6 Penyesalan Dalam Hidup Dan Hal Yang Membuat Saya Berdamai Dengannya

Saya memiliki banyak penyesalan. Ada yang skalanya kecil, ada pula yang besar. Aslinya saya ini orang bodoh, hanya saja agak rajin sehingga bisa mengerjakan soal-soal ala pelajaran sekolah dengan baik dan jadilah rapot saya tidak pernah kebakaran. Namun rupanya di dunia ini ada kebodohan jenis lain yang tidak bisa disembuhkan dengan nilai rapot yang bagus.

Pertama, saya pernah merutuki diri sendiri karena kembali ke Jogja. Sekitar enam bulan setelah lulus kuliah, saya memang kembali ke kampung halaman. Menyelesaikan sebuah novel yang tidak saya sangka bisa selesai dalam waktu dua bulan. Mencoba jadi guru Bahasa Arab di sebuah SD tapi hanya bertahan selama satu bulan. Dan menulis artikel rewrite di beberapa portal milik seorang kawan, pasangan suami istri yang relationship goals banget.

Satu setengah tahun kemudian, itulah saat saya kembali ke Jogja. Saat itu saya pengangguran sehingga mudah saja menerima tawaran bekerja di sebuah toko rajut, toh saya suka hal-hal fancy apalagi yang melibatkan benang, jarum, dan alat-alat jahit lainnya. Namun saya harus menelan pil pahit karena kenyataan tidak sesuai angan yang indah-indah. Sungguh tak mudah menjadi pedagang. Salut untuk semua pedagang di dunia, termasuk pedagang online!

Kemudian di pertengahan jalan, kawan yang dulu memberi saya pekerjaan sebagai penulis artikel di portal-portalnya menawari kerja sama baru dengan upah yang lebih menggiurkan. Namun apa daya, saya tidak bisa menerimanya. Semakin hari, saya semakin tidak enjoy menjalani hidup. Ditambah lagi sudah tak banyak teman-teman karib yang ada di kota Jogja.

Tetapi kemudian saya berpikir ulang. Andai saya tidak kembali ke Jogja, saya mungkin tidak akan bertemu dengan Lifegoals, sebuah pelatihan keterampilan berdurasi tiga bulan dengan enam kali pertemuan yang bertema kepenulisan era digital sekaligus hal-hal kekinian seperti fotografi produk sampai usaha online. Ini seakan oase di tengah gurun. Saya bertemu teman-teman baru di tempat-tempat baru dan mendapatkan ilmu-ilmu baru. Ini pula yang kemudian membuat saya mantap menekuni dunia kepenulisan. Ya, dengan bangga kini saya menjalani hari-hari sebagai content writer di Trivia dan Rula, portalnya ZettaMedia.

Penyesalan kedua, bekerja sebagai penulis rewrite. Padahal sebelumnya saya bilang menyesal tak bisa menerima tawaran kerja di portal kawan saya, ironis. Saya selalu merasa bersalah copy-paste tulisan orang lain lalu ubah letak kalimat, letak paragraf, dan ganti diksi, meskipun saya tahu banyak orang juga melakukan hal yang sama. Entah ada berapa artikel di internet yang isinya sama, tak terhitung. Tapi tetap saja rasanya seperti plagiat.

Tetapi kemudian saya berpikir ulang. Andai dulu saya tidak menjadi penulis rewrite saya tidak bisa menyalurkan kegemaran saya berjam-jam di depan layar komputer untuk melihat-lihat gambar indah. Saya juga tidak akan banyak berlatih merangkai kata, mengolah diksi, sampai posting banyak artikel dalam sehari. Lagipula di akhir-akhir masa kerja sebagai penulis rewrite, saya banyak mengalami perubahan, kok, menjadi semacam pengumpul informasi dan menyajikannya dalam bentuk yang berbeda. Saat itu saya lebih bisa menulis sesuai karakter tulisan saya sendiri.

Penyesalan ketiga, sekolah di SMA. Batin saya sering menghujat, mengapa dulu saya tidak sekolah di SMK saja? Mengapa saya telat menyadari passion saya yang suka mencipta dan membuat prakarya? Mengapa saya tidak mengikuti jejak ibu saja dan ambil kursus menjahit? Apa, sih, yang saya kerjakan bertahun-tahun ini? Tersesat tanpa tahu arah?

Tetapi saya kembali berpikir ulang. Andai saya tidak sekolah di SMA, mungkin saya tidak akan kuliah di UGM, terlintas saja tidak. Tempat ini memberikan saya banyak pengalaman. Mulai dari bangun pagi dan jalan kaki ke kampus di semester awal sampai dikejar-kejar deadline skripsi di semester delapan dan sembilan. Mulai dari sok-sokan jadi aktivis di kampus sampai kenalan dengan rekan-rekan penulis.

