu kata-kata tersebut selalu terngiang di telinga saya dan menjadi penguat ketika hati saya lemah di jalan pena ini.

Nah, sudah.

Henny

Advertisements

2 thoughts on “Wiwit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s