Mama Cake. Perjalanan ke Bandung Mencari Sekotak Brownies dengan Beragam Rasa Kehidupan

Ini film antara komedi, romantis, horor, dan religi, kumpul jadi satu selama kurang lebih satu setengah jam. Aktor dan aktris tanah air, baik senior maupun junior, juga kumpul jadi satu di sini. Tokoh utamanya, sih, ada tiga—Raka, Willi, Rio yang diperankan oleh Omesh, Boy William, dan Arie Dagienkz—tapi cameo-nya banyak, mulai dari cewek cantik di butik, pelayan di toko brownies, penjaga warnet, bos geng motor berikut mantan pacar dan anggotanya, perawat, sopir taksi, sampai pedagang kaki lima di dekat Gedung Sate. Satu lagi yang membuat film ini jadi tambah keren adalah hampir setiap detik dalam film ini sarat akan muatan pelajaran hidup. Continue reading

Proposal Daisakusen. Cinta di Masa Lalu, Sekarang, dan Nanti

Prodai, drama I love the most! Selain genre fantasi, saya termasuk tipe orang yang suka film melo-drama. Proposal Daisakusen a.k.a. Prodai ini adalah drama Jepang, jadi sekalipun melo-drama di dalamnya kerap dibumbui tingkah konyol para pemainnya. Prodai ini film jadul, tahun 2007, namun gelar the favorit drama movie tetap saya serahkan pada film ini. Awalnya saya kira saya akan memilih drama Korea, tetapi setelah dipikir ulang, tidak tidak. Saya tetap lebih suka drama ini daripada drama yang lain. Sensasi menonton drama ini seperti sedang nostalgia. Continue reading

Hello Ghost. Halo Keluarga yang Telah Tiada

Sama seperti film action, saya juga tidak terlalu berminat pada film horor. Itu karena saya pasti akan terbayang-bayang sosok hantu, monster, atau makhluk jadi-jadian lainnya setelah menonton film genre ini. Namun ada satu jenis film yang hampir pasti membuat penontonnya baper tidak peduli film horor sekalipun. Sebab jenis film ini tidak benar-benar horor, selalu ada selipan kata romantis atau komedi di sampingnya. Maksud saya, horor komedi, horor romantis, komedi romantis, dan seterusnya. Itulah film Korea! Tengok saja drama Korea yang baru-baru ini selesai tayang—tapi saya kurang tertarik untuk ikutan nonton—yaitu Goblin. Kita sama tahu bahwa Goblin yang jadi musuhnya Spiderman itu mengerikan fisiknya, beda dengan Goblin-nya Korea, cowok berponi yang rapih dan ganteng modis pula. Pun pada film Korea yang lain seperti Gu Family Book atau apa misalnya, kamu tahu yang lain? Continue reading

Aksi Kebut-Kebutan Fast and Furious

Oh, tidak! Baru hari keempat movie challenge dan saya sudah merasa kehabisan energi. Sebulan yang lalu, saya mendapatkan sebuah gambar berisi tiga puluh tema tentang film dari Mbak Prima—mbak editor yang super duper kece.

Sempat absen sehari, tetapi saya putuskan untuk tetap mengambil tema ketiga untuk hari keempat ini. Film action. Saya tidak terlalu menyukai genre ini sebenarnya. Namun jika ditanya film aksi apa yang saya suka, jawabannya adalah Fast and Furious, mulai dari film pertamanya sampai terakhir filmnya yang ketujuh. Kabarnya, film ini akan terus berlanjut hingga sepuluh jilid! Continue reading

The Book of Life. Sebuah Cerita Rakyat dari Meksiko

Saya tahu film ini setelah mengerjakan tugas Lifegoals, workshop kepenulisan dari ZettaMedia. Minggu lalu, saya mendapati file film ini ada di folder netbook salah seorang teman. Tanpa pikir panjang saya meminta ijin untuk copy file-nya karena sebenarnya saya belum menonton film ini meskipun sudah pernah menulis tentangnya. Saya hanya tahu sepenggal-sepenggal dari berbagai ulasan di media. Akhirnya, saya berhasil menonton film ini beberapa hari yang lalu dan akhirnya saya mengerti jalan ceritanya! Continue reading

99 Cahaya di Langit Eropa The Movie. 3 Jam Penuh Menelusuri Jejak Kejayaan Peradaban Islam di Benua Eropa

Bagi yang mengikuti beberapa postingan saya di sini, mungkin bisa dengan mudah menebak film apa yang menjadi favorit saya. Apalagi kalau bukan Alice in Wonderland, ha! Alasan konyolnya karena Alice—yang diperankan oleh Mia Wasikowska—digambarkan memiliki lingkar hitam di matanya, seperti saya. Tetapi tentu saja Mia Wasikowska jauh lebih cantik dari saya, lah! Alasan filosofisnya karena film ini menyimpan dua pesan magis bagi saya. Pertama, saya menemukan kunci jawaban atas pertanyaan paling sulit yang pernah saya hadapi.

“Untuk apa saya hidup di dunia ini?”

Kuncinya ada tiga, saya harus tahu dari mana saya berasal, sedang di mana saya berada, dan harus ke mana saya pergi. Kedua, film ini memberikan petunjuk arah pada saya yang sempat tersesat dalam perjalanan ke tempat tujuan. Petunjuknya satu, jadilah  berani a.k.a. be yourself , eh nyambung nggak sih?! Ah, sudahlah, begitu pokoknya.

Nah, berhubung saya sudah pernah menuliskan tentang Alice in Wonderland, maka saya memutuskan untuk membahas film favorit saya yang lain. Setelah mengobrak-abrik folder  film di dalam hardisk, akhirnya pilihan jatuh pada film anak negeri, 99 Cahaya di Langit Eropa. Continue reading

Menyusuli Alice yang Menembus Dinding Kaca

Bagi saya, selain menenggelamkan diri dalam buku, masuk ke dalam dunia film juga merupakan aktivitas yang ampuh untuk memperbaiki suasana hati. Pertama, saya akan benar-benar keluar dari dunia yang sekarang sedang saya huni dan alami untuk kemudian menjelajahi dunia lain yang ada di alam imajiner. Kedua, ada pesan-pesan moral yang bisa saya petik kapanpun, sepanjang alur cerita. Ketiga, tanpa diduga ide bisa tiba-tiba datang menghampiri saya di tengah-tengah keasyikan menikmati adegan demi adegan.

Continue reading