Tentang Kucing dan Karma

Dulu sekali, saya pernah bertemu anak kucing yang imut dan lucu di selokan depan rumah. Selokannya kecil dan jarang dialiri air. Mari lupakan selokannya, dan fokus pada kucingnya. Sebenarnya saya tidak terlalu ingat bagaimana rupanya, tetapi saya yakin kucing itu pasti sangat menggemaskan sampai-sampai saya berniat untuk memeliharanya. Kalau tidak salah ingat juga, saya bahkan sempat mengelus bulu-bulu lembutnya. Satu hal yang saya yakini, itu adalah kucing belang dengan warna kuning kunyit dan putih, yang setelah browsing sana-sini ternyata nama kerennya adalah ginger cat.

Kemudian ibu datang—sepertinya—dari arah belakang saya. Mungkin saat itu ibu baru pulang dari belanja di tukang sayur yang sering lewat pagi-pagi. Lalu katanya, saya tidak boleh membawa kucing itu pulang. Saat itu saya tidak mendapatkan kepercayaannya sebagai pemelihara kucing yang baik. Memangnya saya bisa memandikannya? Bagaimana jika si kucing kutuan? Terus, mau dikasih makan apa si kucing nanti? Belum lagi bulu-bulunya akan bertebaran di mana-mana. Singkatnya, kurang lebih seperti orang tua ketika mempertimbangkan calon menantu.

Pada akhirnya, saya tidak jadi mengadopsi si kucing. Sejak saat itu, saya juga tidak pernah lagi dekat-dekat dengan kucing. Saya memang tidak lari terbirit-birit ketika kucing muncul di depan saya, tetapi saya tidak berani memegangnya barang sedikit pun. Setiap kali hendak memegang atau mengangkat tubuhnya, saya takut jika kulit si kucing sobek. Terdengar aneh ya? Menurut saya, kulit kucing terlalu lembut sampai mendekati level rapuh. Padahal tidak, kan? Tapi tetap saja ketakutan itu menempel terus pada saya hingga saat ini.

Selama ini, saya baik-baik saja hidup tanpa kucing. Namun semua berubah, ketika negara kucing menyerang. Maksud saya, ada banyak orang di media sosial yang membagikan gambar keseharian si kucing peliharaan mereka yang super duper menggemaskan sampai meme kucing yang selalu berhasil mengocok perut. Para kucing ini menjadi sumber tulisan yang menggiurkan. Terlebih lagi, saya keracunan film dokumeter berjudul Kedi keluaran negara Turki!

Kecintaan saya pada kucing yang pernah tumbuh bertahun-tahun silam mau tak mau kini bersemi kembali. Masalahnya, saya tetap tidak berani menyentuh kucing. Bayangkan, suka kucing tapi tidak bisa dekat-dekat dengannya. Alamak, sakitnya tuh di sini! Sudah macam pasangan LDR saja!

Akhir-akhir ini saya sering membayangkan bicara dengan kucing, mengusap bulu-bulunya, memeluk atau menggendongnya, memotret setiap ekspresinya, dan mendapat sambutan selamat datang setiap kali saya pulang. Bayangan sekadar bayangan. Saya tetap belum punya keberanian untuk memelihara kucing.

Entah karma atau tidak, saya termasuk orang yang meyakini bahwa segala perbuatan baik maupun buruk akan mendapatkan balasannya. Mungkin saja, saat ini saya dihukum karena dulu tidak jadi mengadopsi si kucing di selokan depan rumah. Jika kesempatan itu datang lagi kepada saya, mungkin akan saya pertimbangkan untuk membawa si kucing pulang ke rumah, apapun resikonya.

Henny

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s