Ramadan Dalam Ingatan Sepanjang Dua Puluh Tahun

Rasanya tidak afdol jika tidak bercerita tentang Ramadan di bulan Ramadan seperti sekarang ini. Itulah mengapa saya memanggil memori dua puluh tahun ke belakang demi mencari sesuatu yang bisa saya ceritakan di sini. Sebenarnya saya sendiri kaget ketika berhitung dan mendapati angka cantik dua puluh ini sebab saya pikir angka yang akan saya peroleh adalah lebih dari bilangan tersebut. Ternyata saya masih cukup muda, kok. Ha! Biarlah angka-angka terus bertambah, tetapi semangat muda harus tetap dalam jiwa, kan?

Jadi begini, saya coba menyelidiki hari-hari Ramadan yang saya lalui sejak pertama kali menjalani puasa sampai detik ini. Ternyata tahun pertama puasa Ramadan saya dimulai sejak dua puluh tahun silam, ketika saya berada di bangku kelas satu sekolah dasar, kalau tidak salah itu berarti Ramadan 1428 H. Setahun sebelumnya, yang artinya saat saya berada di TK, orang tua sudah membiasakan diri saya untuk puasa. Bukan puasa penuh, tetapi puasa bedug. Itu lho yang kalau terdengar bedug dhuhur maka diberi kesempatan buka puasa sampai pukul satu siang. Setelahnya lanjut puasa lagi sampai maghrib. Maklum, namanya juga latihan puasa.

Saya ingat betul, pada tahun pertama puasa Ramadan itu puasa saya bolong dua hari karena demam. Mungkin tubuh saya kaget sebab sebelumnya tidak pernah mengalami jarak jam makan yang panjang. Namun saya lupa, mungkin tepatnya tidak tahu, untuk menggantinya di hari lain di luar bulan Ramadan sampai akhirnya bertemu Ramadan lagi di tahun berikutnya. Lalu ibu menenangkan saya bahwa hal itu tidak apa-apa sebab saya belum mencapai usia akil baligh waktu itu. Katanya saat itu, puasa belum menjadi kewajiban bagi saya dan saya lega mendengar penjelasan tersebut.

Selama lima tahun berikutnya, kesibukan-kesibukan Ramadan yang mampu saya ingat adalah mengisi buku kegiatan Ramadan yang berisi sejumlah tabel ibadah seperti salat lima waktu, salat tarawih serta amalan sunnah lainnya lengkap dengan kolom tanda tangan imam salat. Hampir setiap hari, teman-teman merubung imam usai salat tarawih untuk mengisi kolom tanda tangan tersebut. Namun, hal itu tidak berlaku bagi saya. Secara curang saya biasa merapel minta tanda tangan pada imam di rumahnya karena dia adalah bapak saya. Ha!

Kemudian ada pula kegiatan pondok Ramadan di sekolah, tapi saya lupa ini terjadi pada tahun ke-berapa. Namun yang jelas, saat itu adalah pengalaman pertama dan terakhir saya mengikuti salat tarawih dengan gerakan secepat kilat, menginap di sekolah bersama teman-teman, dan—sesuai dugaan—dipenuhi oleh keributan, beberapa oknum murid menakut-nakuti murid yang lain dengan membuat hantu jadi-jadian tapi sepertinya tidak ada yang terpengaruh dan takut. Cuma, ya itu tadi, ribut.

Satu lagi yang tidak saya lupakan adalah tadarus ba’da tarawih. Inilah kegiatan paling menyenangkan yang mampu saya ingat selama Ramadan pada masa kanak-kanak. Saya bersama tetangga, yang seumuran maupun yang ibu-ibu, membaca al-Quran bergantian dan saling memberi koreksi jika ada salah baca tajwid. Masih ditambah lagi suplai takjil dari para ibu-ibu se-RT yang datang bergiliran. Pernah juga suatu malam listrik padam, tetapi kami tetap melanjutkan tadarus dengan diterangi cahaya lampu teplok. Serunya lagi, selalu ada saja yang konyol salah baca huruf, balapan menjadi pembaca berikutnya, atau curang dengan tidak lagi menyimak bacaan setelah mendapat giliran membaca.

Selama tiga tahun berikutnya lagi, saya sudah tidak menemui buku laporan Ramadan dan kegiatan pondok Ramadan berlangsung sangat standar. Tiga hari ke sekolah dengan mengenakan busana muslim dan mengikuti beberapa kelas agama yang saya sudah lupa pelajaran apa yang diajarkan waktu itu. Meski demikian, suasana Ramadan tetap berkesan dengan kegiatan tadarus malam hari di mushola dekat rumah seperti Ramadan-Ramadan sebelumnya.

