Ramadan Dalam Ingatan Sepanjang Dua Puluh Tahun

Rasanya tidak afdol jika tidak bercerita tentang Ramadan di bulan Ramadan seperti sekarang ini. Itulah mengapa saya memanggil memori dua puluh tahun ke belakang demi mencari sesuatu yang bisa saya ceritakan di sini. Sebenarnya saya sendiri kaget ketika berhitung dan mendapati angka cantik dua puluh ini sebab saya pikir angka yang akan saya peroleh adalah lebih dari bilangan tersebut. Ternyata saya masih cukup muda, kok. Ha! Biarlah angka-angka terus bertambah, tetapi semangat muda harus tetap dalam jiwa, kan? Continue reading

Wiwit

Lama tidak menulis tentang girls squad. Jadi begini, saat kuliah dulu saya punya semacam geng yang anggotanya mencapai belasan perempuan dan setelah melalui kurun waktu tertentu akhirnya kami dipanggil Keluarga Guci. Ceritanya agak rumit buat diceritakan di sini. Kalau mau tahu mungkin saya bisa cerita saat nanti kita ketemuan langsung. Nah, kapan? Continue reading

LifeGoals: Hari Kembalinya Ruh Seorang Penulis

Hari itu hati saya kalut. Ada sebuah cita yang tak kunjung tercapai. Padahal jiwa dan raga sudah lelah. Ditambah lagi saya tidak punya pendukung setia. Maka mudah sekali hati saya goyah dalam memperjuangkannya.

Hari itu adalah rangkaian hari di bulan Oktober. Sebuah pintu telah tertutup bagi saya. Pintu itu memiliki ukiran yang indah di seluruh permukaannya. Di balik pintu itu terdapat sebuah negeri tempat kelahiran Harry Potter.

Hari itu adalah hari Jumat. Sebuah pintu yang lain terbuka bagi saya. Meskipun hanya berupa celah kecil, saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Saya ketuk pelan-pelan. Barulah pada keesokan harinya, celah pintu itu terbuka lebar. Continue reading

Kebetulan yang Terencana

Ada yang terpendam dalam pikiran dan mendesak ingin keluar. Ini sisa-sisa kenangan Ramadhan tahun ini, 1437 H. Selagi satu bulan Ramadhan kemarin masih terbayang jelas dalam benak. Sebelum sebelas bulan ke depan menggerus ingatan. Ada satu kisah yang belum kuceritakan. Continue reading

Eko Nurdianto

Di Antara 3 Masjid

Ini bukan tentang 3 masjid yang selalu dirindukan umat untuk sujud di sana. Mereka bukan masjid-masjid di tanah impian. Bukan Masjidil Haram, bukan Masjid Nabawi, juga bukan Masjidil Aqsha. Masjid-masjid ini sangat jauh letaknya dari masjid di Makkah, Madinah, dan Palestina itu. Namun besar kemungkinan, 3 masjid yang ini senantiasa dirindukan oleh mereka yang pernah tinggal di Yogyakarta. Aku salah satunya. Continue reading

english.vietnamnet.vn

Kesuma Jatuh Tidak Jauh dari Tangkainya

Sebelum jauh bercerita, baiknya aku jelaskan dulu kepadamu bahwa kesuma dan tangkai yang kumaksud di sini adalah kesuma a.k.a. bunga dan tangkainya pohon jeruk, jeruk bali tepatnya. Sekedar wawasan, jeruk bali ini kalau di negerinya Ratu Elizabeth sana disebut dengan pomelo, tapi sayang, Sang Ratu agaknya kesulitan jika ingin memakan buah yang satu ini. Bagaimana tidak, pomelo ini memang buah khas di negara-negara Asia Tenggara, seperti negara kita ini. Indonesia! Nah, jika kau sedang ada waktu luang dan berlibur ke Magetan, maka mudah saja kau temui buah yang manis itu. Bisa pula kau beli dan bawa pulang untuk oleh-oleh. Oke, mari kita mulai kisah ini. Continue reading

Antara Aku, Ibu, dan Benang

Ibuku adalah seorang penjahit. Ruang kerjanya ada di bagian paling depan rumah kami, berbagi dengan ruang tamu. Di ruang kerja ibu terdapat sebuah mesin jahit Butterfly. Kau tahu? Itu adalah mesin jahit yang punya dua roda untuk menggerakkannya. Satu di bagian kepala, ukurannya kecil. Satu lagi di bagian kaki, ukurannya seperti roda sepeda. Tanganku sering gatal ingin memainkan roda yang di bagian kepala. Ibu akan buru-buru menghentikanku jika tanganku mulai mendekatinya.

Continue reading

Tersesat Bersama Alice di Negeri Ajaib

Bertemu kelinci putih berbaju rompi yang memegang jam weker di tangan kanan. Masuk ke dalam lubang kelinci yang kedalamannya hampir mencapai pusat bumi. Berhadapan dengan banyak pintu keluar, tetapi hanya terdapat satu kunci. Mencoba kunci itu pada semua pintu, ternyata yang cocok adalah pintu yang paling tidak mungkin dilalui. Terlalu kecil. Meminum cairan pengecil. Kunci tertinggal di atas meja. Terlalu tinggi untuk digapai. Memakan roti pembesar. Mengambil kunci lagi. Meminum cairan pengecil lagi. Semua dilakukan agar dapat melewati pintu keluar. Kau tahu ke mana pintu itu menuju?

Continue reading

Tidak Suka Cerita Cinderella

Entah ini jenis iri dan dengki nomor berapa. Tetapi yang aku tahu, sama seperti jenis-jenis iri dan dengki yang lain, ia dapat membakar amalan-amalan baik yang telah kita kumpulkan dengan susah payah. Lantas mengapa aku tetap memelihara rasa iri dan dengki di dalam hati? Tunggu! Siapa bilang rasa ini disebut iri dan dengki? Mari kita sebut saja rasa ini dengan cemburu. Kalau kau mau, kau juga bisa menyebutnya sebagai patah hati.

Continue reading