Penyesalan keempat, kuliah di UGM. Ironi memang. Saya bangga sekaligus sedih menyandang gelar alumni UGM. Satu sisi, kampus ini memang benar-benar luar biasa. Sisi lain, saya membawa beban mental, rasanya seperti mempermalukan almamater karena tidak berujung pada pekerjaan kantoran yang menurut anggapan kebanyakan orang adalah pekerjaan paling baik sedunia. Begitulah, saya, kan, kerja di balik layar. Layar komputer, maksudnya. Dan remote working, benar-benar pekerjaan yang absurd bagi para tetangga.

Tetapi kemudian saya berpikir ulang lagi. Andai saya tidak kuliah di UGM, saya tidak akan bertemu dengan keluarga guci, sekelompok mahasiswi Sastra Arab yang cukup shalihah. Dan kemungkinan besar juga tidak bergabung dengan rekan-rekan penulis Forum Lingkar Pena, sebab tidak melihat pengumuman rekrutmen keanggotaan di papan mading kampus.

Penyesalan kelima, bertemu dengan keluarga guci. Ironi lagi. Mereka sekarang kerap membuat saya kecewa. Semakin lama, kami justru terkotak-kotak. Kelompok di dalam kelompok, saling bergunjing di belakang, termasuk saya juga. Mungkin mereka juga kecewa dengan saya. Kemudian perpisahan usai wisuda tak bisa dihindari. Kini kami benar-benar jauh. Sibuk dengan urusan masing-masing dan jarang sekali bertukar kabar meskipun ada aplikasi Whatsapp, Line, Twitter, dan Instagram.

Tetapi lagi-lagi saya berpikir ulang. Andai saya tidak berteman dengan keluarga guci, mungkin saya tidak akan pernah tertawa. Sejak lama saya memang kehilangan selera untuk sekadar tersenyum. Saya suka menyendiri dan selalu murung setelah ditinggal pergi sepupu, kakak, dan ibu. Keluarga guci adalah orang-orang yang mengembalikan senyum saya. Tanpa mereka saya tidak akan pernah mengalami petualangan seru ala mahasiswa, yang peduli nilai IPK. Bersama mereka, adalah hari-hari paling bahagia dalam hidup saya, paling bahagia kedua setelah masa-masa SD.

Penyesalan keenam, sok sibuk di kampus. Entah apa yang merasuki saya saat itu. Mungkin saya haus akan pengakuan. Mungkin saya takut dibilang mahasiswa kupu-kupu, alias kuliah-pulang-kuliah-pulang. Saya bahkan hanya pulang saat libur semester. Mengapa dulu saya tidak banyak menghabiskan waktu untuk lebih banyak membantu bapak mengurus rumah atau bermain bersama anak-anaknya kakak? Mengapa dulu saya tidak kerja paruh waktu atau magang saja?

Tapi setelah dipikir ulang, saya pernah kerja part time, kok. Les privat di rumah gedongan, bertemu si adik super menggemaskan yang ngambekan dan suka memanggil saya dengan suara imutnya, “Haeni!”

Andai dulu saya tidak mengikuti isu politik kampus, mungkin saya sekarang menjadi orang yang apatis terhadap masalah politik dalam negeri apa lagi dunia. Mungkin hati saya akan membatu ketika mendengar kabar-kabar miris umat muslim di Palestina dan Suriah.

Pada akhirnya, saya menerima dengan lapang dada setiap hal yang pernah terjadi. Segala sakit, pedih, perih dalam hidup ternyata punya sisi lain yang mau tidak mau harus saya syukuri. Memang benar kata orang bijak, kebahagiaan itu sepaket dengan kesedihan. Kita tidak bisa selamanya sedih, sama halnya kita tidak bisa selamanya bahagia. Saat timbul benih-benih penyesalan, saya tidak memintamu untuk menghapusnya. Tetapi kumohon berdamailah dengannya dengan menilik sisi lain yang selama ini mungkin kamu abaikan. Dengan demikian, semoga kamu, kita bertumbuh menjadi orang yang lebih baik dari hari kemarin.

Dan sebenarnya masih ada satu lagi penyesalan dalam diri saya. Saya menyesal tidak menyapa kamu di sini bulan lalu. Menghilangkan kesempatan bermaaf-maafan di hari lebaran. Oleh karenanya, selagi umur masih dikandung badan, saya mohon maaf lahir batin. Ya, saya memang selalu terlambat, tetapi tetap saya ucapkan, “Taqabbalallahu minna wa minkum!”

 

Henny

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s