Selama tiga tahun berikutnya lagi, acara Ramadan di sekolah cukup intensif. Selama seminggu penuh, sekolah mengadakan kegiatan pondok Ramadan dengan rangkaian acara keagamaan. Saya agak lupa, sepertinya dari pagi sampai sore, saya dan teman-teman ada di sekolah. Sejauh yang mampu saya ingat, kami mendapat tugas hafalan Quran dan dzikir pagi-petang. Dan mungkin juga ada satu malam yang menginap sehingga kami pun mengikuti salat tahajud, serta buka dan sahur bersama.

Pada masa tiga tahun ini, saya tidak bisa lagi ikut tadarus malam seperti hari-hari Ramadan sebelumnya karena secara resmi saya jadi anak kos. Jarak rumah dengan sekolah memang jauh dan saya belum mendapat ijin dari bapak untuk mengendarai kendaraan sendiri maka pilihan terbaik adalah ngekos di tempat yang jaraknya dari sekolah bisa ditempuh dalam waktu lima menit jalan kaki.

Lalu tibalah masa-masa Ramadan di kampus. Bisa dibilang inilah Ramadan paling produktif sepanjang masa bagi saya. Memasuki dunia kampus pada tahun 2009, saya dikenalkan pada tradisi berburu takjil gratis di Masjid Kampus UGM. Bersama seorang senior yang saya kenal di tempat kos, saya ke sana beberapa kali. Demikian pula pada malam harinya, kami pun berangkat salat tarawih ke sana, bacaan imam tarawihnya merdu, salat tarawihnya tidak terburu-buru, penceramahnya keren, dan ruangnya lapang ditambah bonus angin sepoi-sepoi. Kami biasa jalan kaki dari kos ke Masjid Kampus. Saat itu kami cukup menyeberang semacam pekarangan yang kini sudah jadi embung di dekat lembah UGM.

Selepas tahun 2009 itu, setiap Ramadan yang saya lalui selalu diisi dengan seabrek kegiatan baik sebagai panitia kegiatan Ramadan maupun sebagai diri sendiri. Sampai tahun-tahun terakhir saya di Jogja, antara 2014-2016, saya masih dikelilingi jiwa-jiwa mahasiswa—meskipun saya sempat pulang kampung pada pertengahannya—yang selalu semangat menyambut perubahan. Jadilah saya pun tersulut semangat kawan-kawan yang selalu antusias mengerjakan amalan ibadah baik di rumah, di masjid, dan di manapun mereka berada.

Dan tahun 2017 ini, akhirnya saya benar-benar kembali ke rumah. Jauh dari hingar bingar kota, jauh dari Masjid Kampus, Masjid Nurul Ashri, dan Masjid Jogokaryan, jauh dari teman-teman, jauh dari semuanya. Setelah sekian lama absen dari kegiatan tadarus malam, akhirnya bulan Ramadan kali ini saya hadir kembali. Banyak sekali perubahan yang saya dapati. Teman sebaya sudah tidak sebanyak dulu dan kami terbagi dalam dua kubu.

Entah bagaimana saya akhirnya berada di kubu ibu-ibu yang bacaan Qurannya masih terbata-bata, ada yang sudah cukup lancar, sih. Tapi kadang ini benar-benar menguji kesabaran. Mau didiamkan, kok miris di hati. Saat diluruskan, seringkali si ibu tidak dengar karena suara saya kalah dengan suara speaker dari kubu tadarus sebelah. Kalaupun si ibu dengar suara saya, belum tentu kemudian bacaannya jadi baik dan benar. Bisa dibayangkan sendiri bagaimana lidah orang-orang tua Jawa saat mengucap ‘ain jadi ngain atau ha jadi ka, plus pengetahuan yang tajwid yang terbatas. Jadi ya, gitu.

Kurang lebih demikianlah aktivitas saya dari satu Ramadan ke Ramadan berikutnya selama dua puluh tahun belakangan. Sekarang, Ramadan 1438 sudah mencapai separuh perjalanan. Banyak target saya yang belum tercapai. Menyedihkan memang. Dan saya memang sedih.

Eh, yha! kok begini ending-nya? Apapun, berkah Ramadan semoga tetap melingkupi kita.

Henny

Advertisements

5 thoughts on “Ramadan Dalam Ingatan Sepanjang Dua Puluh Tahun

  1. Tisya Meilina A says:

    Assalamu’alaikum…

    Mari mampir ke blog saya : coretanhatiukhti.blogspot.com
    Follow IG : tsymlna_

    Yang akun IG ga sering online nya 😀
    Tapi ntar di follback / spamlike

    See u

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s